AKSARA ARAB MELAYU : IDENTITAS BANGSA YANG DIHILANGKAN


Oleh : Ichwan Azhari*

Screenshot_2017-11-01-07-45-08-880_com.facebook.katana

Kemarin dalam rangka peringatan Kongres Pemuda (28.10.2017) di Lubuklinggau Sumatera Selatan saya diundang menjadi narasumber bersama ahli naskah sunda dari Universitas Padjajaran bapak Undang Ahmad Darsa dan ahli naskah-naskah Sumatera Selatan dari prodi sejarah STKIP PGRI Lubuklinggau bapak Suwandi Syam, dalam seminar nasional “Aksara Daerah Sebagai Identitas Bangsa”.

Dalam seminar ini saya menampilkan tajuk sesuai judul status ini dan mengungkapkan Aksara Arab Melayu (di Malaysia tulisan Jawi , di Jawa aksara Pegon namanya) selama 500 tahun telah menjadi aksara penting dalam bidang politik dan ekonomi internasional, pendidikan, sastra, etnosains, terutama dalam bidang agama Islam dan juga agama Kristen. Teks teks keagamaan Islam dan sastra beraksara Arab Melayu jumlahnya teridentifikasi puluhan ribu di berbagai museum dan perpustakaan di luar negeri.

Raja Inggris James I dan kabinetnya harus faham huruf Arab Melayu untuk bisa membaca (dan tabah) surat penolakan Sultan Iskandar Muda dari Aceh tahun 1615 M yang tidak mengijinkan Inggris berdagang di Pariaman, Sumbar. Izin berdagang nakhoda Inggris di Aceh yang diberikan sultan Alauddin Syah tahun 1602 juga ditulis dalam huruf Arab Melayu.

IMG_20171128_105412

Belanda lewat VOC tahun 1700-an lalu pemerintah Hindia Belanda (Niederlandisch Indie) di Indonesia dan Inggris di Malaysia sejak tahun 1800-an menggunakan huruf Arab Melayu di dalam puluhan uang yang mereka keluarkan selama satu setengah abad.

Malaysia menggunakan huruf Arab Melayu dalam uang mereka sampai hari ini, Indonesia menghilangkannya. Padahal awal 1950an aksara ini masih dipakai dalam uang logam Indonesia bahkan perjuangan kemerdekaan Indonesia di Malaya (1948), aksara Arab Melayu ini digunakan.

IMG_20171101_074324

Tapi kini dibanyak tempat di Indonesia muncul gerakan untuk menghidupkan kembali aksara tradisional ini lewat pendidikan di sekolah. Di Jawa Barat, aksara Sunda sudah mendapat pengesahan wajib diajarkan di sekolah. Karya sastra lama beraksara Sunda dan Pegon mulai dijadikan bahan pembelajaran sastra daerah. Di Sumatra Selatan terdapat 10 aksara tradisional dan sudah ada kabupaten yang menempatkan aksara lokal untuk nama jalan. Mereka juga sedang berjuang mengenalkan aksara Sumsel pada acara besar Asean Games 2018 mendatang di Palembang.

Saya dalam seminar ini menampilkan gambaran bakal bangkitnya kembali aksara Arab Melayu di nusantara. Saya perkirakan, orang yang kini bisa membaca aksara Arab Melayu atau minimal akan mudah membacanya, jumlahnya lebih banyak dan lebih tersebar di banding dulu.

Pesantren, komunitas pengajian Alquran dengan jutaaan jamaahnya sebagai penutur bahasa Indonesia/Melayu hanya selangkah saja yang dengan mudahnya memahami Aksara Arab Melayu.

Internet dengan anak kandungnya smartphone dan media sosial akan mempercepat proses ini. Tak perlu ratusan tahun untuk menghubungkan nusantara dengan satu aksara yang selama berabad abad pernah berfungsi dan menjadi spirit menyatukan Indonesia di masa lalu. (CR14).

*Ichwan Azhari adalah ahli sejarah dan Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial UNIMED. Mengelola Rumah Sejarah Medan di lokasi situs penting Kota Cina. Beliau menyelesaikan doktornya di Universitas Hamburg Jerman.

#Sumber : FB Ichwan Azhari.

%d blogger menyukai ini: