Tadarus Ramadhan (29) : SALAM PERPISAHAN


Oleh : Candiki Repantu

“Suatu hari Nabi Musa as berdoa, ‘Ya Tuhanku, aku ingin kedekatan dengan-Mu’. Allah berfirman, ‘Kedekatan dengan Ku akan didapat orang yang bangun pada malam qadar.’

Musa berdoa lagi, ‘Tuhanku, aku ingin limpahan rahmat-Mu.’ Allah berfirman, ‘Rahmat Ku untuk orang yang menyantuni kaum miskin pada malam qadar.’

Musa memohon lagi, ‘Tuhan Ku, aku ingin kemudahan melewati jembatan shirat.’ Allah menjawab, ‘Itu akan Kuberikan kepada orang yang bersedekah pada malam qadar.’

Musa melanjutkan permohonannya, “Tuhanku, aku ingin memperoleh pepohonan dan buah-buahan surga.’ Allah menjawab, ‘Itu akan Kuberikan bagi orang yang bertasbih di malam qadar.’

Musa meminta lagi, ‘Ya Ilahi, aku ingin terbebas dari siksa neraka.’ Allah berfirman, ‘Itu Kuberikan bagi orang yang beristighfar pada malam qadar.’

Musa berdoa lagi, ‘Ya Tuhanku, aku ingin memperoleh ridha Mu.’ Allah menjawabnya, ‘Ridha Ku diperuntukkan bagi orang yang salat dua rakaat di malam qadar.’ (Ibnu Thawus, Iqbal al Amal, h. 345)

Syaikh Maliki at-Tabrizi menjelaskan, “Berdasarkan banyak riwayat, di malam qadar rezeki dan usia para hamba, baik dan buruknya urusan mereka, ditetapkan oleh Allah swt. Pd malam qadar, Alquran suci diturunkan, begitu pula para malaikat diturunkan semuanya ke bumi. Ketika melewati majelis kaum mukminin, para malaikat menyampaikan salawat dan pujian kepada kaum mukminin tersebut sambil terus memperhatikan solat dan doa mereka sampai fajar. Selama malam tersebut, semua doa-doa dikabulkan kecuali doa empat kelompok manusia yaitu : Anak yg durhaka, orang yg memutuskan silaurrahmi, org yg memiliki kebencian dan dendam kepada seorang mukmin di dalam hatinya, dan orang yang tukang meminum minuman keras.” (Tabrizi, 2005: 151)

Dari riwayat-riwayat di atas, maka jelaslah bahwa ibadah pada bulan ramadhan dikategorikan pada dua jenis ibadah, yaitu ibadah pribadi dan ibadah sosial, ibadah ketuhanan dan ibadah kemanusiaan.

Ibadah pribadi atau ketuhanan adalah ibadahnya penduduk langit yang merupakan hubungan Allah dengan hamba-Nya seperti solat, istighfar, berzikir dan bertasbih. Sedangkan ibadah sosial dan kemanusiaan merupakan ibadahnya penduduk bumi yang menghubungkan antara sesama manusia, seperti menyantuni fakir miskin, bersedekah, menyambung silaturrahmi, saling memaafkan, memuliakan org tua, mohon ampun atas dosanya, dosa orang tuanya dan dosa kaum muslimin. Orang yang mengamalkan kedua jenis ibadah inilah yg akan melalui ramadhan dengan menggapai keagungan malam seribu bulan (lailatuk qadar).

Di bulan ramadhan kita gapai keagungan malam seribu bulan dengan salat dan sedekah; dengan berzikir disertai menyantuni kaum fakir.

Di bulan turunya Alquran, kita memohon ampunan Tuhan dengan tangisan dan membahagiakan hati kaum miskin dengan bingkisan.

Di bulan qadar, sembari mengangkat tangan dan berdoa dengan suara bergetar, tidak lupa pula kita mengulurkan tangan membantu kaum dhu’afa yang perutnya lapar.

Di bulan pengampunan, kita mohon ampunan Tuhan dengan tetesan air mata penyesalan, sembari menangis iba untuk anak-anak yang terlantar di jalanan.

Di bulan turunnya para malaikat, kita senantiasa meminta agar ditunaikan segala hajat, tapi kita juga harus ingat untuk menunaikan hak-haknya kaum kerabat.

Di bulan kemuliaan, kita telah bertasbih mensucikan Tuhan semesta alam, diiringi dengan mensucika harta kita dengan zakat kepada kaum pinggiran.

Di bulan penuh berkah, kita selalu menyambungkan diri kita dengan Allah melalui ibadah, diikuti dengan menyambungkan silaturrahmi kepada manusia melalui ukhuwah. Maafkan segala khilaf dan salah yang pernah mencederai hubungan kemanusiaan kita.

Kini sudah melewati ramadhan dengan amalan-amalan langit yang menggembirakan Tuhan disertai amalan-amalan bumi yang yang menyenangkan insan. Kita sudah memohon ampunan Tuhan, kasih sayang orang tua, ridho istri/suami, cinta anak-anak, perhatian kaum fakir, kesucian perut dari makanan haram, kebersihan hati dari rasa dendam dan benci, serta ketulusan niat dlm ibadat.

Dengan bekal inilah kita sampaikan salam perpisahan kepada bulan ramadhan dengan menggemakan takbiran dan berlanjut menyongsong lebaran bersama kerabat dan sanak saudara dengan penuh kesyukuran dan saling bermaafan. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat berlebaran, semoga Allah menemukan kita di ramadhan tahun depan!(CR14).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: