Tadarus Ramadhan (27) : EMPATI KEMISKINAN


Oleh : Candiki Repantu

Diceritakan, seseorang masuk ke rumah Bisyr bin Harits pada musim dingin, dan melihatnya memakai pakaian biasa sehingga tubuhnya menggigil kedinginan. Orang tersebut berkata kepada Bisyr, “Hai Abu Nashr, orang-orang saat ini merangkap pakaiannya dengan berlapis-lapis, tetapi engkau justru menguranginya.” Bisyr menjawab, “Aku teringat kepada orang-orang miskin dan aku tidak memiliki sesuatu yang bisa kuberikan kepada mereka. Karena itu aku berusaha memenuhi hak mereka dengan cara seperti ini, membiarkan diriku kedinginan seperti apa yang mereka rasakan.”

Begitu juga Imam Khumaini qs. Dikisahkan bahwa ketika di suatu musim panas yang sangat, beliau tidak menggunakan pendingin sehingga tubuhnya dipenuhi dengan keringat dan ia menggunakan kain untuk membersihkan setiap keringat yang mengalir. Apakah tidak ada pendingin di ruangannya? Ada, tetapi tidak mengizinkan untuk menghidupkannya. Beliau berkata, ingin merasakan juga derita orang-orang susah dan para pejuang di garis depan yang berpanas-panasan dalam hidup mereka membela tanah airnya.

Apa yang dilakukan oleh dua sufi besar di atas yaitu Bisyr dan Imam Khumaini adalah suatu bentuk empati. Empati inilah yang mengantarkan mereka pada derajat agung di sisi Allah swt.

Pernahkah kita berbuat seperti Bisyr atau Imam Khumaini? Pernahkah kita ketika ingin membeli baju yang mahal, tapi membatalkan membelinya karena teringat akan orang-orang miskin yang tidak memiliki baju? Mana yang lebih menggembirakan kita, membeli satu baju idaman yang mahal, atau membeli sepuluh baju yang tidak mahal, kemudian memakai satu dan membagikan sembilan baju lainnya? Saat kita menikmati makanan di rumah atau di restoran, ingatkah kita kepada orang-orang yang kelaparan? Bahkan ketika kita sedang susah, masih ingatkah kita untuk bersedekah?

Puasa mengajarkan kita untuk empati pada orang-orang miskin, lihatlah ketika kita tidak puasa kita di suruh membayar fidyah yaitu memberi makan fakir miskin. Begitu pula ketika kita melanggar aturan puasa, kita pun harus membayar kifarat. Dan kifaratnya juga adalah memberi makan kepada fakir-miskin, selain membebaskan budak dan puasa dua bulan berturut-turut (Q.S. al-Baqarah: 184).

Begitu pula, puasa dijadikan wasilah bagi kita untuk menuju manusia takwa dan ketakwaan yang menjadi tujuan ibadah puasa tersebut dicerminkan dengan kesediaan berbagi rezeki sebagaimana difirmankan Allah swt tentang ciri orang takwa, “(yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit…”(Q.S. Ali Imran: 134).

Dalam Tafsir Nur al-Quran diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq, ketika ditanya tentang alasan perintah berpuasa, maka beliau menjawab :

Allah telah memerintahkan puasa untuk menciptakan keseimbangan antara orang kaya dan orang miskin. Hal ini agar orang kaya merasakan keadaan orang miskin dan akibatnya orang kaya menyayangi orang miskin (dengan menunaikan hak-hak mereka). Dan, karena segala sesuatu selalu tersedia bagi orang-orang kaya, maka Allah Yang Maha Kuasa senang apabila keseimbangan ditegakkan di antara hamba-hamba-Nya. Oleh karenanya, Dia telah menakdirkan orang kaya merasakan lapar dan kesulitan tersebut sehingga bersimpati kepada orang yang lemah dan merasa sayang kepada orang yang lapar.”

Jadi, puasa kita saat ini dinilai berhasil, jika pasca puasa ini, kita lebih senang memberi daripada menerima, baik ketika susah, terlebih ketika senang, dan kita lebih berempati kepada orang-orang miskin. Semoga! (CR14)

Iklan
%d blogger menyukai ini: