Tadarus Ramadhan (25) : TAHAPAN DAKWAH NABI SAW


Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Tafsir Alquran bi Alquran, merupakan sebuah metode penafsiran dimana Alquran itu sendiri dijadikan sebagai referensi untuk menafsirkan dirinya. Metode penafsiran ini sebenarnya telah diajarkan oleh nabi Muhammad Saw dan keluarga sucinya serta juga sering digunakan oleh para mufassirin sepanjang sejarah. Namun, metode ini menjadi lebih dikenal setelah dijadikan metode penafsiran secara khusus oleh Allamah Thabathabai di dalam tafsirnya Al-Mizan.

Jika, para mufassirin sebelum beliau menggunakan metode ini hanya di sebagian tafsir mereka, maka Allamah Thabathabai berusaha menerapkan konsep tersebut secara utuh di dalam keseluruhan kitab tafsirnya tersebut.

Berangkat dari metode ini, kita coba melihat beberapa ayat dalam Alquran yang berkaitan dengan perintah dakwah yang diemban Nabi Muhammad Saw.

Biasanya sering diajarkan bahwa Nabi saw berdakwah dalam dua tahap, yaitu tahap sembunyi-sembunyi dan tahap terang-terangan. Tapi jika kita menganalisa beberapa ayat suci Alquran dan menggunakan metode tafsir Alquran bi Alquran, maka akan kita temukan terdapat empat tahapan dakwah yang dilalui oleh Nabi Muhammad Saw.

1). Tahap sembunyi-sembunyi. Setelah turunnya Wahyu pertama, nabi Muhammad Saww selama tiga tahun melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi, hanya terbatas pada keluarganya saja dan orang-orang dekatnya.

2). Tahapan mengajak kerabatnya. Di tahap ini Nabi Muhammad Saw mendapat perintah dakwah dari Allah SWT untuk mengajak keluarga terdekatnya, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. (Q.S. Al-Syu’ara : 214).

3). Tahap dakwah terang-terangan kepada penduduk Mekah dan sekitarnya. Pada tahapan ketiga Nabi Muhammad saw diperintahkan untuk mengajak penduduk Makkah dan sekitarnya untuk mengikuti ajaran yang diturunkan kepada beliau, “Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Alquran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya.” (Q.S. Al-Syuura: 7).

4. Tahap dakwah universal. Pada tahapan terakhir ini, Nabi Muhammad Saw mendapat perintah untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh dunia. “Dan Alquran ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Alquran (kepadanya).” (Q. S. Al-An’am: 19).

Menyandingkan beberapa ayat ini, membawa kita pada kesimpulan di atas. Tapi sebaliknya, jika hanya melihat sebagian ayat di atas dan melupakan sebagian yang lain, akan melahirkan pemahaman yang berbeda. Misalnya, jika hanya melihat Ayat yang berkaitan dengan tahapan ketiga saja, maka akan menyimpulkan bahwa Alquran hanya untuk penduduk Makkah dan sekitarnya saja, bukan untuk semua bangsa dan lintas teritorial. Begitu juga halnya bila melupakan ayat yang berkaitan dengan tahap pertama, kedua dan ketiga, tapi langsung melihat tahapan terakhir, maka yang terjadi adalah kehilangan sejarah dan historis terbentuknya masyarakat Islam dari awal lahirnya sampai kemudian muncul sebagai sebuah agama yang bersifat universal.

Dari sinilah dipahami bahwa metode tafsir Qur’an Bil Qur’an seperti yang dipopulerkan oleh Allamah Thabathabai merupakan kemestian, tentu saja tanpa mengesampingkan metode lainnya sebagai sarana memahami Islam yang utuh. Wallahu a’lam. (CR14)

%d blogger menyukai ini: