BUAH CINTA SEPASANG MERPATI TANAH HARAM


Oleh Candiki Repantu

IMG_20171118_151409

Pemuda itu begitu gagah. Kemuliaan nasabnya, ketampanan wajahnya yang bercahaya, lembut tutur katanya, dan kebaikan akhlaknya menunjukkan kepribadian sempurna. Itulah Abdullah, pemuda gagah yang terkenal di seantero Mekah. Ia menjadi kumbang yang diharapkan singgah oleh banyak kembang yang merekah. Namun semua kembang itu hanya punya harapan, sebab pria tampan dan baik itu, menyerahkan pada ayahnya, siapa jodoh yang dipilihkan untuknya.

Tanpa sepengetahuan Abdullah, ada seorang putri Mekah yang menyimpan kenangan padanya. Aminah namanya. Sudah banyak pria yang melamarnya, tetapi tidak satupun yang menarik hatinya. Sebab, dalam bayangnya wajah Abdullah selalu menghampirinya. Ia terkenang ketika mereka bersama di depan Ka’bah, bersenda gurau dan tertawa ria. Mereka memang dekat sebagai satu kabilah yang sama, tapi mereka juga dekat sebagai sahabat setia. Di dalam hati, ia ingin bersama lagi dengan Abdullah berada di sisi ka’bah, tapi tidak lagi sekedar bermain dan tertawa ria, melainkan mengikat janji, sebagai sepasang kekasih yang sejati. Tetapi sayang, Abdullah tak pernah mampir ke rumahnya, memintanya menjadi pasangan sejatinya. Apakah ada wanita lain yang menarik hati Abdullah?. Ahh, sungguh bahagianya wanita itu jika disunting oleh Abdullah, bisik hati Aminah.

Setiap ada rasa pasti ada resah. Mengenang Abdullah membuatnya gelisah, hati dilanda rindu memburu, hasrat bertemu begitu menggebu, tapi semua kalah dengan besarnya rasa malu, ia lebih memilih memendam semua itu. Namun, sesekali ia berdiri dibalik jendela dan mengintip dibalik pintu rumahnya. Berharap, Abdullah tak sengaja melewatinya. Tapi, semua hanya harapan. Yang terlihat hanya dinding batu diiringi hembusan semilir angin sahara, yang tak mampu mengusir gundah yang melanda hati dan jiwanya. Demikianlah, Aminah melalui hari-harinya dengan sejuta tanya, sejuta rindu, dan sejuta harapan, pada satu pria idaman.

Di saat semua kenangan datang dalam ingatan, ketika rindu datang menggebu, ketika harapan semakin membesar, mendadak berita duka sampai ke telinganya, Abdullah akan dikorbankan untuk memenuhi nazar ayahnya. Mendengar itu, jantungnya Aminah berdegub keras, sekujur tubuhnya menggigil, aliran darahnya seolah beku, lidahnya menjadi kelu. Tak mampu ia membayangkan ketika pedang menebas leher Abdullah dan mengalirkan darahnya, hanya derai air mata mulai membasahi pipinya, kesedihan tiada tara menghantam jiwanya. Hanya doa yang terbetik, “Semoga Allah menyelamatkan Abdullah seperti Allah menyelamatkan Ismail kakeknya”. Ia berharap keajaiban akan datang.

Kalau menuruti kemauannya, ia ingin hadir si sisi Ka’bah, melihat langsung pengorbanan Abdullah. Namun, ia sadar tak mampu menanggung derita itu. Dengan menekan perasaan, ia menyabarkan diri menunggu apa yang terjadi. Di rumah, ia hanya berjalan mondar mandir, kadang berdiri bingung, kadang duduk termangu, kadang berbaring membisu. Kerongkongan kering tak terasa dahaga dan perut kosong tak terasa laparnya, seluruh pikiran hanya tertuju pada Abdullah. “Ya Allah, selamatkanlah dia, selamatkanlah dia, dia milik-Mu bukan milik Abdul Muthalib”, doanya lirih terlontar. Suara lirih itu memang pelan terdengar di bumi, tetapi nyaring di langit, naik menuju alam malakuti, menggetarkan Arsy Ilahi.

Imam Ali Ridha as mengisahkan, “ketika semua orang berkumpul sedih menyaksikan pengorbanan Abdullah, mendadak Atikah putri Abdul Muthalib berkata, “Wahai ayah! Mintalah pada Allah untuk memaafkanmu dari mengorbankan putramu”. Abdul Muthalib menjawab, “Wahai putriku! Apa yang harus kulakukan?”. “Gantilah dengan untamu hingga Tuhan menjadi rela”, jawab Atikah. Maka unta-unta dibawa ke sisi ka’bah. Abdul Muthalib mengundi nama Abdullah dengan sepuluh ekor unta, tapi undian tetap mengarah pada Abdullah. Abdul Muthalib menambahkan sepuluh ekor unta lagi, tapi nama Abdullah tetap keluar untuk dikorbankan.

Abdul Muthalib tak peduli harus mengorbankan berapa unta sebagai ganti Abdullah. Ia terus menambahkan sepuluh ekor unta, hingga jumlahnya menjadi seratus ekor. Undian pun dilakukan lagi, kini mata Abdul Muthalib berbinar riang, nama unta keluar dalam undian. Abdul Muthalib mengulang undian hingga tiga kali, hingga ia yakin sepenuh hati, Tuhan ridha ia mengorbankan seratus ekor unta, sebagai ganti Abdullah. Takbir pun bergema dengan gegap gempita. Semua bersyukur atas selamatnya Abdullah. Terutama bagi Aminah, kembang semerbak kota Mekah.

Tak berselang lama, sebagai rasa syukurnya, pada hari itu juga, Abdul Muthalib bermaksud memilih jodoh untuk putranya. Para wanita Mekah berlomba agar Abdul Muthalib memilih mereka. Bahkan sebagiannya menawarkan diri, rela mengorbankan seratus ekor unta lagi demi menjadikan Abdullah pasangan sejati. Namun, Abdul Muthalib punya pilihan sendiri, ia menggandeng tangan Abdullah berjalan menuju ke suatu  rumah. Rumah yang dituju adalah rumah Aminah. Memasuki pintunya, jantung Abdullah berdegub dengan kerasnya, disambut oleh getaran hati Aminah dari balik kamarnya, yang bagaikan mimpi dilamar oleh pria pujaan hatinya. Tak banyak masalah, kedua keluarga saling sepakat untuk melangsungkan pernikahan sepasang merpati Tanah Haram.

Dua sejoli ini pun memulai hidup baru. Suatu hari mereka duduk berdua untuk saling berkisah mengenang masa ketika mereka bermain bersama. Terkadang terdengar suara tawa renyah yang mengandung aroma bahagia mengenang peristiwa masa kanak-kanak mereka berdua. Pada suatu malam, Abdullah terbangun dari tidurnya, ia pandangi wajah jelita isterinya yang sedang tersenyum simpul karena tenggelam dalam mimpi yang indah. Menjelang fajar, Aminah terbangun, ia tatap wajah lembut suaminya. Aminah berkata, ia baru saja bermimpi indah, melihat sinar terang meliputi dirinya di sekeliling istana-istana megah, dan terdengar suara lembut menyapanya, “Ya Aminah, engkau akan hamil dan melahirkan anak yang menjadi manusia termulia sepanjang sejarah dunia”. Inilah cinta pembawa berkah, cinta Abdullah dan Aminah yang melahirkan purnama kota Mekah, Muhammad ibn Abdullah saw.

Assalamu ‘alaika ya Rasulullah
Assalamu ‘alaika ya Khalilallah
Assalamu ‘alaika ya Nabiyallah
Assalamu ‘alaika ya Shafiyallah
Assalamu ‘alaika ya Rahmatullah
Assalamu ‘alaika ya Khiyaratallah
Assalamu ‘alaika ya Habiballah
Assalamu alaika ya Najiballah
Assalamu ‘alaika ya Nurallah
Assalamu ‘ala abika Abdillah wa ‘ala ummika Aminah
Assalamu ‘ala jaddika Abdil Muthalib wa ‘ala ‘ammika wa kafilika Abi Thalib
Assalamu alaika wa ‘ala ahli baitika at-thaibina at-thahirin
Walhamdulillahi rabbil Al-Amin

Salam Maulid ar-Rasul
Musim Semi, 17 Rabiul Awal

%d blogger menyukai ini: