PELAJARAN 1 : THAHARAH


Screenshot_2018-01-12-10-35-48-037_com.opera.mini.native

Kata thaharah berasal dari bahasa Arab yang artinya bersih dan suci. Thaharah ini adalah salah satu perintah Allah SWT baik bersifat zahir (material) maupun batin (spiritual).

Bersuci secara zahir berarti menyucikan tubuh atau jasad kita atau benda-benda lainnya dari berbagai kotoran yang disebut khabats (najis) ataupun bersuci dari hadas. Sedangkan bersuci secara batin berarti mensucikan diri kita dari sifat-sifat tercela, akhlak yang rendah maupun dosa-dosa. Kedua kesucian ini memiliki keterkaitan erat untuk mengantarkan manusia pada kesempurnaan dirinya.

Menyucikan diri secara zahir adalah dengan menggunakan air atau benda lain yang dibenarkan dengan cara tertentu seperti istinja’, membersihkan najis, wudhu, mandi, dan tayamum. Penyucian ini disebut dengan thaharah di dalam ilmu fikih.

Sedangkan menyucikan batin tentu saja dengan mengamalkan yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-Nya, berakhlak mulia, membersihkan hati dari sifat-sifat tercela. Penyucian batin ini umumnya disebut dengan istilah tazkiyah an-nafs yang banyak diulas dalam ilmu Irfan/tasauf atau ilmu akhlak.

Pada kesempatan ini kita hanya membahas thaharah dalam perspektif Fikih Ahlul Bait (Mazhab Syiah) sebagaimana tersimpul di dalam berbagai kajian ilmu fikih dan fatwa para ulama Syiah (hanya saja dalam pembahasan di sini akan disesuaikan dengan fatwa-fatwa Sayid Ali Khamenei).

Dalam Alquran maupun hadis banyak perintah untuk bersuci. Misalnya, Allah berfirman :

Dan Dia menurunkan kepada kalian air dari langit untuk menyucikan kalian dengannya” (Q.S. al-Anfal : 9).

“Dia lah Allah yang mengirimkan angin sebagai kabar gembira akan rahmat-Nya dan Kami turunkan dari langit air yang suci” (Q.S. al-Furqan : 48).

Begitu pula Rasulullah Saw bersabda, “Bersuci adalah bagian dari keimanan”. Beliau juga bersabda, “Tidak akan diterima salat tanpa bersuci”.

Imam Ali as berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air itu suci dan tidak menjadikannya najis”.

Imam Ja’far as berkata, “Sesungguhnya semua air itu suci kecuali yang engkau ketahui bernajis”.

Dari ayat dan riwayat di atas kita bisa pahami bahwa bersuci pada dasarnya menggunakan air. Karena itu perlu diketahui hukum-hukum air yang digunakan dalam bersuci. (ATN)

%d blogger menyukai ini: