MENTARI KHURASAN


Oleh : Candiki Repantu

IMG-20171119-WA0015

Di Iran, makam suci Imam Ridha as ini menjadi axis Mundi, pusat spiritualitas, tangga penghubung bumi dan langit, lintasan bagi hilir mudiknya malaikat, tempat curahan berkah ilahi, dan pintu gerbang untuk menggapai hakikat kebenaran.

Orang suci yang dimakamkan di tempat ini merupakan wasilah (perantara) bagi terhubungnya ikatan antara yang natural dengan yang supranatural, antara yang profan dengan yang sakral, antara yang imanen dengan yang transenden, atau antara manusia umumnya dengan Sang Pencipta.

Untuk memasuki kawasan makam suci Imam Ridha as, peziarah bisa melalui empat jalan masuk sesuai arah mata angin, yaitu : Utara, Selatan, Barat dan Timur yang semuanya terhubung dengan jalan raya. Di setiap arah ini, terdapat pintu-pintu gerbang raksasa dan beranda-beranda yang megah untuk menyambut kedatangan jutaan peziarah. Bahkan di tiga arahnya yaitu Utara, Barat dan Timur, terdapat beranda-beranda yang bertiang tinggi dan megah. Beranda-beranda dan pintu gerbang tinggi nan megah ini dirancang untuk memberi kesan penyambutan yang memberikan penghormatan timbal balik antara peziarah dan yang diziarahi.

Berbagai arah dan banyaknya pintu masuk serta halaman-halaman yang luas memberikan pesan kepada para peziarah bahwa terbentang jalan luas dari berbagai arah untuk menuju satu titik pusat ilahiah. Hal ini juga mengingatkan kita pada pesan Nabi Ya’qub as kepada para putranya agar masuk dari berbagai arah dan pintu. Seolah ingin mengatakan “banyak jalan menuju Tuhan”.

Salah satu halaman untuk menampung para peziarah Imam Ridha as adalah Sahne Jami Razavi yang luas dan indah. Sahne Jami’ Razavi ini merupakan halaman terbesar di kompleks Makam Imam Ridha as. Untuk memasuki halaman ini bisa melalui dua pintu gerbang raksasa yaitu Bab al- Ridha (Pintu Gerbang Ridha) yang bersambung ke jalan raya Imam Ridha dan Bab al-Jawab (Pintu Gerbang Jawad) yang bersambung ke jalan raya Khosrovi atau Syahid Andarezgu.

Halaman luas ini memiliki lantai yang terdiri dari campuran batu berwarna dan granit. Di bawah halaman terdapat tempat parkir bawah tanah yang untuk mencapainya di buat dua terowongan penghubung. Di sisi atas kedua terowongan ini dihiasi dengan berbagai ornamen yang dibentuk dengan bentuk matahari.

Lukisan dan susunan ubin dalam bentuk matahari atau segi delapan banyak tersebar di setiap ruangan, dinding, dan halaman. Bentuk matahari yang disebut syamse ini adalah simbol bagi negeri Khurasan. Bukan hanya dinding yang dilukis dengan tetapi terdapat juga menara yang dibangun dalam bentuk delapan sudut dan kalau dilihat dari atas seperti bentuk matahari.

Simbol delapan sudut yang membentuk matahari tersebut dibuat karena Imam Ridha as merupakan Imam kedelapan dari dua belas Imam Mazhab Syiah. Nama Khurasan sendiri menurut Dr. Ghulam Ridha, terdiri dari dua suku kata, yaitu “Khur” dan “Ashan” yang berarti bumi tempat bersinarnya matahari. Dan imam Ridha as selain pemimpin agama disebut juga sebagai Syamse Khurasan, “Mataharinya Khurasan” atau Syamse Thus, “Mataharinya Thus”.

Iringan para peziarah berjalan dengan khusyu dan penuh penghormatan dari halaman luas ini menuju pusara suci, melalui banyak pintu masuk yang bersambung ke beberapa ruangan di dalam komplek Makam Imam as. Di antaranya, pintu yang bersambung ke ruangan Imam Khumaini, pintu masuk ke Sahne Quds, dan pintu masuk yang bersambung ke makam Syaikh Baha’i. Dari ruangan-ruangan inilah, peziarah berjalan perlahan dengan lisan dipenuhi zikir, doa dan solawat, menuju ke zarih suci Imam Ridha as yang terletak di bawah kubah emas Raudhah al-Munawwarah (Taman yang Bercahaya), tempat dan pusat utama spiritualitas ziarah.

Zarih adalah rumah bagi pusara suci yang berbentuk empat segi yang dibuat dari lapisan perak dan emas. Di dalam zarih inilah terletak pusara suci Imam Ridha as. Zarih di makam suci ini pertama kali dipasang pada masa Dinasti Syafawi. Sejak saat itu hingga sekarang ini telah lima kali terjadi pergantian zarih diikuti dengan penggantian batu pusaranya. Zarih yang saat ini digunakan adalah zarih kelima yang disebut Zarih Aftab atau Zarih Mentari.

Zarih Mentari ini memiliki desain yang sangat rumit yang dibuat oleh seniman dan perancang ternama Iran, Mahmud Farsyiciyan. Butuh waktu sekitar delapan tahun untuk membuatnya dengan kualitas dan komposisi yang tepat yang terdiri dari bingkai besi, baja, dan kayu serta dilapisi dengan perak dan emas dengan berat 12 ton. Zarih ini dihiasi dengan beragam ornamen artistik yang sesuai dengan prinsip dan dimensi seni yang berkembang pada era mutakhir masa kini dipadukan dengan simbol-simbol seni arsitektur dan bangunan klasik Makam Suci.

Di sekeliling zarih di hiasi oleh kaligrafi Alquran sepeti surat Yasin dan Surat al-Insan yang ditulis dengan khat tsulus dengan sepuhan emas dan perak. Pada keempat dinding zarih ini terdapat empat belas jendela atau lubang yang menyimbolkan empat belas orang suci dalam Mazhab Syiah. Selain itu juga dihiasi dengan ornamen lima kelopak bunga dengan delapan lembar seratnya. Jumlah ini memiliki makna tertentu. Lima kelopak bunga merupakan simbol lima orang ahlul kisa’ yang suci yaitu Nabi Saw, Imam Ali as, Syaidah Fatimah as, Imam Hasan as, dan Imam Husain as. Sedangkan delapan serat merupakan simbol delapan orang manusia suci lainnya yang telah wafat. Atau dimaknai juga sebagai simbol Imam Ridha as yang merupakan imam kedelapan.

Selain itu, terdapat juga ornamen bentuk-bentuk bunga matahari yang memancarkan sinarnya di seputar zarih yang merupakan simbol keagungan dan gelar Syams as-Syumus (Mataharinya Mentari) yang dinisbatkan pada kedudukan Imam Ridha sebagai Syamse Khurasan. Selanjutnya pada interior atap dan dinding bagian dalam zarih diperindah dan dibubuhi dengan aneka hiasan dan tulisan nama-nama Allah SWT (Asmaul Husna) yang dipahat dengan cermat.

Di depan zarih inilah, setelah melalui berbagai jalan, pintu gerbang, ruangan, dan lorong-lorong indah, seorang peziarah dengan penuh pengharapan, kerinduan dan cinta yang mendalam untuk menyatukan ruhnya dengan ruh suci sang Imam. Salawat kepada Nabi dan keluarganya senantiasa terdengar dari lisan para peziarah sampai hingga mencapai pusara suci Imam Ridha as. Cukup sulit untuk sampai persis di depan zarih karena ramainya manusia yang berdesak-desakan. Namun semua itu tak menyurutkan semangat. Suara gemuruh doa dan gelombang gerakan manusia dari segala arah berhimpitan menuju satu titik tujuan, pusara suci Sang Imam. Sesampainya di depan zarih pusara suci, semua usaha dan perjalanan melelahkan sirna begitu saja berganti dengan suasana haru, luapan kasih dan tangisan kerinduan. Di situlah kita menyampaikan salam kerinduan.

Assalamu alaika ya waritsa Muhammad Rasulillah
Assalamu alaika ya waritsa Amiril mukminin Aliyy ibn Abi Thalib
Assalamu alaika ya waritsa Fatimah az-Zahra
Assalamu alaika ya waritsa Al-Hasan wa al-Husain Sayyida syababi ahlil jannah
Assalamu alaika ya Abal Hasan wa rahmatullahi wa barakatuh

Ya Abal Hasan ya Ali ibn Musa
Ayyuhar Ridha ya ibn Rasulullah
Ya hujjatallah ‘ala khalqih
Ya sayyidina wa Maulana
Inna tawajjahna wa asy-tasfa’na
Wa tawassalna bika ilallah
Wa qaddamnaka baina yadai hajatina
Ya Wajihan insyallah, isyfa’lana ‘indallah.

Mengenang Syahidnya Imam Ridha as
30 Shafar 1439 H
🙏🌷
CR14

%d blogger menyukai ini: