PAKAIAN KEBAYA PADA MASA KOLONIAL DAN ARUS DEKEBAYANISASI MASA KINI


Oleh : Dr.Phil. Ichwan Azhari, MS.

(Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial Unimed)

Screenshot_2018-04-22-16-23-30-579_com.opera.mini.native

Dalam rangka hari Kartini hari ini, banyak perempuan di berbagai instansi pemerintah, swasta, kampus dan sekolah, menggunakan kebaya sebagai bagian atau simbol dari Kartini itu sendiri. Tampaknya penyebaran pakaian kebaya kaum perempuan ke luar Jawa bersamaan dengan upaya pencitraan Kartini oleh Belanda pada awal abad 20. Ini memang masih harus dibuktikan lagi dengan fakta yang luas.

Peringatan hari Kartini dengan aksesoris kebayanya dilakukan pada masa Belanda, Indonesia melanjutkan tradisi itu. Dalam koran Keoetamaan Istri Medan ada dilaporkan “Memperingati R.A. Kartini” pada hari “Ahad, 21 April 1940 di Orion Bioscoop Medan” yang sangat memuji Kartini berdasar citra Belanda.

FB_IMG_1524388023274

Berdasar analisis foto koleksi patik di Roemah Sedjarah Ichwan Azhari, di Sumatera Barat tahun 1905, Roehana Koedoes tidak memakai kebaya. Ayah dari Hamka menolak perempuan Minang memakai kebaya karena tidak memakai kerudung. Perempuan Batak juga Nias di bawah asuhan misionaris Kristen Jerman tampil dengan rok panjang dan baju kurung Melayu sampai tahun 1930 an.

Screenshot_2018-04-22-16-10-04-225_com.facebook.katana

Screenshot_2018-04-22-16-09-43-149_com.facebook.katana

Screenshot_2018-04-22-16-09-17-953_com.facebook.katana

Pakaian kebaya tertua dalam koleksi patik adalah yang dipakai oleh redaktur Boroe Tapanoeli tahun 1940 yang memiliki semboyan “Mempertinggi Deradjat Kaoem Poeteri Dengan Berdasarkan Kebangsaan, Tetapi Tiada Mentjampoeri Politiek”.

Kepengurusan Boroe Tapanoeli terdiri dari lima orang redaktur yakni Doemasari Rangkoeti, Roesni Daoelay, Dorom Harahap, Marie Ontoeng Harahap dan Halim Loebis, serta empat orang tata usaha Siti Sjachban Siregar, Lelasari Rangkuti dan Intan Nasution.

Pada Foto tampak mereka mengenakan pakaian kebaya berbahan kain batik atau lurik dengan model batik Kutubaru yang dipadankan dengan kain wiron pada bagian roknya. Bahasa tubuh yang tampak dari cara duduk, melipat tangan dan kaki serta senyuman semakin menambah keanggunan mereka. Namun model dan bahasa tubuh yang mereka tunjukan sangat kental dengan nuansa Jawa. Hanya pada bagian rambut saja, mereka menggunakan sanggul khas Mandailing yang disebut Siporhot Bujing Majeges. Kombinasi model yang dikenakan para perempuan dan redaktur Boroe Tapanoeli ini cukup unik, meskipun nuansa Jawa lebih kental.

Screenshot_2018-04-22-16-08-40-684_com.facebook.katana

Setelah kemerdekaan, Indonesia menetapkan kebaya sebagai pakaian nasional dan mudah diterima kaum perempuan di seluruh Indonesia karena fondasinya sudah disebarkan Belanda dengan cukup baik. Kaum perempuan Kristen khususnya di gereja dengan cepat dan kukuh beralih memakai kebaya dengan rambut disanggul mirip citra Kartini. Dalam foto-foto jemaat gereja HKBP setelah kemerdekaan makin merata penggunaan kebaya saat ke gereja, menggantikan baju kurung Melayu yang diperkenalkan misionaris Jerman di awal abad 20.

Tetapi dalam dua puluh tahun belakangan ini terjadi perubahan dikalangan perempuan Islam terhadap kebaya, karena mirip kritik ayah dari Hamka seratus tahun yang lalu, kelemahan kebaya tidak menutup kepala. Lalu terjadilah modifikasi pertama, kebaya memakai tudung. Modifikasi berikutnya kebaya pakai jilbab dan unsur ketat yang menampakkan lekuk tubuh perempuan pada kebaya yang tidak dibenarkan Islam mulai dilonggarkan serta kain bawah mulai dipanjangkan dan inilah yang dominan hari ini.

Modifikasi berikutnya seperti hari ini, mulai tampak dikalangan Muslim, kebaya model Kartini sudah ditinggalkan banyak perempuan Muslim di Indonesia. Inilah yang dinamakan dekebayanisasi. Tetapi kebaya ini masih tetap bertahan pada komunitas perempuan Kristen. Saat patik berada di salah satu instansi pemerintah bergengsi di Medan, patik lihat dalam peringatan hari Kartini ini pemakaian tiga model pakaian. Kebaya asli digunakan oleh pegawai perempuan beragama Kristen, sementara pegawai perempuan Muslim terbagi dua, memakai kebaya dengan kerudung atau jilbab dan pakaian Muslim utuh tanpa ada unsur kebayanya.

Di kantor itulah patik siang tadi merenung, di sela-sela peringatan hari Kartini telah berlangsung dekonstruksi kebaya yang diusung sejak zaman kolonial. (ATN)

%d blogger menyukai ini: