KAJIAN RAMADHAN (2) : KEMULIAAN MANUSIA


Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

IMG-20171102-WA0015

Manusia adalah makhluk yang sangat istimewa dan mulia. Predikat ini telah mendapat legitimasi dari Allah SWT, sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya yang berbunyi,

 وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (Q.S. al-Isra’ : 70)

Ayat ini dengan gamblang menyatakan bahwa manusia secara keseluruhan merupakan makhluk mulia tanpa ada pengecualian.

Namun yang menjadi permasalahan kemudian adalah adanya ayat yang mengatakan bahwa tidak semua manusia memiliki kemulian, tapi sebaliknya hanya sebagian orang saja yang mendapatkan hal tersebut. Terdapat ayat-ayat di dalam Alquran yang memuliakan manusia dan menghinakan manusia.

Misalnya dikatakan bahwa yang paling mulia adalah yang bertakwa di antara manusia :

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Q.S. al-Hujurat : 13)

Adapun pada ayat yang lain juga disebutkan bahwa sebagian manusia memiliki kedudukan yang lebih hina dari binatang :

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (Q.S. al-A’raf : 179)

Dua ayat yang terakhir ini mengindikasikan adanya pengelompokan di antara umat manusia. Dimana sebagiannya mulia dan sebagian lainnya hina.

Ayat-ayat ini pada zahirnya bertolak belakang dengan ayat yang mengatakan bahwa manusia secara umum merupakan makhluk yang mulia. Lalu bagaimana menyelesaikan ayat-ayat yang seolah bertentangan ini. Perhatikan penjelasan berikut ini.

Secara umum ada dua bentuk kemuliaan yang bisa disematkan pada manusia.

Pertama, adalah kemuliaan yang diberikan secara cuma-cuma dan tanpa pamrih oleh Allah SWT. Kemuliaan manusia dalam bentuk pertama ini adalah kemuliaan yang disebutkan pada ayat pertama yang menyatakan bahwa semua manusia merupakan makhluk yang mulia. Dimana manusia dimuliakan dengan penciptaannya yang istimewa; sehingga menjadi makhluk yang paling mulia diantara sekalian banyak ciptaan ilahi.

Penciptaan yang istimewa ini menyebabkan manusia berhak untuk mengemban mandat khilafah di muka bumi dan memiliki kelayakan untuk menerima kitab suci Alquran.

Kedua, adalah kemuliaan yang diraih melalui usaha dan amal. Kemuliaan jenis kedua ini adalah kemuliaan yang diperoleh dengan melakukan amal saleh sehingga menggapai ketakwaan. Dan dengan ketakwaan ini lah kemudian manusia menjadi mulia, lebih mulia dan paling mulia.

Dengan penjelasan ini dapat dipahami bahwa kedua kelompok ayat ini berbicara pada dua topik yang berbeda. Yang pertama tentang kemuliaan yang diberikan tanpa pamrih sehingga meliputi semua manusia, sedangkan yang kedua memuat tentang kemuliaan yang diperoleh melalui usaha dan amal saleh. (CR14)

%d blogger menyukai ini: