PROF. ULI KOZOK : SISINGAMANGARAJA DIPASTIKAN BUKAN BERAGAMA KRISTEN, TAPI JUGA TIDAK BISA DIPASTIKAN BERAGAMA ISLAM.


IMG_20171018_100258

Rabu, 18 Oktober 2017, bertempat di Aula Program Pasca Sarjana UIN SU diadakan seminar mengulas tentang “Hubungan Bendera Sisingamangaraja XII dengan Kerajaan Aceh dan Turki” yang dihadiri oleh Prof. Uli Kozok, dari University of Hawai, Amerika. Beliau adalah peneliti dan ahli kebudayaan Batak.

Dalam seminar tersebut, Prof. Uli Kozok menegaskan bahwa Singamangaraja dipastikan bukan beragama Kristen. Beliau membuktikan bahwa Nommensen, seorang penginjil dari Jerman, bermusuhan dengan Singamangaraja XII. Hal itu terlihat dalam surat-surat yang ditulis Nomensen dan permintaan bantuan Nomensen kepada Belanda untuk memerangi Sisingamangaraja XII. Dari surat-surat Nomensen tersebut jelas bahwa Singamangaraja bukanlah Kristen.

Tapi apakah itu berarti Sisingamangaraja XII adalah seorang Muslim? “Tidak juga”, kata Uli Kozok. Menurutnya tidak cukup bukti untuk mengatakan Singamangaraja masuk Islam, walaupun diakuinya kalau Singamangaraja memiliki ikatan atau hubungan yg kuat dengan kerajaan Islam terutama Aceh.

Misalnya benderanya yang sangat dipengaruhi oleh Kerajaan Aceh. Sebab, Bendera Sisingamangaraja XII yang dilihat Prof. Uli di Museum Aan De Stroom, Belgia, yang di atasnya ada percikan darah Sisingamangaraja, disekeliling bendera itu terdapat tulisan yang menggunakan bahasa Aceh yang ditulis dengan huruf Arab Jawi (Arab Melayu). Di dalamnya juga ada ayat-ayat Alquran. (Prof. Uli belum bisa membacakan semua isi tulisan di dalam bendera Singamangaraja karena masih dalam proses penelitian dan penerjemahan). Bendera tersebut adalah peninggalan dari Kapten Hans Christoffel, prajurit yang membunuh Singamangaraja.

Bendera Singamangaraja XII tersebut terdiri dari Matahari atau bintang, bulan dan pedang berkepala ganda.

Simbol matahari dan bulan menurut Prof. Uli, jika ditelusuri simbol seperri ini ditemukan telah ada sejak masa pra Islam yaitu masa Kekaisaran Byzantium. Jadi, ada kemungkinan simbol ini di adopsi dari Byzantium. Sedangkan pedang berkepala ganda itu kata Prof. Uli, konon adalah milik Ali bin Abi Thalib yg diberikan oleh Nabi Muhammad, yg diberi nama Zulfikar. Karena perang yang begitu dahsyat dilakukan Ali, hingga pedang itu terbelah dua.

Gambar pedang ini banyak digunakan sebagai bendera di seluruh Dunia Islam bahkan dalam hiasan lainnya. Biasanya ada juga tulisan Arab yang menyertainya yaitu “Laa fata Illa Ali wa laa sayf Illa Dzulfikar”, Tiada pemuda seberani Ali dan tiada pedang sebagus Zulfikar. Gembar ini jelas pengaruh Islam.

IMG_20171018_142835

Gbr. Dua Bendera Sisingamangaraja XII yang ada di Museum Aan De Stroom, Belgia.

 

Lalu, Bagaimana bisa sampai ke tanah Batak dan menjadi bendera Sisingamaraja XII?

Jawabnya, lewat Kerajaam Turki Usmani. Yang mana Turki Usmani membuat bendera dengan lambang tersebut. Dan kemudian Kerajaan Aceh yang ketika itu membangun hubungan dengan Kerajaan Turki mengambil simbol bendera tersebut. Dan akhirnya Sisingamangaraja XII menerima bendera Aceh itu sebagai bendera bagi kerajaannya.

Lantas kenapa Singamangaraja tidak masuk Islam padahal dia sudah punya hubungan yg sangat erat dengan kerajaan Islam Aceh, bahkan mengunakan bendera, cap dan simbol-simbol Islam lainnya?

Menurut Uli Kozok, Singamangaraja tidak masuk Islam adalah demi mempertahankan basis massanya. Yang mana kalau ia masuk Islam maka ia akan kehilangan kepercayaan masyarakatnya. Jadi dengan demikian ia tetap beragama dengan agama tradisional Batak, atau agama nenek moyang. (CR14)

%d blogger menyukai ini: