MENERIAKKAN KEMBALI SUARA GAIB AYATULLAH NIMR


Oleh : Candiki Repantu

FB_IMG_1515064175918

Kita jalani kehidupan di muka bumi sebagai orang yang merdeka, atau kita mati terkubur di perut bumi, sebagai orang yang mulia”. (Ayatullah Nimr)

 

02 Januari 2016, tanah Arab menjadi saksi sejarah yang abadi, bahwa di tanahnya yang suci telah tertumpah darah hamba yang mulia, Ayatullah Nimr Bagir an-Nimr, seorang ulama syiah yang di eksekusi oleh Rezim Saudi sebagai konsekuensi dari tuntutannya pada keadilan dan gugatannya atas tirani raja-raja Saudi.

Eksekusi Ayatullah Nimr dan 46 teroris al-Qaida adalah agenda politik Saudi dalam rangka mengukuhkan koalisi anti terorisme yang baru saja dibentuknya. Tapi Saudi tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya terhadap Ayatullah Nimr adalah kekeliruan fatal, karena semakin membuka kedoknya sendiri. Kalau Saudi hanya mengeksekusi gembong-gembong al-Qaida maka itu strategi yang jitu untuk menaikkan pamornya di dunia Islam, sebab al-Qaida dengan gerakan kekerasannya memang telah memiliki stempel teroris di seluruh dunia.

Namun, Ayatullah Nimr sebagai seorang ulama yang mengedepankan kritik sosial dan tuntutan keadilan sesuai dengan nalar agama dan demokrasi tentu memberikan stigma negatif atas posisi Saudi. Sebab Ayatullah Nimr hanya memainkan peran intelektualnya. Tidak masuk akal bagi seorang ulama untuk mendiamkan kezaliman yang ada di depan matanya. Ayatullah Nimr merasa memiliki tanggungjawab, berdasarkan kedudukannya, untuk membimbing masyarakatnya dan membangkitkan kehormatan mereka. Dan ia rela serta sadar bahwa apa yang dilakukannya mempunyai resiko pengorbanan darahnya. Seperti Imam Husian panutannya, kematian bagi Ayatullah Nimr adalah suatu keindahan dan panggilan ilahi, dalam perjuangan meraih tujuan yang lebih tinggi.

Dulu, 10 Muharram 61 H, suara gaib Imam Husain menggema dari Sahara Karbala,

Kuserahkan segenap jiwa dan raga
Dalam perang suci membela agama
Lebih baik mati daripada hidup terhina
Jika masih hidup aku tak kecewa
Dan jika mati aku tak akan tercela”

Dan suara gaib Imam Husain ini disambut oleh Ayatullah Nimr di sahara Arabia,

Kita jalani kehidupan di muka bumi
Sebagai orang yang merdeka
Atau kita mati terkubur di perut bumi,
Sebagai orang yang mulia”

Maka, tragedi eksekusi dirinya, membuat suara gaib Ayatullah Nimr semakin kuat membangkitkan masyarakat dari tidur nyenyaknya, yang akan memobilisasi perubahan dan dapat menjadi titik awal revolusi menggulingkan tirani Saudi. Tidak berlebihan kalau orang-orang menjadikan suara gaib Ayatullah Nimr sebagai pelanjut suara gaib al-Husain untuk menyingkap kebobrokan penguasa zamannya yang kematiannya menjadi titik tolak perlawanan yang menggulingkan para penindas berkedok agama.

Unsur kesyahidan dalam tragedi ini jelas memiliki daya tarik kuat bagi kawasan Arab dan gerakan Islam (khususnya syiah) yang menentang tatanan mapan kezaliman. Tragedi eksekusi Ayatullah Nimr menjadi suntikan semangat dalam ideologi perlawanan (muqawwamah).

Lihatlah, pasca syahidnya Ayatullah Nimr, suara gaibnya membuat pergolakan besar di mana-mana, baik secara sembunyi maupun terbuka, di dunia nyata maupun di dunia maya, yang ingin menggulingkan penguasa Arabia. Gerakan Islam revolusioner di Timur Tengah semakin menemukan momentumnya serta memberikan inspirasi besar bagi aktivitas politik di manapun berada. Arab Saudi dalam setahun ini mengalami berbagai krisis dan berbagai rancangannya porak-poranda.

Max Weber pernah mengajukan tesisnya, adakalanya ideologi dan kepemimpinan kharismatik menempatkan suatu zaman tertentu sebagai titik tolak kriteria untuk menilai dan melakukan perubahan. Pemimpin yang kharismatik bertipe begini memandang dirinya bukan saja sebagai orang yang merombak tradisi yang ada, tapi untuk menghidupkan kembali tradisi lama yang pernah ada. Sederhananya, peristiwa syahadah yang terjadi pada waktu tertentu, di tempat tertentu, dapat dijadikan sebagai acuan dalam gerakan kapanpun dan di manapun.

Melalui pergerakan dan misi sucinya, suara gaib dari darah Ayatullah Nimr, melintasi sahara panas Arabia menebar ke seantero jagat raya, senantiasa hidup di setiap aliran darah dan denyut nadi para pejuang keadilan dan disambut oleh umat dengan keteguhan hati dan kesucian iman, siap hadir menghirup aroma wangi darah syuhada ini.

Jelasnya, perjuangan keadilan Ayatullah Nimr tidak bisa hanya dilihat dari sisi lahiriahnya saja, tetapi juga harus dilihat sebagai misi ilahiah, yang memiliki dimensi spiritual dan mistis dalam setiap langkahnya. Memang suara gaib Ayatullah Nimr telah membangkitkan konservatisme Arab sebab Ayatullah Nimr adalah “syiah-Arab”, dari keluarga yang berpengaruh di Arab. Namun, perjuangan Ayatullah Nimr bukan merupakan perjuangan yang memiliki batas-batas geografis di Saudi saja. Bukan pula sebagai perjuangan terbatas dalam sekat-sekat mazhab, bahkan bukan pula dalam sekat-sekat keagamaan, namun ini adalah perjuangan seluruh dimensi kemanusiaan dalam ruh ketuhanan.

Sebagai seorang pejuang keadilan, suara gaib Ayatullah Nimr dari tubuhnya yang berlumuran darah akan mampu membangkitkan emosi yang paling dalam, senantiasa di kenang dan hidup sepanjang zaman dalam setiap aliran darah dan tarikan nafas para insan revolusioner, sehingga semangat jiwa yang menyala-nyala menjadikan perasaan sakit, bahaya dan kematian menyusut menjadi perkara kecil yang tak perlu ditakutkan.

Suara gaib Ayatullah Nimr ini, menjadi momen bangkitnya heroisme Islam, yang mana bila timbul situasi yang menuntut pengorbanan, setiap orang akan berperasaan sebagai syahid yang dengan sukarela akan mengikuti teladannya yang heroik. Kepribadian luhur dan kematian heroik Ayatullah Nimr telah membangkitkan emosi terdalam jutaan umat Islam. Seluruh dunia dibangkitkan kembali. Bila umat Islam tanpa terkecuali (baik syiah maupun sunni) meneriakkan kembali suara gaib ini, dan para ulama menyampaikan dan memanfaatkan luapan emosi yang sangat besar ini untuk membawa ruh manusia melangkah seirama dengan ruh Ayatullah Nimr maka kita akan melihat wajah Saudi yang berbeda dari hari ini. Labbaika ya Nimr. (CR14)

%d blogger menyukai ini: