KAJIAN RAMADHAN (1) : HARI TERUNGKAPNYA JATI DIRI MANUSIA


Oleh : Ustadz M. Iqbal Al-Fadani

Screenshot_2018-05-18-11-45-33-021_com.android.chrome

Segala bentuk karakter serta amal manusia akan nampak dengan nyata pada hari kiamat, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Allah SWT berfirman,

يَوْمَ هُمْ بَارِزُوْنَ ۚ لَا يَخْفٰى عَلَى اللّٰهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ ۗلِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ۗ لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

“(yaitu) pada hari (ketika) mereka keluar (dari kubur); tidak sesuatu pun keadaan mereka yang tersembunyi di sisi Allah. (Lalu Allah berfirman), “Milik siapakah kerajaan pada hari ini?” Milik Allah Yang Maha Esa, Maha Mengalahkan.” (Q.S. Ghafir : 16).

Pada ayat lainnya disebutkan,

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا ۛوَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْۤءٍ ۛ تَوَدُّ لَوْ اَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗٓ اَمَدًاۢ بَعِيْدًا ۗوَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ ࣖ

“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan (hari) itu. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Ali Imran : 30).

Segala bentuk amal yang dilakukan oleh seorang hamba di atas dunia ini, berperan dalam membentuk karakter ataupun jati dirinya nanti di akhirat. Oleh karena itu setiap amalan baik yang dilakukan di dunia ini akan menampilkan karakternya yang tersendiri di akhirat kelak, begitu juga sebaliknya.

Di dalam Alquran disebutkan bahwa di akhirat kelak orang-orang yang memiliki karakter pembohong akan tetap melakukan kebohongan di hadapan Allah SWT sekalipun mereka menyadari bahwa kebohongan yang mereka lakukan tidak bermanfaat sama sekali.

Hal ini disebabkan oleh karakter yang sudah melekat pada diri mereka. Sehingga sekalipun kebohongan mereka sudah sangat jelas dan tidak memiliki manfaat, namun tetap saja mereka melakukannya. Jadi, perilaku berbohong telah melekat pada diri mereka dan sudah menjelma menjadi jati diri yang tidak dapat dipisahkan dari diri mereka.

Dalam Tafsir al-Mizan, sewaktu menafsirkan ayat yang berbunyi, “Kemudian tiadalah fitnah (jawaban) mereka, kecuali mengatakan: “Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah”, Allamah Thabathaba’i menyatakan bahwa kebohongan dan sumpah palsu mereka pada hari kiamat, bisa ditemukan dalam beberapa ayat Alquran seperti ayat yang berbunyi, “(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan musyrikin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu” (Q.S. Al- Mujadalah : 18).

Sumpah dan kebohongan yang mereka lakukan ini, menurut Allamah Thabathaba’i, bukanlah dalam rangka memperoleh sesuatu yang dapat merusak atau menutupi kebenaran sebagaimana mereka melakukan hal tersebut di dunia, sebab akhirat merupakan tempat pembalasan dan bukan tempat untuk beramal dan berusaha.

Namun, karena mereka sudah terbiasa melakukan sumpah palsu dan kebohongan terhadap orang lain untuk dapat terhindar dari kerugian maupun dalam rangka memperoleh kebaikan, sehingga hal tersebut (berbohong dan sumpah palsu) telah menjelma menjadi karakter dan jati diri (malakah) mereka.” (Allamah Thabathab’i, Tafsir al-Mizan, Jilid 7, Beirut, 2002, hal. 52)

Demikianlah, ketika di akhirat nanti tidak ada lagi yang tersembunyi, semua jati diri dan karakter kita akan terungkap secara nyata di hadapan Allah SWT. Karena itu binalah diri dengan karakter yang mulia, sehingga kemuliaan itu akan tersingkap kelak di akhirat. Wallahu a’lam. (CR14)

%d blogger menyukai ini: