Tadarus Ramadhan (26) : KEASLIAN SUMBER ALQURAN

Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Dalam pandangan Islam tentu saja Alquran bersumber dari Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui proses wahyu yang hakikatnya tidak bisa kita mengerti. Namun hal ini tentu saja tidak mendapatkan penilaian yang sama dari orang-orang yang tidak meyakini Islam, apalagi mereka yang memusuhinya.

Karena itu, salah satu pembahasan penting dalam Ulum Alquran baik klasik ataupun kontemporer adalah masalah keaslian Sumber Alquran. Masalah ini mengemuka karena terdapat kritik dari berbagai ahli terutama yang nonmuslim bahwa sumber Alquran tidaklah asli dari Allah swt, melainkan berasal dari kitab-kitab lainnya atau diajarkan oleh jin, atau berasal dari pikiran Nabi Muhammad saw sendiri.

Saat ini yang ingin kita bahas adalah anggapan terakhir yang menyatakan bahwa Alquran adalah buah karya kejeniusan pikiran Nabi Muhammad Saw yang mampu membaca situasi dan kondisi bangsa Arab kala itu, lalu kemudian berhasil menemukan formula yang cocok untuk jadi acuan dan pola hidup bangsa Arab. Kemampuan nabi dalam menghadapi musuh-musuhnya dan penyampaian ajarannya kepada umat dijadikan sebagai bukti atas asumsi ini.

Perlu diketahui juga bahwa pendapat ini tidak hanya bersumber dari para orientalis, bahkan sebagian ilmuan muslim pun ada yang ikut terseret kedalam pola pikir yang rancu ini.

Di sini akan disebutkan beberapa bantahan atas asumsi dan pendapat di atas.

1). Orang jenius memang berbeda dengan manusia normal lainnya. Perbedaan ini ada dalam percepatan daya tangkap yang mereka miliki, dimana waktu yang mereka perlukan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan lebih singkat dari yang dibutuhkan orang biasa. Namun begitu orang biasa dengan waktu yang lebih lama dan penelitian yang lebih alot pada gilirannya akan bisa sampai pada apa yang telah berhasil dicapai oleh seorang jenius. Jadi permasalahannya hanya pada persoalan waktu saja. Hal ini sangat berbeda dengan Alquran yang dibawa oleh nabi Muhammad Saw, dimana tidak seorang pun yang mampu membuat kitab yang sama dengan Alquran. Dari dulu sampai sekarang bahkan di masa yang akan datang.

2). Seorang jenius tidak akan mampu memahami berbagai disiplin ilmu yang berbeda dan beragam sebagai mana yang kita temukan dalam Alquran, apalagi harus dituangkan dalam sebuah bahasa yang penuh mujizat.

3). Apa yang diperoleh oleh seorang jenius adalah hasil dari ilmu “hushuli” (proses berpikir) yang dapat dipelajari dan diajarkan kepada orang lain. Itulah sebabnya sorang jenius tidak pernah melakukan “tahaddi” atau tantangan untuk semua kalangan dengan mengatakan bahwa tidak seorangpun yang mampu menemukan apa yang dia temukan. Sebab dia mengetahui bahwa pada saatya orang lain juga akan mampu membuat apa yang dia temukan bahkan tidak menutup kemungkinan penemuan berikutnya justru lebih sempurna dari penemuannya.

Tapi Alquran justru sebaliknya. Ia berani melakukan tahaddi dan tantangan. Tantangannya juga tidak tanggung-tanggung, sebab melibatkan semua manusia bahkan jin sekalipun, “Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Alquran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. (Q.S. Al-Israa’: 88)

Terakhir sebagai catatan, dengan mengatakan bahwa Alquran tidak bersumber dari pemikiran jenius nabi, bukan berarti kita sedang mengatakan bahwa nabi hanya memiliki daya pikir yang sama dengan manusia lainnya, sebab kita juga meyakini bahwa beliau memiliki pikiran yang jauh melebihi kejeniusan orang-orang jenius. Namun yang kita yakini adalah pemikiran yang di atas jenius ini hanya merupakan sarana untuk menampung wahyu yang bersumber dari Allah SWT, bukan sebagi sumber Wahyu. Wallahu a’lam. (CR14)

Iklan

Tadarus Ramadhan (25) : TAHAPAN DAKWAH NABI SAW

Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Tafsir Alquran bi Alquran, merupakan sebuah metode penafsiran dimana Alquran itu sendiri dijadikan sebagai referensi untuk menafsirkan dirinya. Metode penafsiran ini sebenarnya telah diajarkan oleh nabi Muhammad Saw dan keluarga sucinya serta juga sering digunakan oleh para mufassirin sepanjang sejarah. Namun, metode ini menjadi lebih dikenal setelah dijadikan metode penafsiran secara khusus oleh Allamah Thabathabai di dalam tafsirnya Al-Mizan.

Jika, para mufassirin sebelum beliau menggunakan metode ini hanya di sebagian tafsir mereka, maka Allamah Thabathabai berusaha menerapkan konsep tersebut secara utuh di dalam keseluruhan kitab tafsirnya tersebut.

Berangkat dari metode ini, kita coba melihat beberapa ayat dalam Alquran yang berkaitan dengan perintah dakwah yang diemban Nabi Muhammad Saw.

Biasanya sering diajarkan bahwa Nabi saw berdakwah dalam dua tahap, yaitu tahap sembunyi-sembunyi dan tahap terang-terangan. Tapi jika kita menganalisa beberapa ayat suci Alquran dan menggunakan metode tafsir Alquran bi Alquran, maka akan kita temukan terdapat empat tahapan dakwah yang dilalui oleh Nabi Muhammad Saw.

1). Tahap sembunyi-sembunyi. Setelah turunnya Wahyu pertama, nabi Muhammad Saww selama tiga tahun melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi, hanya terbatas pada keluarganya saja dan orang-orang dekatnya.

2). Tahapan mengajak kerabatnya. Di tahap ini Nabi Muhammad Saw mendapat perintah dakwah dari Allah SWT untuk mengajak keluarga terdekatnya, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. (Q.S. Al-Syu’ara : 214).

3). Tahap dakwah terang-terangan kepada penduduk Mekah dan sekitarnya. Pada tahapan ketiga Nabi Muhammad saw diperintahkan untuk mengajak penduduk Makkah dan sekitarnya untuk mengikuti ajaran yang diturunkan kepada beliau, “Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Alquran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya.” (Q.S. Al-Syuura: 7).

4. Tahap dakwah universal. Pada tahapan terakhir ini, Nabi Muhammad Saw mendapat perintah untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh dunia. “Dan Alquran ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Alquran (kepadanya).” (Q. S. Al-An’am: 19).

Menyandingkan beberapa ayat ini, membawa kita pada kesimpulan di atas. Tapi sebaliknya, jika hanya melihat sebagian ayat di atas dan melupakan sebagian yang lain, akan melahirkan pemahaman yang berbeda. Misalnya, jika hanya melihat Ayat yang berkaitan dengan tahapan ketiga saja, maka akan menyimpulkan bahwa Alquran hanya untuk penduduk Makkah dan sekitarnya saja, bukan untuk semua bangsa dan lintas teritorial. Begitu juga halnya bila melupakan ayat yang berkaitan dengan tahap pertama, kedua dan ketiga, tapi langsung melihat tahapan terakhir, maka yang terjadi adalah kehilangan sejarah dan historis terbentuknya masyarakat Islam dari awal lahirnya sampai kemudian muncul sebagai sebuah agama yang bersifat universal.

Dari sinilah dipahami bahwa metode tafsir Qur’an Bil Qur’an seperti yang dipopulerkan oleh Allamah Thabathabai merupakan kemestian, tentu saja tanpa mengesampingkan metode lainnya sebagai sarana memahami Islam yang utuh. Wallahu a’lam. (CR14)