SEUNTAI DOA UNTUK IBU


Oleh : Candiki Repantu

IMG_20171222_124041

Adapun hak ibumu, ketahuilah bahwa dialah yang mengandungmu ketika tidak ada yang mampu mengandungmu selain dia. Dan memberi segalanya kepadamu, disaat tidak ada yang dapat memberimu sedemikian rupa selainnya. Dia mempersiapkan diri dengan pendengaran, penglihatan, tangan, kaki, rambut, kulit dan seluruh anggota tubuhnya untuk memberikan yang terbaik kepadamu. Dia melakukan semua itu dengan perasaan gembira dan senang.”

“Dia memikul segala kesulitan, rasa sakit, rasa berat dan kegelisahan sampai diberi kekuatan oleh Allah untuk melahirkanmu ke dunia ini. Dia rela untuk lapar asalkan kamu kenyang. Dia rela tidak memiliki pakaian, asal kamu memilikinya. Dia rela tercekik dahaga, asalkan kamu tidak haus lagi. Dia rela tersengat sinar matahari, asal kamu terlindungi. Dia siap menderita yang penting dirimu mendapat kenikmatan. Dia siap untuk begadang malam, asal kamu dapat tidur nyenyak. Jika kau ingin mensyukuri nikmat ibu, ingatlah semua kenikmatan ini. Dan kamu tidak akan bisa mensyukurinya kecuali dengan taufik dan bimbingan Allah swt.

Demikianlah Imam Ali Zainal Abidin  as menjelaskan peran Ibu dalam kitabnya Risalah al Huquq, semua yang disampaikan oleh Imam Sajjad ini benar-benar terlihat di dunia nyata. Seorang ibu rela terhina bekerja sana sini untuk memberi makan anaknya.

Ummul Mukminin Siti Aisyah ra berkisah, “suatu hari seorang perempuan datang membawa dua anak perempuan menemuinya, ia bermaksud meminta makanan, saat itu Aisyah hanya memiliki dua butir kurma, yang kemudian dia serahkan kepada wanita tersebut, wanita itu menerima kedua butir kurma itu, dan memberikan setiap satu butirnya kepada masing-masing anaknya, dan wanita itupun tidak memakan apa-apa, ia sudah senang melihat anaknya bisa memakannya.”

Begitulah kasih seorang ibu, tidak ada yang lebih membahagiakan dirinya, selain kebahagiaan anak-anaknya sendiri. Ibu siap menderita demi kebahagiaan anak-anaknya, sebab para Ibu adalah para pengasih sejati terhadap anak-anaknya, dan siap berkorban demi yang dikasihi tanpa mengharap balasan. Dia rela mendapat seluruh rasa sakit asalkan putranya terbebas dari semua itu. Saat Ibu sakit-sakitan, terkadang sakit keras menimpanya, anaknya datang menjenguk dan menangis, sang Ibu masih bisa tersenyum sambil berkata, “kok kamu tidak kerja? jangan menangis, Ibu tidak apa apa.”

Begitulah, tidak peduli seberapa tinggi sekolah kita, seberapa banyak harta kita, setinggi apa jabatan kita, seberapa dewasanya kita, seorang Ibu akan selalu menganggap kita sebagai “anak kecilnya”, selalu mengkhawatirkan diri kita, tapi tidak pernah membiarkan kita mengkhawatirkan dirinya. Untuk Ibu, Iwan Fals menyanyikan lagunya

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas . . .
Ibu . . . ibu . . .

Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas . . .
Ibu . . . ibu . . .

Ada ungkapan populer di tengah-tengah kita, “al-baiti jannati”, rumahku adalah surgaku, dan nabi Saw bersabda, “Surga di bawah telapak kaki ibu”. Karenanya, rumah akan bisa menjadi surga, tergantung pada ibu dalam mengelolanya. Begitu pula, anak-anak akan menjadi pemuda-pemudi surga, sangat ditentukan oleh peran seorang ibu. Ahhh, jadi teringat dulu setiap pagi ibu membuat teh manis dan sarapan untukku sebelum pergi menuntut ilmu. Pelukan hangat dan bisikan nasehatmu Ibu senantiasa terukir kuat, bak aroma surga yang menembus relung-relung hatiku. Tak mungkin semua itu bisa di balas, hanya seuntai doa yang mampu kupanjatkan :

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad

Ya Allah!
Berilah keistimewaan pada ibuku dengan kemuliaan di sisi-Mu dan kesejahteraan dalam rahmat-Mu.

Ya Allah!
Jadikanlah ketaatan dan baktiku kepadanya lebih indah di mataku, daripada tidur di kala mengantuk, dan lebih sejuk di dadaku, daripada meneguk air dikala dahagaku.

Ya Allah!
Jadikanlah, keinginannya lebih kudahulukan dari keinginanku, keridhaannya lebih kuutamakan dari keridhaanku, penuhilah hatiku dengan rasa kasih, dan berilah aku waktu selama mungkin untuk tetap menemaninya dalam pelukan cinta dan kerinduan sepenuh kalbu. 

“Semoga ibu bahagia selalu, di dunia maupun di alam kuburmu! Selamat Hari Ibu dari putra kecilmu Candiki Repantu”.!! 

Iklan
%d blogger menyukai ini: