PAHLAWAN TANPA TANDA JASA


Oleh : Dr. Salamuddin, MA*

FB_IMG_1511926390375

Jika ada yang bertanya siapa yang paling berjasa dalam hidup kita? Maka jawabnya adalah orang tua. Merekalah yang melahirkan, merawat dan mendidik kita sehingga sukses seperti saat ini.

Karena itulah bakti kepada orang tua keharusan dalam ajaran Islam. Durhaka pada mereka adalah Puncak kekejian, tidak dapat ditolerir, dan dosa besar.

Orang orang sukses dalam karir di dunia ini ternyata adalah mereka yang sayang pada orang tua, dan tidak sedikit yang terjerembab ke jurang kehancuran hanya karena abai dan menyia-nyiakan mereka.

Rasulullah Saw, Uwais Alqarni, Imam Syafii adalah contoh sosok-sosok yang sangat hormat dan sayang pada orang tua. Pantas, jika sejarah mereka dikenang sepanjang masa dan menjadi inspirasi bagi semua orang. Di sisi lain, ada legenda tentang Malin Kundang dan Sampuraga sebagai sosok yang durhaka kepada orang tua, dan mereka juga dikenang tetapi dalam sejarah kelam dan suram.

Oleh karena itu, marilah menjadi anak yang berbakti pada orang tua supaya hidup kita sukses baik di dunia maupun di akhirat.

Namun dalam tradisi Islam, bakti itu tidak cukup hanya pada orang tua biologis, tetapi juga pada orang tua ideologis, yaitu para guru, yang oleh Imam az-Zurnuji disebut abuka fi ad din.

Peran para guru juga sangat signifikan dalam menentukan arah hidup seseorang sehingga bakti pada mereka merupakan kewajiban bagi para murid. Jika orang tua biologis mengurus perkembangan ‘fisik’, sementara orang tua ideologis menata ‘psikis’ anak anaknya.

Barangkali, Karena signifikannya peran para guru inilah Sayyidina Ali menyatakan, ‘Ana ‘abdun li man ‘allamani harfan’ (Aku hamba bagi siap yang mengajarkan aku satu huruf). Ketundukan total seorang murid dituntut kepada para guru, selama mereka mengajak kepada kebenaran (hamba).

Kedurhakaan kepada para guru juga berat sanksinya. Dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, Imam Az-Zurnuji mengutip hadis yang berisi ancaman bagi para murid durhaka, yaitu, rezekinya sempit, ilmunya lupa, dan mati tanpa iman.

Rezeki sempit tidak selalu bermakna miskin, tetapi bisa jadi hartanya banyak tetapi tidak bermanfaat secara signifikan bagi kemaslahatan diri, keluarga dan umat. Ilmunya juga demikian, tidak aplikatif, tidak dapat diamalkan dan nol manfaat bagi orang lain. Ia guru tetapi tidak punya murid. Ia jenderal tetapi tanpa pasukan. Hidupnya sepi di tengah keramaian, wujuduhu ka ‘adamihi (adanya seperti tiadanya), mati sebelum mati. Yang lebih tragis adalah, sejarahnya ditulis dengan tinta merah, akhir hidupnya su’ul khatimah.

Sementara bakti kepada para guru akan mendapatkan ganjaran yang luar biasa, baik di dunia maupun di akhirat. Hidupnya berkah, wujudnya diperhitungkan, keberadaannya dibutuhkan, sejarahnya ditulis dengan tinta emas dan berlimpah prestasi. walau hidupnya pendek, tetapi dikenang sepanjang masa.

Seorang guru akan selalu dikarunia balasan dari ilmu yang dikembangkan dan diwariskannya, dan doa dari anak (ideologis) yang saleh. Tentukan sejarahmu! (ATN)

*Dr. Salamuddin, MA adalah dosen di UIN SU Medan. Cendekiawan Islam yang produktif dalam menulis dan membangun pemberdayaan umat.

Sumber : FB Salamuddin el-Salami

%d blogger menyukai ini: