AKU TAK MEMBUTUHKAN KUDAMU!


Oleh : Candiki Repantu

Satu Muharram, rombongan kafilah Imam Husain menerabas jalanan gersang padang pasir Irak menuju Kufah. Di tengah perjalanan, di sebuah tempat yang bernama Qashr Bani Muqatil Imam Husain melihat sebuah tenda yang terpancang kokoh dengan tombak dan kuda mengitarinya. Inilah tenda tempat berteduhnya Ubaidillah bin Hurr al-Ju’fi dan Amr bin Qais melepas lelah mereka.

Melihat tenda tersebut, terbersit di hati Imam Husain as untuk mengajak mereka bergabung bersama kafilahnya. Maka diutuslah Hajjaj bin Masyruq menjumpai Ubaidillah bin Hurr menyampaikan undangan Sang Imam agar mereka berkenan mengunjungi Imam Husain di tendanya. Mendengar undangan Sang Imam, Ubaidillah sontak mengatakan “Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji’un”. Dia sudah bisa merasakan apa yang diinginkan Sang Imam dari dirinya. Setelah berpikir sejenak, Ubaidillah meminta maaf, agar diizinkan untuk tidak menemui Sang Imam. Ia menolak undangan putra Rasul yang mulia. Ia enggan datang menghadap Imam Husain as, “Maafkan daku, Aku tidak bisa menolong dia dan aku tidak ingin dia melihatku atau aku melihatnya” kata Ubaidillah.

Hajjaj bin Masyruq menyampaikan permohonan maaf dan keengganan Ubaidillah kepada Sang Imam. Namun, seperti belum merasa puas atas jawaban Ubaidillah, dan tanpa menyurutkan keinginanya, Imam Husain as dengan penuh kerendahan hati, datang sendiri melangkahkan kaki ke tenda Ubaidillah al-Ju’fi. Sang Imam mengajaknya untuk bergabung bersama kafilahnya dan mendukung perjuangannya. Namun tak disangka, wajah suci Sang Imam tak sedikitpun menggoyahkan jiwa Ubaidillah. Seruan belahan jiwa Nabi ini tak menyentuh ke relung hatinya sehingga tergugah untuk bangkit memenuhi panggilan ilahi ini. Seperti halnya kepada Hajjaj bin Masyruq, Ubaidillah menyampaikan maafnya dan tak berniat membantu cucu nabinya.

Imam Husain as berkata, “Wahai Ubaidillah, jika engkau enggan membantu kami, maka janganlah engkau memerangi kami. Demi Allah, seorang yang mendengar seruan kami dan tidak ingin menolong kami niscaya dirinya akan binasa.”

Dengan gusar Ubaidillah menjawab, “Demi Allah, setiap orang yang bergabung denganmu pasti memperoleh kebahagiaan kelak di akhirat. Tapi aku bingung dan tidak tahu jatus melakukan apa untuk Anda. Di Kufah, aku tidak mengetahui seorangpun yang akan menolongmu. Demi Allah, aku belum menginginkan kematian, karenanya aku mohon jangan paksa aku mengikutimu. Ambillah kudaku ini, aku berikan untuk mendampingimu.”

Mendengar jawaban Ubaidillah, sungguh dalam duka, nestapa, derita, dan kesedihan melanda jiwa putra Fatimah as. Imam Husain menatap lekat wajah Ubaidillah, seolah ingin menembus keresahan di dalam jiwanya. Inikah jawaban untuk putra Nabi yang memelas meminta pertolongan umatnya? Inikah penolakan untuk seruan ilahi?

Apakah tak ada lagi orang yang bersedia membelanya sehingga harus seekor kuda yang mendampinginya?

Apakah panggilan sucinya tak ada lagi harganya sehingga nilainya hanyalah seekor binatang?

Apakah dunia begitu mempesona umat kakeknya sehingga mereka takut menjumpai kematiannya?

Tidak adakah lagi kaum yang merindukan surga untuk bergabung bersama Sang Penghulu pemuda surga?

Tidak adakah lagi orang yang mencintai al-Husain as sebagaimana Nabi dan Allah SWT mencintainya?

Bukankah Bara bin Azib, seorang sahabat Rasul Saw menceritakan, “Suatu hari aku melihat Rasulullah Saw menggendong Husain sambil berdoa, ‘Allahumma inni uhibbuhu fa uhibbahu’ (Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia).”

Bukankah para pecinta siap berkorban untuk orang yang dicintainya? Lantas apakah tidak ada yang ingin berkorban untuk Al-Husain as?

Namun, inilah yang terjadi. Ketika Imam Husain as mengajak manusia ke surga, memanggil umat mendukungnya, menyeru kaum menaiki bahtera keselamatan, mengharap para pecinta untuk berkorban, tapi apa yang didapatnya? Hanyalah seekor kuda peliharaan. “Wahai Ubaidillah, kalau kau tak mau menolongku, maka aku pun tak membutuhkan kudamu” jawab Sang Imam.

Saudaraku, kini satu Muharram sudah memasuki kita. Panggilan Imam Husain kembali menggema, “Adakah yang mau menolongku?”. Inilah teriakan Al-Husain yang menggema dari Karbala sampai ke seluruh dunia. Suara gaib Imam Husain melintasi ruang dan waktu, menggoncang jiwa-jiwa para pecinta, untuk bergegas memenuhi panggilannya. Apakah kita akan menjadi penerus suara Ubaidillah yang hanya menyerahkan kudanya untuk mendampingi Imamnya? Atau kita akan menyambutnya dalam satu teriakan yang mendunia, “Labbaika ya Husain, Labbaika Ya Husian, Labbaika Ya Husain!”. Dimanakah kita? (CR14).

%d blogger menyukai ini: