DETIK-DETIK YANG MENENTUKAN


Oleh : Candiki Repantu

IMG_20171118_151602

Wajah agung itu kini pucat pasi, menahan sakit di sekujur tubuhnya yang nyeri. Suhu panas yang melanda tubuhnya pun semakin meningkat, sampai selimutnya pun terasa panas menyengat, namun tubuh itu menggigil seperti dilanda dingin yang sangat. Isteri-isterinya datang silih berganti, menjenguk suami yang mereka cintai, berusaha menghibur hati sang Nabi. “Sungguh racun yang mengendap di dalam tubuhku, kini mulai memutus urat-urat nadiku, mengacaukan peredaran darahku” keluh Nabi Saw memberitahu.

Tak ketinggalan pula putrinya tercinta, Sayidah Fatimah Ummu abiha, setiap saat datang menjenguk ayahnya. Inilah Fatimah, cahaya mata pelipur lara, yang sejak kecil sudah mengasuh ayahnya, dalam suka maupum duka. Kini pada detik-detik terakhir yang menentukan, Fatimah semakin sering menjenguk ayahnya tanpa bosan, bahkan jika belum datang, Nabi akan meminta untuk segera dipanggilkan.

Abu Dzar pernah berkisah, “Ketika detik-detik penyakit Nabi Saw semakin parah, kami datang menjenguk. Nabi bersabda, “Panggilan putriku Fatimah untuk datang kemari.” Kemudian aku berdiri lalu pergi menemui Sayidah Zahra dan menyampaikan pesan sang Nabi, “Wahai wanita yang paling mulia, ayahmu memanggilmu segera.” Fatimah pun bergegas keluar mengunjunginya.

Saat melihat ayahnya di pembaringan, air matanya pun jatuh berlinangan, tak mampu Fatimah menahan tangisan. Inilah Fatimah belahan jiwa, tempat Nabi menumpahkan seluruh kasih sayangnya. Setiap melihatnya seolah semua derita hilang begitu saja, kerutan kening Sang Nabi ketika menahan sakitnya, berubah menjadi senyum bahagia, di saat melihat sang putri tercinta.

Ada satu tradisi ayahnya yang tak pernah dilupakan Az-Zahra. Yaitu sambutan Nabi Saw dalam setiap kedatangannya. Fatimah pernah mengenangnya, “Setiap aku datang menemui ayahku, beliau berdiri menyambutku dan mengulurkan wajahnya untuk menciumku”.

Tapi kini, ketika Fatimah datang, Nabi terbaring lemah di pembaringan, Nabi berusaha bangkit memberikan sambutan, tapi tubuh yang lemah tak mengijinkan, hanya seuntai senyum yang mampu disampaikan.

Wajah haru dan tatapan rindu, melihat Fatimah telah berdiri di balik pintu, Nabi berusaha mengumpulkan tenaganya, untuk berdiri memeluk Az-Zahra, tapi tulangnya seolah terasa linu, darahnya seakan beku, dan ototnya seperti kaku, sehingga dudukpun Nabi tiada mampu. Fatimah menyadari hal itu, maka ia pun bergegas datang memburu, agar Nabi bisa menumpahkan segala rindu.

Seperti biasanya, Nabi pun ingin mencium putrinya, tapi lagi-lagi tak mampu bangkit dari pembaringannya. Fatimah melihat harapan di mata ayahnya, maka ia pun tak ingin membuatnya kecewa. Fatimah mendekatkan wajahnya untuk menerima kecupan cinta sang ayah, dan tak lupa pula ia hadiahkan sebuah kecupan lembut di kening ayahnya dengan deraian air mata.

Lalu Nabi Saw meminta agar Ali dipanggil menghadapnya, ” Panggilkan Ali saudaraku untuk segera kemari menemuiku”. Tak menunggu lama, Ali pun datang menghadap junjungannya, duduk di sisi Nabi dengan seluruh kesedihannya. Nabi berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Ali bergegas menyambutnya dan menyandarkan beliau ke dadanya. Hembusan nafas suci Nabi menyentuh dada Imam Ali menembus relung-relung hati sang washi dalam senandung duka di akhir hidup Al Mustafa. Nabi saw pun menyampaikan kepada Imam Ali rahasia ilmu-ilmu ilahi. Ada sejuta bab ilmu yang disampaikan Nabi saw kepada Ali as sesaat sebelum hembusan nafas terakhirnya. Inilah rahasia mengapa Nabi bersabda, “Aku kota ilmu dan Ali adalah pintunya”.

Setelah itu, Jibril as dan Izrail as turun menemui Nabi. Mereka memberikan pilihan kepada Nabi, apakah mau disembuhkan dari sakitnya atau wafat saat itu juga. Nabi saw memilih untuk bertemu ilahi Rabbi. Karena keinginannya untuk segara bertemu Kekasih Pujaan sudah tak lagi tertahankan. Izrail pun melakukan tugasnya, dengan penuh hormat ia meminta izin kepada Nabi untuk mengambil ruhnya yang suci. Sesungguhnya Allah merindukannya, dan dia merindukan Tuhannya. Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’un.

Dalam kenangan jiwanya, Imam Ali as mengisahkan pada dunia : “Ketika Nabi Saw wafat, kepala beliau bersandar di dadaku, sementara hembusan nafas terakhirnya menyentuh kedua telapak tanganku. aku pun mengusapkannya ke seluruh wajahku. Kemudian aku memandikan beliau dengan bantuan para malaikat.” (Nahjul Balaghah, khutbah 197).

Dengan wajah penuh duka nestapa, Imam Ali turun untuk menguburkan jasad Nabi dengan deraian air mata. Tak kuasa Sayidah Fatimah, melihat butiran-butiran tanah yang menimbun jasad sang ayah. Suara tangisnya tak henti, air matanya terus berurai, bahkan duka itu terus meliputi hari-hari sang putri. Dalam dukanya, Fatimah mengambil tanah pusara ayahnya, ia taburkan ke kepalanya dan mengusapkan ke wajahnya, sembari ia sampaikan seuntai syair penuh makna :

Kusampaikan kepada sosok yang tertimbun tanah ini
Dengarkanlah suara dan panggilanku ini
Sungguh, musibah demi musibah datang berubi-tubi
Yang andaikan musibah itu melanda di siang hari
Niscaya siang akan berubah menjadi malam yang sunyi.

Saat Muhammad melindungiku
Tak ada kezaliman yang menakutkanku
Tapi kini, aku dipaksa tunduk pada orang-orang itu
Dengan kezaliman mereka menakuti dan memaksaku
Sementara penolong dan pelindungku hanyalah sepotong baju

Di langit bintang gemintang memenuhi malam dengan ratapan
Di pagi hari, Aku larut dalam tangisan
Kesedihan setelah pergumulan adalah ketenangan
Deraian air mata untukmu kusandang bagai selendang.
(Syaikh Abbas Al-Qummi, Mafatih Jinan, juz 2)

IMG_20171118_150633

Hari ini, 28 Shafar adalah akhir perjalanan hidup junjungan alam. Seluruh makhluk hanyut dalam irama duka dan senandung kesedihan.

YaRasulullah, demi ayah dan ibu kami, demi isteri/suami dan anak-anak kami, demi jiwa dan darah kami, demi harta dan raga kami, kami persembahkan sebagai tebusan, terimalah salam dari kami budakmu yang hina dina ini :

Assalamu alaika ya Rasulullah
Assalamu alaika ya Nabiyallah
Assalamu alaika ya Khalilallah
Assalamu alaika ya Shafiyallah
Assalamu alaika ya Rahmatullah
Assalamu alaika ya Khiratallah
Assalamu alaika ya Habiballah
Assalamu alaika ya Najib Allah
Assalamu alaika ya Muhammad ibn Abdillah warahmatullahi wa barakatuh.
Ya Wajihan ‘indallah, isyfa’lana ‘indallah.

😭😭🌷🌷

Yayasan Islam Abu Thalib
Medan, 28 Shafar 1439 H
(CR14).

%d blogger menyukai ini: