MAULID NABI : “BID’AH” PARA PECINTA


Oleh : Candiki Repantu

IMG_20171201_103128

“Bagaimana bisa tetes air menceritakan kisah samudera? Bagaimana bisa malam melukis fajar? Bagaimana bisa lembah menyamakan tingginya dengan puncak gunung? Dan bagaimana bisa duri hitam menukil hikayat kembang mawar merah?

Aku adalah tetes ilmu, dan engkau adalah samudera; aku adalah malam yang malu, dan engkau adalah fajar yang bangga; aku adalah lembah sunyi, dan engkau adalah puncak gunung berisi; aku adalah duri hitam, dan engkau adalah kembang bunga kemanusiaan. Lalu bagaimana mungkin aku mampu mengisahkan tentang dirimu?

Hanya dengan lisan air mata kuungkapkan perasaanku, seperti yang dikatakan Kalim Kasyani dalam syairnya :

Mata kekasih penuh air mata semerah jiwa
Nilai cincin ditentukan oleh batu yang bertahta

Selama sembilan bulan, aku mencari harum wujudmu di antara lima ratus kitab. Kadang, aku menangis penuh keharuan, dan terkadang remuk oleh penyesalan. Setelah semua itu, kini aku duduk di hadapan pagar pusaramu, berjarak lima atau enam meter dari makam yang terang oleh sinar mentari siang. Dihantui oleh rasa takut terhadap para penjaga yang berikat kepala, aku menangis tanpa suara, dan kutuanglah perasaanku dalam lembaran kertas putih ini. Hatiku diremas rasa pedih dan sesal, saat kucuri pandang melalui sela-sela pagar pusaramu, dan kulihat debu yang menyelimuti kuburmu. Akankah kelak mereka mengizinkan kami membersihkan pusaramu dengan bulu mata kami hingga bisa bercelak dengan debu pusaramu?

Kini kau tidur dihadapanku. Tapi tidak! sesungguhnya engkau-lah yang terjaga dan kami-lah yang tidur dalam ranjang kelalaian. Engkau masih terus terjaga mengkhawatirkan jahiliyah abad ke-21.
Duhai kekasih! Bimbinglah kami keluar dari gelapnya malam kebodohan, menuju terangnya fajar pengetahuan! Tuntunlah tangan kami dan ajari kami bagaimana cara hidup dan mati! Pancarkan sinar suryamu kepada kami hingga cairlah segala keegoisan kami!”

Husain Sayyidi mengawali bukunya “Muhammad The Untold Stories” (Hamname Ghalha-ye Bahadi) dengan tuturan indah tersebut. Ia menyadarkan kita, mustahil melukiskan Nabi saw dengan sempurna, sebab tak ada yang mengenal Muhammad saw sesempurna Tuhannya. Allah telah menjelaskan Muhammad saw dalam kitab-Nya, dan siapa yang mampu menandingi karya tulis Sang Ilahi itu. Bukankah Allah berfirman, “Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang seruap Alquran ini, niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lainnya .” (Q.S. al-Isra : 88). Allah telah menggambarkan Sang Nabi dalam Alquran, hanya orang yang sombong, merasa mampu menandingi ungkapan Alquran untuk melukiskan kepribadian Rasul idaman.

Namun, lidah kelu tetap ingin memuja sang Nabi tercinta. Biarlah seperti kata Husain Sayyidi, tetes-tetes air ini berkumpul dan tenggelam dalam mengisahkan luasnya samudera.

Apa kata tetes-tetes air itu?

Tetes-tetes air itu berkata, Muhammad saw adalah puncak karakter manusia dalam pemikiran, perasaan serta perbuatannya. Dia adalah mentari terang yang memberi energi bagi geraknya kehidupan. Dia teladan yang agung dalam sejarah. Dia telah berpasrah diri kepada Allah, serta menjadi padanan kitab Alquran dengan sempurna. Kesempurnaan dan kesuciannya tidak ada bandingnya di alam semesta, bakan para malaikat sekalipun tak mampu mencapainya.

Tetes-tetes air itu berbisik, Muhammad saw dilahirkan dari keturunan yang mulia. Nasabnya berasal dari Ibrahim as yang dinobatkan Tuhan menjadi pemimpin seluruh manusia. Ismail as putranya menjadi pewaris wujud nabi dalam sulbinya, sehingga Tuhan harus bertindak mengubah takdir ketika pedang hampir menebas lehernya. Mengapa pedang tajam itu hanya mampu menebas seekor qibas? Karena Ismail as membawa di dalam dirinya, wujud Muhammad saw yang kelahirannya ditunggu alam semesta. Jika Ismail terbunuh, maka Muhammad tak akan pernah lahir ke dunia. Maka tujuan pencipataan pun menjadi sirna.

Tetes-tetes air itu berbicara, kelahiran Muhammad menjadi tujuan penciptaan semesta, sebab Tuhan berfirman dalam hadis qudsinya, “Seandainya bukan karena Muhammad, Aku tidak akan menciptakan jagat raya”. Inilah sosok yang ditunggu untuk mencurahkan rahmatnya. Jika rahmat Tuhan meliputi segala sesuatu (rahmati wasyi’at kulla syai), maka rahmat Muhammad meliputi seluruh alam semesta (rahmatan lil alamin).

Tetes-tetes air itu juga mengerti, inilah manusia sejati, yang kelahirannya telah diketahui dan ditunggu oleh para nabi. Bahkan Tuhan mengikat janji dan bersaksi bersama para utusannya yang suci, untuk senantiasa menolongnya nanti, “Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi, “Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepada kamu, LALU DATANG KEPADAMU SEORANG RASUL yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman, “Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas hal itu?”. Mereka menjawab, “Kami setuju!”. Allah berfirman, “Kalau begitu bersaksilah dan Aku menjadi saksi bersama kamu” (Q.S. Ali Imran : 81).

Tetes-tetes air itu pun mengabarkan, Inilah Muhammad yang namanya disebut dari Adam as hingga Isa putra Maryam as. Ingatlah ketika Adam dan Hawa keluar dari surga, ia memohon ampun dengan berwasilah kepada Nama Muhammad  Saw yang mulia. Ketahuilah ketika Isa diutus kepada kaumnya, ia mengabarkan, “…Wahai Bani Israel, sesungguhnya aku utusan Tuhan kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad…” (Q.S. As-Shaff : 6)

Tetes-tetws air itu juga mengisahkan, Inilah Muhammad, manusia yang seumur hidupnya senantiasa beribadah sehingga Tuhan pun bersumpah atas umurnya, “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing dalam kemabukan (kesesatan)” (Q.S. al-Hijr : 72). Kita tahu, suatu yang dijadikan objek sumpah tentu adalah sesuatu yang mulia dan menakjubkan. Betapa umur Muhammad saw begitu menakjubkan di mata Tuhannya, dan tentu umur Muhammad saw di dunia ini, diawali sejak kelahirannya.

Jadi, dari tetes-tetes air itu kita tahu, kelahiran Muhammad ssw sudah diperingati Tuhan dan menjadi tujuan penciptaan. Kelahiran Muhammad saw sudah dinanti oleh para Nabi. Kelahiran Muhammad saw dengan bangga ditunggu jagat raya. Kelahiran Muhamad saw menjadi rahmat bagi semesta. Kelahiran Muhammad  Saw disambut malaikat yang mulia. Tapi sayang kini ada yang menganggap bahwa menanti, memperingati, menyambut, dan merayakan kelahiran Muahammad adalah bid’ah, kesesatan, dan siksa neraka. Biarlah kita bersama Tuhan, malaikat, para nabi dan rasul, serta seluruh jagat raya menyambut kelahiran Nabi termulia berada dalam satu “bid’ah” bersama, yaitu “bid’ah” para pecinta. Terimalah ya Muhammadku, salam dari budakmu yang bernama Candiki Repantu.! (CR14)

*Sumber : Lipitanislam.com

%d blogger menyukai ini: