KAJIAN RAMADHAN (5) : ILMU ALLAH PERSPEKTIF ALQURAN


Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

Screenshot_2018-05-22-07-13-27-661_com.opera.mini.native

Sudah tidak dapat diragukan lagi bahwa keyakinan tentang ilmu Allah SWT yang bersifat azali merupakan akidah yang dianut oleh setiap Muslim sejati. Ini berarti bahwa Allah SWT mengetahui segala sesuatu beserta dengan detil-detilnya semejak awal, bahkan ketika sesuatu tersebut belum terjadi.

Kata semenjak awal ini pun sebenarnya masih kurang tepat sebab masih mengandung pengertian zaman dan waktu. Sedangkan Allah SWT bebas dari ikatan waktu.

Berangkat dari hal di atas kita akan coba melihat beberapa ayat Alquran yang pada lahiriahnya mengindikasikan bahwa Allah SWT membutuhkan proses-proses atau kejadian-kejadian tertentu sehingga ilmu-Nya terhadap sesuatu setelah terjadinya. Di mana ayat-ayat ini seolah-olah bertentangan dengan keyakinan yang kita sebutkan di atas.

Di sini kami akan kemukakan dua ayat saja sebagai contoh.

Allah SWT berfirman :

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗوَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” (Q.S. Al-Baqarah : 143)

Dan juga firman-Nya :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللّٰهُ بِشَيْءٍ مِّنَ الصَّيْدِ تَنَالُهٗٓ اَيْدِيْكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ اللّٰهُ مَنْ يَّخَافُهٗ بِالْغَيْبِۚ فَمَنِ اعْتَدٰى بَعْدَ ذٰلِكَ فَلَهٗ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Allah pasti akan menguji kamu dengan hewan buruan yang dengan mudah kamu peroleh dengan tangan dan tombakmu agar Allah mengetahui siapa yang takut kepada-Nya, meskipun dia tidak melihat-Nya. Barangsiapa melampaui batas setelah itu, maka dia akan mendapat azab yang pedih.” (Q.S. Al-Maidah : 94)

Dari ayat-ayat di atas terdapat dua kasus yaitu perubahan kiblat dan binatang buruan yang dijadikan standar untuk ilmu Allah SWT terhadap kadar ketaatan seseorang. Padahal sebagai mana kita ketahui Allah SWT dari awal bahkan sebelum terjadinya suatu peristiwa telah mengetahui hal tersebut.

Untuk memahami maksud dari ungkapan “agar Kami mengetahui” atau “agar Allah SWT mengetahui” yang terdapat pada dua ayat di atas atau ayat-ayat lainnya yang serupa, di sini kita akan paparkan apa yang tertuang di dalam Tafsir al-Amtsal tentang penafsiran ayat di atas, yaitu :

Ungkapan (agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul) dan ungkapan-ungkapan sejenisnya bukan ingin menyatakan bahwa sebelumnya Allah SWT tidak mengetahui, kemudian setelah itu Allah SWT mengetahui. Tapi maksud dari ungkapan di atas adalah terealisasinya ilmu Allah SWT._

“Lebih jelas lagi, Allah SWT mengetahui segala peristiwa dan kejadian semenjak awal dan azali, hanya saja semua peristiwa tadi terealisasi secara bertahap di alam nyata. Oleh karena itu peristiwa yang terjadi tidak menambah maupun mempengaruhi ilmu Allah SWT, justru lebih tepatnya bisa dikatakan bahwa kejadian dan peristiwa yang ada merupakan realisasi dari ilmu ilahi. (Nashir Makarim Syirazi, Tafsir al-Amtsal, Jilid 1, hal: 361, Muassasah Bi’tsah, Beirut, 1992).

Demikian penjelasan Tafsir al-Amtsal soal ilmu Allah SWT. Jadi ada dua hal, yaitu ilmu Allah yang azali dan terealisasinya ilmu Allah. Pada dasarnya ilmu Allah adalah azali, hanya saja karena terealisasinya ilmu Allah berhubungan dengan keberadaan manusia tersebut, maka seolah-olah ilmu Allah SWT terkesan memiliki proses dan terikat waktu. Jadi, proses dan waktu itu dilihat dari sudut pandang manusia. Wallahu a’lam. (CR14)

%d blogger menyukai ini: