KAJIAN RAMADHAN (3) : APAKAH NABI MUHAMMAD SAW PERNAH TERSESAT?


Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani.

Screenshot_2018-05-19-22-20-57-307_com.opera.mini.native

Dalam Alquran Allah SWT berfirman,

وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” (Q.S. ad-Dhuha : 7)

Ayat ini seolah tampak bahwa Nabi Saw dalam kurun waktu tertentu berada dalam kesesatan (dhallan) yang kemudian diberi oleh Allah petunjuk sehingga keluar dari kesehatan tersebut. Jika demikian, maka tentu saja kemaksuman yang merupakan syarat untuk menjadi Nabi tidak terpenuhi. Dengan demikian, benarkah Nabi Muhammad Saw pernah tersesat?

Seluruh makhluk baik yang memiliki ruh maupun benda mati memiliki ketergantungan mutlak kepada Allah SWT. Ketergantungan ini meliputi segala-galanya; mulai dari keberadaan, keberlangsungan serta kesinambungan wujudnya bahkan segala hal yang berkaitan dengannya.

Salah satu hal yang berkaitan dengan keberadaan makhluk terkhusus manusia adalah masalah hidayah. Maksudnya manusia di dalam urusan memperoleh hidayah sekalipun tidak pernah terlepas dari peran Allah SWT. Oleh karena itu terhidayahinya seseorang tidaklah bersifat mandiri, tapi merupakan bagian dari hidayah Allah SWT. Allah SWT berfirman:

ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻨَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﻋْﻄَﻰٰ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺧَﻠْﻘَﻪُ ﺛُﻢَّ ﻫَﺪَﻯٰ

Musa berkata: “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (Q.S. Thaha : 50)

Berdasarkan ayat ini dapat dipahami bahwa seluruh makhluk sudah mendapat hidayah dari Allah SWT. Yang berarti bahwa cakupan hidayah ilahi sama dengan ciptaannya atau dalam kata lainnya setiap ciptaan pasti dibarengi dengan hidayah Allah SWT.

Pada ayat lainnya juga disebutkan bahwa yang memperoleh hidayah adalah orang yang diberi hidayah oleh Allah SWT:

مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِيْۚ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang rugi.” (Q.S. Al-A’raf : 178)

Ayat ini menjelaskan bahwa pemilik hidayah adalah Allah SWT. Dan manusia yang terhidayahi melalui pilihannya tidaklah mandiri seutuhnya.

Berangkat dari dua ayat di atas kita akan dapat memahami maksud dari ayat yang menyatakan,

وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.” (Q.S. ad-Dhuha : 7)

Dimana ayat ini sedang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saww tidak memiliki kemandirian dalam hidayah yang dimilikinya. Singkatnya nabi Muhammad Saww sekalipun sebagi makhluk yang paling agung tetap bergantung sepenuhnya kepada sang Khaliq termasuk dalam hal hidayah.

Dari penjelasan ini juga dapat dipahami bahwa kesesatan kemudian terhidayahi yang ada di dalam ayat tadi bukanlah berbicara tentang kesesatan nabi pada suatu kurun waktu tertentu kemudian Allah SWT memberinya petunjuk, sehingga kemaksuman Nabi Muhammad Saww jadi dipertanyakan. Tapi yang ingin disampaikan adalah terhidayahinya Nabi Muhammad Saww bukanlah secara mandiri dan tanpa peran Allah SWT.

Terakhir sebagai catatan perlu diingat bahwa ketidak mandirian manusia dalam segala aspeknya bukan berarti bahwa manusia tidak memiliki pilihan dan ikhtiar sama sekali, tapi yang perlu dipahami adalah pilihan manusia itu sendiri membutuhkan izin dari Allah SWT yang dalam Mazhab Syiah disebut sebagai prinsip al-Amr baina al-Amrain (satu perkara di antara dua perkara). Wallahu a’lam. (CR14)

%d blogger menyukai ini: