MENGENANG SETAHUN HAUL HABIB AHMAD JUFRI (HABIB ATE) SANG JURNALIS


FB_IMG_1521882057918

Oleh : Candiki Repantu

Diusiamu yang tak lagi muda (Lahir 12 Juli 1965), tapi jiwa muda dan semangat perjuanganmu tetap menggelora. Jalan perjuangan yang engkau pilih menjadikanmu sebagai penyambung lidah para mustad’afin (kaum tertindas) dalam melawan kaum mustakbirin (kaum penindas).

Suara keadilan terus engkau gaungkan dari jalanan tempat bekerjanya kaum pailit hingga di gedung dewan tempat berkumpulnya kaum elit, dari lorong-lorong rumah kaum melarat sampai di gedung-gedung mewah para pejabat yang terhormat. Engkau berteriak keras dalam demontrasi menentang kezaliman di jalanan, sekeras argumentasimu membela wong cilik di pengadilan.

Simpati dan empati atas perikehidupan masyarakat bawah membuatmu tak bisa berdiam diri untuk tidak terlibat aktif dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaan warga negara di manapun berada. Tulisan-tulisaanmu yang tajam, dan kritikmu yang menohok jantung penguasa orde baru masa itu, membuatmu ditangkap dan merasakan dinginnya lantai penjara selama tiga tahun lamanya. Hal itu tak membuatmu surut langkah ke belakang, bahkan suaramu semakin lantang. Engkau ingin melanjutkan suara keadilan kakek dan nenekmu, Imam Ali bin Abi Thalib as dan Fatimah az-Zahra as.

Sebagai seorang jurnalis, engkau meyakini pepatah bahwa “Pena lebih tajam dari pedang” maka engkau pun melawan dengan pena dengan banyak menulis diberbagai majalah, tabloid, dan surat kabar ibu kota, hingga mengantarkanmu bekerja di majalah TEMPO (sejak 1989). Selain itu engkau juga membantu berdirinya CBS TV-based Tokyo at APEC Jakarta. Mempunyai pengalaman 40 hari meliput di perbatasan Pakistan-Afghanistan (Tribal Area), saat Amerika Serikat menyerang Pemerintahan Taliban di Afghanistan, 2001. Meliput pemilihan umum di Irak, 24 Januari –1 Maret 2005.

Sebagai pendidik, engkau menyalurkan kemampuan ilmiahmu dengan menjadi Dosen di STIKOM Bandung, Mengajar Jurnalistik di Kursus Jurnalistik Muhammadiyah, Bandung. Mengajar kursus-kursus jurnalistik di UPN Veteran, Jakarta, IKIP/UN Jakarta, STTN Jakarta, UPancas, SMP Lab School Jakarta, Universitas Indonesia, IAPI Jakarta, Unisba-Bandung, UnPas-Bandung, Unpad Bandung, Unikom Bandung, IAIN Surabaya, Undip Semarang dan sebagainya.

Sebagai aktivis, engkau tak berhenti hanya menulis, tetapi juga mendirikan dan aktif di sejumlah organisasi perjuangan seperti Forum Wartawan Independen (FOWI), Ketua Presidium Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ketua Institute Advokasi Pers Indonesia (IAPI), Anggota International Federation of Journalists (IFJ), Lembaga Bantuan Hukum Universalia, dan Anggota Kehormatan International PEN English Centre.

Sebagai praktisi hukum, engkau menjadi advokat yang aktif membela orang-orang yang disingkirkan karena diskriminasi agama, rakyat miskin, dan orang-orang dizalimi. Engkau bersedia menjadi tim pembela Hendra Saputra, Office Boy yang ditumbalkan oleh anak menteri yang mulia. Engkau mengadvokasi tuduhan pelaku tawuran di Tanah Abang, memperjuangkan hak-hak Pedagang yang termiskinkan karena impor barang jadi, melawan kejahatan lingkungan di Bandung dan Sumedang.

Bukan hanya membela kaum tertindas di dalam negeri, dalam dunia advokasi dan pembelaan kemanusiaan engkau juga bergabung dalam koalisi Advokat international untuk pembelaan hak-hak bangsa Palestina. Karena itu, setiap bulan ramadhan datang, engkau tidak hanya puasa dari minum dan makan sebagai perintah Tuhan, tapi juga turut bergabung dengan seluruh aktivis di dunia, untuk melaksanakan amanat kemanusiaan dengan turun ke jalan menyuarakan pembebasan Palestina sebagai “tanah Tuhan” yang dikuasai oleh Zionis Israel, sang hamba setan. Begitu pula, ketika orang sibuk menyanjung kedatangan Raja Salman, engkau teriak mengecamnya sebagai penjahat kemanusiaan yang harus bertanggungjawab atas pembantaian rakyat Yaman.

Dari berbagai aktivitas dan perjuanganmu tersebut engkau memperoleh berbagai penghargaan antara lain : Tasrief Award – Indonesia Press Freedom award (Jakarta, 1995); CPJ (berbasis di New York) International Press Freedom Award (1995); Digul Award – Indonesian NGO’s human rights award (1996). Hellmann/ Hammet Award from American Writer, New York (1998). Memenangkan beberapa lomba dan anugerah jurnalistik pada tahun 2008, 2009, 2010 dan penghargaan Mochtar Lubis Award bidang penulisan Pelayanan Publik (2011). Tapi bukan penghargaan itu yang membuatmu besar, melainkan karena ketulusanmu kepada Yang Maha Besar.

Beberapa karya buku yang engkau tulis seperti Seks dan Gerakan Mahasiswa, tahun 1994 ; Asia Against West, Asia-network, Korea, 2003 (Bahasa Korea); Jalan Terjal Menegakkan Kebenaran, Menolak Kompromi Jadi Korban Politik (Pledoi Rahardi Ramelan); I am a Journalist, Pledoi, Tempo, 2004; Almanak Reformasi Sektor Keamanan Indonesia 2007, Lesperssi DCAF, Jakarta 2007; The News, Beyond The Headline, Asia Network, Korea (Bahasa Korea), 2008; Detik-detik Terakhir Saddam, bersama Rommy Fibri, PDAT, Jakarta 2008; Penjara, the Untold Stories, UfukPress, 2010; Bisnis Seks di Balik Jeruji, UfukPress, 2011; Buku Saku Jurnalistik : Teknik Wawancara dan 7 Isu Internasional Kontemporer 2016. Semua karya ini engkau dedikasikan bagi kemanusiaan dan perjuangan keadilan.

Satu kenanganku bersamamu masih melekat walau sudah beberapa tahun berlalu, ketika engkau datang ke Medan dalam suatu acara, di tengah-tengah kesibukanmu, engkau tak lupa singgah untuk sekedar bertatap muka denganku. Kita berbicara panjang lebar tentang Indonesia dan dunia dalam berbagai tema, politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum dan agama. Asap rokok tak putus menghembus dari bibirmu di tengah-tengah nada bicara dan senyum simpulmu. Aku banyak belajar darimu. Hanya satu hal saat itu, mau tak mau aku harus menolak tawaranmu karena mazhab yang berbeda. Engkau pewaris sejati “mazhab kopi” , sedangkan aku penganut “mazhab teh” yang setia. Satu kenangan yang takkan kulupa, ketika engkau berbisik bertanya atas kopi Aceh yang diminum, Apakah di kopi ini ada “rumput aceh” sebagai penyedap rasa karena kepala saya terasa pusing setelah meminumnya? . Aku hanya tertawa saja. 😀

Hari ini, aku mengenang setahun kepergianmu. Tapi setiao detik perjuanganmu masih melekat di jiwaku. Setahun lalu, setelah berjuang melawan sakitmu akhirnya engkau menghadap Tuhanmu, menghembuskan nafas terakhirmu pada 23 Maret 2017. Hanya doa dan airmata yang bisa kusampaikan mengantarkan kepergian pejuang, sahabat, dan guruku yang mulia.

Aku juga masih ingat, beberapa bulan sebelum hembusan nafas terakhirmu, di saat sakit mulai menimpa jasadmu, engkau masih meluangkan waktu dengan semangat ruh yang penuh rindu, mengikuti kafilah ziarah karbala, berjalan kaki hampir seratus kilometer jauhnya, menelusuri jejak-jejak sejarah yang menorehkan luka, duka, dan nestapa, tapi juga mengajarkan kesetiaan, keadilan, dan cinta dari para ksatria Nainawa.

Perjalanan cinta itu kemudian kau tuangkan dengan indah dalam sederet tulisan di Majalah Tempo tempatmu berkiprah. Melalui tulisanmu, engkau sampaikan pesan Imam Husain as ke seluruh penjuru dunia walau jasad al-Husain sudah terpendam lebih seribu tahun lamanya. Inilah salah satu peninggalan mulia darimu. Kini, jasadmu juga sudah terpendam tanah setahun berlalu, tapi aku yakin suaramu juga tak akan padam hanya karena tubuhmu sudah di kuburkan, bahkan seperti kata ungkapan “Suaranya lebih menggema dari dalam kuburnya”. Semoga Allah menggabungkanmu dengan para pejuang keadilan sepanjang sejarah manusia _bihaqqi zahra wa abiha wa ba’liha wa baniha._ Alfatihah dan solawat kupersembahkan buatmu. 😢

🙏🌷
CR14

%d blogger menyukai ini: