MITOS KARTINI DAN LENYAPNYA SEJARAH JURNALIS PEREMPUAN


Oleh : Dr.Phil. Ichwan Azhari, MS

(Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial Unimed)

FB_IMG_1524201854993

Salah satu mitos Kartini adalah dia penulis yang hebat dan menerbitkan buku Habis Gelap Terbitlah Terang dan seakan menginspirasi gerakan kaum perempuan. Tahayul ini begitu kuat menyelusup lewat pelajaran di sekolah-sekolah. Padahal Kartini tidak pernah menulis buku dalam hidupnya, dia hanya menulis surat-surat pribadi yang hanya dibaca oleh orang yang ditujunya. Jauh setelah dia meninggal barulah surat surat itu diterbitkan di Belanda tahun 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht: Gedachten Over en Voor Het Javaansche Volk van Raden Ajeng Kartini. Buku itupun dterbitkan untuk kepentingan politik etis kolonial dan edisi Bahasa Melayunya diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang tahun 1922.

Jadi Kartini hanya menulis surat-surat pribadi untuk orang yang terbatas dan bukan untuk publik. Sementara itu dibeberapa kota di Sumatera cukup bukti adanya perempuan yang menulis di surat kabar dan dibaca luas kaum perempuan, sezaman dengan beredarnya surat-surat Kartini yang dibukukan. Di Sumatera, kaum perempuan menulis dan menyebarkannya. Dalam pentas rutin peringatan Hari Kartini, para perempuan hebat yang menggugah zamannya itu seakan terkubur dalam timbunan abu sejarah.

Di Sumatera Utara sejak tahun 1919 telah terbit surat kabar dan majalah khusus perempuan yang memperlihatkan telah tampilnya kelompok perempuan moderen, terdidik (walau setingkat SMP dan SMA sekarang) dan mampu mengekspresikan diri dan kaumnya melalui media massa khusus.

Menurut identifikasi di Museum Sejarah Pers Medan ada 8 koran perempuan di Sumut : Perempuan Bergerak (Medan, 1919-1920 ), Parsaoelian Ni Soripada (Tarutung , 1927) Soeara Iboe (Sibolga, 1932) Beta (Tarutung, 1933), Keoetamaan Istri (Medan, 1937-1941), Menara Poetri (Medan, 1938), Boroe Tapanoeli (Padang Sidempuan, 1940) Dunia Wanita (Medan, 1949-1980-an).

Penggunaan nama Perempuan Bergerak dengan semboyan “untuk menyokong pergerakan perempoean” merupakan koran yang dianggap radikal pada zamannya (1919) dengan keberanian yang tidak ditemukan di pulau Jawa. Saat ini dalam sejarah pers Sumatera Utara, para perempuan dan wartawati yang “lebih terdidik” (kebanyakan sarjana) tidak memiliki media sendiri. Spirit perempuan berusia belasan tahun yang menerbitkan koran itu (1919-1949) sayangnya kini tidak muncul lagi di kalangan kaum perempuan terdidik lulusan perguruan tinggi yang luar biasa banyaknya. Dimana ada kini koran perempuan? Perempuan jurnalis kini punya problematika sendiri dalam tekanan zamannya (globalisasi dan kapitalisme) sehingga terkesan tidak selugas dan sehebat mereka ini dulu.

Betapa hebatpun ide-ide dan pemberontakan Kartini melawan kungkungan tradisi Jawa di Jepara dalam surat-suratnya, itu merupakan ekspresi renungan yang dituangkan dalam surat pribadi yang pada saat dia hidup surat-surat itu tidak dibaca oleh kaumnya.

Berpuluh tahun, lagi-lagi dunia pendidikan kita mengkostruksi Kartini secara keliru. Para guru sejarah di sekolah-sekolah perlu memberikan pengetahuan yang benar kepada anak didik, bahwa Kartini menulis surat-surat yang kemudian dibukukan. Dalam pembelajaran sejarah yang saintifik, para siswa bisa ditugaskan mencari sumber sumber lain (yang kini mulai mudah didapat lewat internet) agar siswa mampu memahami dan menganalisis, di samping surat surat Kartini ada ratusan karya tulis kaum perempuan lainnya. Ini akan memperkaya rasa kagum mereka pada bangsa, pada intelektualitas kaum perempuan pada awal abad 20. Dalam periode itu Indonesia tidak hanya memiliki Kartini, tetapi ada banyak perempuan-perempuan lain yang lebih hebat atau sejajar dengan Kartini mulai dari Sulawesi Utara, Jawa Barat, Sumatera Barat, Sumatera Utara, bahkan Aceh.

*Sumber : FB Ichwan Azhari. Dalam versi yang lain narasi teks ini pernah dimuat di Sudut Tempoe Doeloe Harian Waspada Medan Edisi 20 April 2015.

Iklan
%d blogger menyukai ini: