KAJIAN RAMADHAN (6) : ORANG-ORANG YANG DIBERI NIKMAT


Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

Screenshot_2018-05-22-08-54-37-361_com.opera.mini.native

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Q.S. al-Fatihah : 7)

Tafsir Alquran dengan Alquran (Alquran bil Qur’an) merupakan salah satu metode penafsiran, dimana Alquran dijadikan sumber rujukan dalam menafsirkan Alquran itu sendiri. Metode penafsiran yang seperti ini sudah ada semenjak zaman nabi Muhammad Saw, para imam maksum as dan sahabat ra, serta terus berlanjut sampai hari ini. Sekalipun metode ini belum memiliki nama khusus sebagai sebuah metode penafsiran pada saat itu.

Namun begitu, metode penafsiran ini kemudian menjadi sebuah model yang sangat populer dan dikenal semenjak Allamah Thabathaba’i memilih metode ini sebagai acuan di dalam kitabnya Tafsir Al-Mizan.

Sebenarnya banyak yang bisa menjadi topik pembahasan dalam kajian tafsir Alquran dengan Alquran, tapi yang ingin kita sebutkan pada tulisan singkat kali ini adalah salah satu varian dari tafsir Alquran dengan Alquran.

Mengingat bahwa Tafsir Alquran dengan Alquran memiliki banyak variasi, maka pada kesempatan ini kami akan menyebutkan salah satunya saja yaitu, “menentukan obyek (mishdaq) atau contoh kongkrit suatu ayat dengan menggunakan ayat lainnya.”

Ali Ridhai Ishfahani berkata di dalam kitabnya, “Terkadang ada ayat Alquran yang berbicara secara umum dan tidak ada penjelasan tentang contoh kongkritnya, akan tetapi di dalam ayat lainnya objek atau contoh tadi dapat ditemukan. Dengan menggabungkan dua bentuk ayat ini maka akan menjadi jelaslah objek atau contoh konkrit ayat bentuk pertama.” (Lihat Ali Ridho Isfahani, Dars Name e Rawesyha wa Gerayesyha e Tafsiri, hal. 92, Markaz Jahani Ulum e islami, Qum, 1424 H).

Sebagai contoh, kita bisa melihat ayat ke tujuh dari surat Al-Fatihah.

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Q.S. al-Fatihah : 7)

Di dalam ayat ini disebutkan “jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya“, akan tetapi tidak dijelaskan siapa orang yang dimaksudkan pada ayat tersebut? Padahal untuk meneladani mereka kita membutuhkan contoh nyata dari mereka yang disebutkan di dalam ayat tadi.

Nah, dengan merujuk pada ayat lainnya, atau dengan menggunakan metode tafsir Alquran dengan Alquran maka objek dan contoh kongkrit dari ayat ini akan menjadi nyata, yaitu dengan merujuk pada ayat lainnya.

Di dalam ayat lain tepatnya pada surat An-Nisa, objek dari ayat ini disebutkan secara gamblang,

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا

Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (Q.S. an-Nisa : 69)

Dengan menggunakan metode tafsir Alquran dengan Alquran ini maka objek atau contoh nyata dari ayat ketujuh dari surah Al-Fatihah tadi menjadi nyata bagi kita. Yakni yang dimaksud dengan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah SWT pada surat Al-Fatihah :7 adalah para nabi, shiddiqiin, para syahid dan orang-orang shaleh sebagimana disebutkan Q.S. an-Nisa : 69.

Dengan jelasnya objek serta pribadi-pribadi dari ayat tadi maka akan jelaslah permintaan yang kita ulang-ulang di dalam shalat sewaktu membaca surat Al-Fatihah. Dimana kita selalu meminta untuk ditnjuki jalan yang lurus, lalu kemudian jalan yang lurus tadi adalah jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah SWT dan dengan bantuan ayat Alquran yang lain kita mengetahui bahwa mereka adalah, para nabi, shiddiqiin, para syahid dan orang-orang shaleh. Semoga kita tergabung bersama mereka di dunia dan di akhirat. Wallahu a’lam. (CR14)

%d blogger menyukai ini: