Tardarus Ramadhan (17) : ALLAH MEMYESATKAN MANUSIA?


Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Kita mungkin sering mendengar suatu ungkapan yang menyebutkan “Barang siapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka tidak ada yanh bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang bisa memberi hidayah kepadanya”.

Begitu pula terdapat ayat-ayat di dalam Al-Quran ayat yang memuat tentang hidayah Allah, sebagai mana kita juga sering berhadapan dengan ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Allah SWT menyesatkan hambaNya : “Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya”(Q. S. Al-Nisa : 88)

“Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun”. (Q. S. Al-Rum: 29).

Doa dan ayat di atas menegaskan bahwa hidayah dan kesesatan itu berasal dari Allah SWT. Kalau hidayah mungkin semua kita akan menerima bahwa Allah adalah pemberi hidayah kepada kita. Tapi bagaimana dengan kesesatan? Apakah Allah yang Maha Suci juga pemberi kesesatan kepada manusia? Kalau masuk ke pembahasan akidah atau teologis, ini berarti Allah telah menetapkan kesesatan bagi seseorang sehingga tidak ada yang bisa memberinya hidayah. Dan lalu manusia yang telah di sesatkan-Nya tersebut dihukum-Nya dengan hukuman yang berat. Hal ini sulit diterima karena akan berimplikasi pada zalimnya Allah SWT terhadap hamba-Nya.

Karena ada kesan bahwa penyesatan yang dilakukan Allah SWT ini bertentangan dengan hikmah ilahi yang seharusnya justru menunjuki hamba-nya menuju kesempurnaan, maka perlu ada penjelasan tentang pengertian penyesatan yang dilakukan Allah SWT.

Menyesatkan sebagaimana menghidayahi dalam satu pengelompokan dapat dibagi dua.

1). Menyesatkan dari awal (ibtida’i). Maksudnya tanpa ada sebab-sebab tertentu dari sejak awal penciptaan, Allah SWT menciptakan hamba-Nya dalam keadaan tersesat. Penyesatan seperti ini tidak mungkin pernah muncul dari Allah SWT yang Maha Bijaksana.

Hal ini berbanding terbalik dengan menghidayahi dari awal penciptaan atau yang disebut dengan “hidayah ibtidaiyah”. Memberi hidayah sejak awal adalah sejalan dengan hikmah ilahi yang ingin mengantarkan hamba-Nya menuju kesempurnaan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman : “Musa berkata: “Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (Q. S. Thaha: 50)

Ayat ini menjelaskan bahwa segala ciptaan Allah SWT telah terhidayahi sejak awal penciptaannya, yang berarti bahwa alam wujud sama luasnya dengan hidayah.

2). Menyesatkan sebagai bentuk reaksi atas perbuatan hamba-Nya.

Penyesatan model ini diperuntukkan bagi orang-orang yang telah melakukan penentangan terhadap aturan Allah SWT yang pada dasarnya adalah bentuk penentangan terhadap hidayah Allah SWT. Sebab aturan-aturan Allah SWT ini merupakan manifestasi dari hidayah Allah itu sendiri. Misalnya, salat adalah hidayah Allah SWT, maka tidak salat berarti menentang hidayah Allah.

Oleh karena itu, penyesatan yang dilakukan Allah SWT ini lebih berbentuk balasan dan reaksi terhadap perbuatan hamba-Nya, dimana Allah SWT memberikan sarana serta fasilitas kepada mereka untuk tetap berbuat maksiat dan di sisi lainnya Dia menutup pintu Taufik dari hadapan mereka karena perbuatan buruk mereka sendiri. Penyesatan yang seperti ini lah yang mungkin kita sematkan pada Allah SWT, bukan penyesatan model pertama. Allah SWT berfirman: “Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik”. (Q. S. Al-Baqarah: 26)

Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa kefasikan seorang hambalah yang menyebabkan Allah SWT menyesatkannya.

Hal ini berbanding lurus dengan apa yang ada pada hidayah, dimana hidayah bentuk kedua adalah hidayah yang diperoleh melalui amal seorang hamba atau hidayah yang bersifat reaksi bukan “ibtidai” yang melingkupi sekalian hamba. Sebab hidayah ini juga hanya menjadi milik orang tertentu; yaitu orang yang telah melakukan sesuatu yang memiliki nilai disisi Allah SWT. Dengan kata lain hidayah yang diperoleh setelah memanfaatkan hidayah bentuk pertama atau “hidayah ibtidai”. Di dalam Al-Quran disebutkan: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya”. (Q. S. Yunus: 9). Di ayat lain Allah SWT berfirman: ” Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”(Q. S. Al-Baqarah: 2).

Demikanlah, jadi Allah menyesatkan manusia dalam makna manusia itu sendiri yang memilih jalan kesesatan dengan berbagai amal buruk yang dilakukannya. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya pada kita semua. (CR14)

%d blogger menyukai ini: