MENELADANI SANG PEMBEBAS


Oleh : Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA

IMG_20171118_151602

Yâ Nabî salâm ‘alaika.

Ya Rasul salam alaika

Ya Habib salam alaika

Shalawatullahi alaika

Salam hormat dan ta’zim kami untukmu wahai junjungan, karena Allah meletakkan pada dirimu segala keagungan dan kemuliaan.

Kehadiran Junjungan alam tak sekedar menyampaikan syi’ar tetapi juga membebaskan. Beliau hadir untuk merubah arah jarum jam sejarah dan peradaban. Sebab ada akar tunggal sejarah alam yang menghunjam ke bumi, menyangga pancang tauhid yang membubung ke ufuk, membebaskan dunia.

Junjungan hadir untuk menunjuk haluan yang sesungguhnya, agar perjalanan sejarah tidak ngawur dan nyasar, fokus pada nuktah rasionalitas yaitu tauhid. Dan tauhid adalah puncak rasionalitas serta akhlak.

Muhammad Arkoun memformulasi hakekat risalah yang dibawa Junjungan sebagai akhlak dan siyâsah (al-Islâm: Akhlâq wa al-siyâsah). Mengapa akhlak? Karena akhlak tertinggi adalah pencapaian tauhid sebagai puncak rasionalitas (berfikir lurus hingga menemukan keesaan Allah). Sebab, jika manusia tak menemukan tauhid maka filsafat, faham, dan logika hidupnya akan melingkar-lingkar pada irrasionalitas (tak lurus).

Itulah sebabnya Muhammad ‘Abed al-Jabiri menyebutkan bahwa hidup ini pada hakekatnya adalah pertarungan antara rasionalitas (ketauhidan) dengan irrasionalitas (kesyirikan).

Mengapa siyasah? Karena dimensi ini adalah perjuangan. Untuk itu diperlukan daya tarung dan semangat pembebas. Tangan Ibrahim sendirilah yang menebas berhala-berhala pada zamannya, yang menghalangi umat menemukan rasionalitas (tauhid), dan untuk patung terbesar dia letakkan kampak dibahunya, sebagai bukti bahwa yang kalian sembah tak lebih mulia dari sebilah kampak, benda mati yang tak berdaya dan bergerak.

Tak Ada Kompromi Untuk Urusan Ini.

Untuk urusan ini, Junjungan Alam tak pernah main-main, sehingga beliau yang memimpin perang, mengangkat senjata, sebagai Jenderal perang yang melakukan pembebasan dari ancaman peradaban, prinsip irrasionalitas yang menyebabkan fokus ketuhanan menjadi terpencar, penuh kesyirikan.

Dari sini dapat dipahami bahwa dakwah Islam adalah siyâsah, menundukkan dirrasionalitas (kesyirikan) dibawah rasionalitas (ketauhidan). Untuk itu dimensi ini tidak bisa dikompromikan.

Islam bukan salah satu dari tonggak ketuhanan di samping tonggak-tonggak lain. Tetapi Islam adalah akar tunggal yang menyokong keyakinan seluruh umat manusia sehingga kepadanya semua harus dikembalikan.

Terang saja, kepada benih penyimpangan dari tonggak itu (kesyirikan kecil) Alqur’ân menyerukan agar kembali ke akar tunggal ketuhanan yang dijunjung tinggi semua pembawa agama (ta’âlaw ilâ kalimatin sawâ’in baynanâ wa baynakum).

Akan tetapi kepada kesalahan (kesyirikan besar), irrasionalitas yang menserikatkan Tuhan, al-Qur’ân meng-ultimatum, pilihanmu hanya dua: beriman atau tetap dalam kesyirikanmu. Bila engkau memilih yang kedua, berarti “untukmu agamu dan untukku agamaku (lakum dînukum wa liya dîn).

Sang Pembebas Adalah Rahmat

Sang pembebas adalah rahmat (rahmatan lil’âlamîn), bukan mensejajarkan Islam dengan filsafat irrasionalitas dan kesyirikan, sebagaimana yang dilakoni mereka yang sedang pubertas dalam memahami hubungan antaragama.

Rahmatan lil’âlamîn adalah gerakan pembebasan, membebaskan manusia dari kepenganutan irrasionalitas, menjadi perwakilan Tuhan (khalîfah) untuk menghadirkan cara pandang yang fokus pada akar tunggal yang menyangga tonggak ketuhanan yang tunggal, yaitu tauhid, yang dijunjung tinggi oleh semua rasul dan merupakan titik temu semua pembawa agama.r

Karena rahmat adalah titik temu, maka Junjungan membentuk sistem kemasyarakatan di Madinah, sehingga W. Montgmery Watt menempatkan junjungan sebagai nabi dan negarawan, Muhammad Prophet and Stateman.
Di sini Islam telah menjadi pelipur lara bagi manusia, membawa tentram dan kebebasan (salâm) karena semua ta’abbud dan sesembahan telah tertuju pada Yang Esa, tak lagi tertuju pada banyak sehingga tak tahu mana yang menyenangkan dan mana yang membawa kemurkaan.

Nabi Yang Ummi Sebagai Rujukan

Sang pembebas adalah ‘ummî’, sebagaimana dituturkan setiap muslim mengakhiri do’a mereka: wa shallallâhu ‘alâ ( sayyidinâ) Muhamnadin nabiyy al-ummî, salam ta’zim kami untukmu wahai Nabi yang ummi.
Sayang sekali banyak ulama yang mengartikan ummi sebagai tidak pandai membaca dan menulis. Padahal, tentu tidak terlalu sulit bagi seorang Junjungan untuk menginternalisasi cara membaca dan menulis. Rasulullah sendirilah qalam dan kecerdasan serta dirinya pula gudang ilmu sebagiman pernah disampaikan: “Sayalah gudang ilnu dan Ali sebagai pintunya” (anâ madînatul ‘ilmi wa ‘âli bâbuhâ).

Nabi yang ummi bukanlah nabi yang tak pandai membaca dan menulis. Tetapi Nabi yang menjadi rujukan kehidupan serta rujukan segala sistem ketuhanan dan keberagamaan (ummi), yang tak menggunakan tradisi baca-tulis.

Risalah bersifat vertikal; dari Allah ke Hati Nabi dan kemudian ke hati manusia. Bukan horizontal sebagaimana pada tradisi tulis; dari Allah ke kertas kemudian ke hati Nabi. Selanjutnya dari Nabi ke kertas dan seterusnya ke hati manusia.

Sesuatu yang prosesnya bersifat horizontal biasanya mendayu-dayu, berliku, jika bukannya jig jag, sehingga tak pernah terhunjam dengan kuat.
Inilah yang kita alami, banyak ahli tapi keadaan tak berubah. Banyak yang berilmu tapi rakyat semakin hampir makan tanah.

Dari situ kita semakin sadar bahwa peringatan Maulid Nabi harus mengarah pada reorientasi, bukan kelahiran manusia pilihan yang kelak menjadi rasul, tetapi kelahiran Sang Pembebas dan menjadi rujukan bagi pera pelanjut perjuangan.

Wahai Nabiku, bersamamu akan kutemukan puncak rasionalitas, tauhid, dan menjadi nilai dasar pembebasan, hingga seluruh alam memperoleh rahmat dan keselamatan universal. Wa Allâhu A’lamu bi al-Shawâb.

*Sumber : FB Syahrin Harahap.

%d blogger menyukai ini: