MANIK MANIK KUNO DAN KONSTRUKSI BUDAYA SAMPAI KE MASA KINI (PERBURUAN KE SULAWESI TENGAH)


Oleh : Dr. Phil. Ichwan Azhari M.S.*

FB_IMG_1508035588291

Banyak jejak budaya kuno yang terputus di era moderen. Tapi manik manik kuno merupakan salah satu pengecualian. Pada hari ahad (8.10.2017) saya berada di Museum Sulawesi Tengah (Sulteng) di Kota Palu dan mencari informasi tentang manik manik kuno yang beredar di Sulawesi Tengah sebagai jejak silang budaya global yang masuk lewat jalur perdagangan di Indonesia Timur.

Saya tergugah mendengar penuturan staf museum yang menjelaskan adanya beberapa desa di pedalaman Sulteng yang masih memproduksi manik manik lokal secara tradisional. Manik manik lokal Sulteng “dikawinkan” dengan manik manik dari Afrika, Timur Tengah, India Selatan, Indo Pasifik termasuk Polynesia dalam satu rangkaian “konstruksi” budaya setempat selama berabad abad. Dan uniknya masih berlangsung terus sampai kini dalam berbagai keperluan adat dan ritual.

FB_IMG_1508035608955

Dari Museum Sulteng saya minta petunjuk untuk dibawa ke kolektor barang antik yang ada di kota Palu. Saya dipertemukan di deretan ruko kota Palu dengan seorang saudagar barang antik asal Sulawesi Selatan yang untuk sementara saya namakan Daeng Maniki. Sang kolektor berkisah tentang manik manik kuno jenis tertentu yang saat ini masih dicari tokoh tokoh adat Sulteng dengan harga perbutir mencapai 300 ribu rupiah. Manik manik kuno jenis tertentu ini diperlukan sebagai suatu syarat penting dalam rangkaian manik manik untuk upacara adat.

Betapa menariknya penelitian antropologi yang mengungkapkan artefak sejarah kuno lebih 1000 tahun lalu masih disandingkan dalam berbagai tradisi masa kini di Sulteng. Di tempat lain manik manik kuno berhenti sebagai artefak arkeologis tapi di beberapa kawasan di Sulteng berlanjut ke tradisi yang masih hidup di masa kini.

Dari wawancara saya ke beberapa orang saya ketahui bahwa Sulteng nemiliki defosit manik manik kuno yang luar biasa. Bahkan dari periode pra sejarah di kuburan kuno termasuk di beberapa gua di Sulteng, sering ditemukan manik manik sebagai bekal kubur. Beruntung Museum Sulteng memiliki kesadaran mengoleksi ribuan butir manik manik yang ditemukan. Tapi museum inipun tidak memiliki dana, tidak berdaya untuk melengkapi berbagai tipe koleksi manik-manik yang beragam, sementara di luar museum sana ada ratusan ribu manik manik hasil buruan liar warga ke berbagai situs dan kuburan kuno Sulteng. Dan manik manik kuno Sulteng ini (juga keris, arca, tenunan kuno dan ribuan artefak budaya lainnya)mengalir ke pedagang barang antik di Bali dan dari Bali masuk ke pasar barang antik internasional. Defosit artefak kuno Indonesia sepertinya tidak bisa dicegah lari ke luar negeri.

Saya ucapkan terimakasih pada Daeng Maniki yang memberikan saya (dengan kompensasi) sejumlah manik-manik kuno Sulteng untuk menambah koleksi Rumah Manik-Manik Nusantara di Medan. Manik manik bukanlah semata perhiasan pada zamannya. Lewat manik manik kita bisa belajar tentang jejak peradaban, jalur perdagangan kuno, teknologi, karya seni, ritual, tradisi adat, status sosial, termasuk (seperti halnya di Sulteng) perubahan budaya. (CR14)

*Ichwan Azhari adalah Antropolog dan Ketua Pusat Studi Ilmu Sejarah UNIMED dan Pemilik Museum Kota Cina Medan.

%d blogger menyukai ini: