RAHASIA MENANGIS DAN MERATAP UNTUK IMAM HUSAIN AS


FB_IMG_1507796458941

Beberapa waktu yang lalu, para penganut Mazhab Syiah dan  para pecinta keluarga  Nabi Saw di seluruh dunia mengadakan peringatan Yaumul Asyura, yaitu hari syahidnya Imam Husain as, keluarga dan para sahabatnya di sebuah tempat  yang bernama Padang Karbala, Irak.

Syahidnya Imam Husain as dengan cara yang tragis yakni di bantai oleh ribuan pasukan dengan disembelih kepalanya  sehingga terpisah dengan jasadnya. Peristiwa ini menjadi peristiwa sejarah kelam dalam Islam karena para pembantainya adalah orang-orang yang juga beragama Islam atas perintah Khalifah pada masa itu yakni Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan.

Dalam peringatan Yaumul Asyura tersebut, para pecinta Imam Husain as ini larut dalam kesedihan dan duka yang mendalam. Berbagai ekspresi dilakukan mulai dari menangis, menceritakan peristiwa terbunuhnya Imam Husain as, menyenandungkan syair-syair duka, hingga memukul-mukul dada. Hal ini biasanya disebut dengan meratapi kematian oleh masyarakat kita.

Bukankah menangis, bersedih, dan meratap untuk orang yang sudah wafat adalah terlarang dalam agama? Bukankah peristiwa ini sudah berlalu, tapi mengapa masih terus di ingat-ingat dan dilakukan berbagai kegiatan untuk mengenangnya? Apa sih manfaat dan rahasia di balik ratapan dan tangisan di Hari Asyura ini?

Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut dan mengetahui rahasia Hari Asyura, maka redaksi Abu Thalib News (ATN) menemui ketua Yayasan Islam Abu Thalib Medan, Ustadz Candiki Repantu agar pendapatan penjelasan yang detil tentang masalah ini.

Berikut ini ATN menuliskan poin-poin penting yang disampaikan oleh Ustadz Candiki Repantu tentang rahasia tangisan dan ratapan di Hari Asyura. Semoga bermanfaat.

1). Manusia pada dasarnya memiliki berbagai macam ekspresi. Diantaranya ada ekspresi senang, ada ekspresi bingung, ada ekspresi lupa, ada ekspresi marah, ada ekspresi benci, dan ada juga ekspresi kesedihan.

2). Ekspresi emosional tesebut memiliki bentuknya masing-masing baik dengan ekspresi mata atau wajah, ucapan, atau bahkan gerakan tubuh. Misalnya, dalam keadaan senang atau lucu, maka muncullah ekspresi wajah yg ceria, ucapan tertawa atau teriakan kesenangan, gerakan tepuk-tepuk tangan atau lompat-lompat, dan sebagainya.

Kalau lagi marah misalnya, maka ekspresi wajah kita cemberut misalnya, mata melotot, ucapannya kasar atau nasehat, tangan memukul, dsb.

Kalau lupa, ekspresi mata akan menyipit, kening berkerut, lidah akan berucap “alamak lupa”, tangan akan memukul dahi.

Ada ekspresi cinta, benci dan lainnya yang ekspresi itu terlihat melalui mimik wajah, mata, bibir, ucapan tertentu, gerakan tangan dan tubuh, serta lainnya.

3). Maka begitu pula kalau bersedih, akan lahir ekspresinya juga. Wajah akan murung, Mata akan menangis, lidah akan meratap, tangan akan memukul dada, dan sebagainya yang sesuai dengan situasinya.

Jadi, menangis dan meratap adalah salah satu ekspresi dari berbagai ekspresi yang ada pada diri manusia.

4). Tentu ekspresi ini memiliki batas2-batas kebolehan dan larangan dalam agama Islam. Maka kita pun akan menangis dan meratap dalam batas-batas yang dibolehkan tersebut. Misalnya para ulama Syiah seperti Sayid Ali Khamenei menegaskan tidak boleh bersedih kepada Imam Husain sampai melakukan perbuatan yang melukai diri.

5). Pada prinsipnya, sesuatu itu bisa bernilai mulia atau hina jika dikaitkan dengan sesuatu yang lain yang punya kedudukan mulia atau hina. Begitulah air mata dan ucapan atau ratapan adalah hal biasa bagi kita. Tapi air mata dan ratapan itu punya nilai agung dan mulia ketika dihubungkan dengan wujud yang agung dan mulia. Karena Imam Husain as punya kedudukan agung dan mulia di sisi Allah SWT, maka tangisan dan ratapan kepadanya adalah bernilai agung dan mulia pula. Begitu pula berduka untuk Rasulullah Saw, Imam Ali, dan Sayidah Fatimah adalah duka yang dimuliakan.

6). Kemudian juga, suatu tangisan dan ratapan itu timbul berakar dari kecintaan. Kita bahagia kalau orang yang kita cintai sedang bahagia, dan kita tentu sedih kalau orang yang kita cintai bersedih. Kita berduka kalau orang yang kita cintai berduka. Maka ketika Imam Husain, Imam Ali, Sayidah Fatimah, dan Rasulullah Saw berduka dan bersedih maka kita yang mengaku mencintai mereka tentu juga ikut larut dalam duka dan kesedihan tersebut.

Alquran memerintahkan kita untuk mencintai keluarga Nabi Saw dan cinta itu sebagai upah kepada Nabi saw. Maka mencintai al-Husain as adalah bagian dari agama dan termasuk mengamalkan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Dengan begitu, tangisan dan ratapan yang kita persembahkan kepada Al-Husain as adalah berakar dari cinta yang diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya.

7). Dalam banyak riwayat disampaikan kepada kita bahwa tangisan dan ratapan kepada Imam Husain adalah tradisi para nabi dan keluarga nabi sepanjang sejarah manusia. Imam Husain as adalah satu-satunya manusia yang dirinya dipenuhi dengan derai air mata. Dia lah yang sebelum lahir ditangisi, ketika lahir ditangisi, ketika hidup ditangisi dan setelah wafatnya juga ditangisi. Tangisan dan ratapan untuk Al-Husain as telah dilakukan Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad Saw, dan dilakukan juga Imam Ali as, Sayidah Fatimah as, Imam Hasan, dan lain-lain hingga Imam Mahdi afs.

Dengan demikian, ketika kita menangis untuk Al-Husain, maka kita sedang menggabungkan diri kita dengan seluruh manusia suci dari sejak para nabi dahulu hingga imam yang suci di masa kini. Dan bergabung bersama para manusia suci tentu adalah keagungan dan kemuliaan.

8). Menangis dan meratap utk Imam Husain as dilakukan berulang-ulang juga untuk menjaga sunnah para Nabi tersebut, memelihara kecintaan kita pd mereka, mengingatkan manusia akan peristiwa sejarah yang kelam sehingga bisa dijadikan pelajaran bagi kita semuanyq, seperti misalnya untuk membangkitkan semangat perjuangan, mengenal kesetiaan, keberanian, pengorbanan suci, dan lainnya, disamping juga mengajarkan untuk membenci pengkhianatan, kebodohan, kedengkian, ketamakan pd dunia, dan kezaliman para penguasa.

Karena itu menangis dan meratap utk Imam Husain adalah berasal dari fitrah, kecintaan, mengambil pelajaran dan i’tibar dari peristiwa sejarah, dan mengikuti serta memelihara sunnah para nabi dan keluarga nabi Saw.

Demikian secara singkat penjelasannya. Semoga bermanfaat. (ATN)

%d blogger menyukai ini: