Tadarus Ramadhan (24) : TUHAN MILIK LAKI-LAKI?


Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Di dalam Aquran kita selalu menemukan dhamir (kata ganti) maupun kata kerja yang digunakan untuk laki-laki, dan pada saat yang sama kita lebih sedikit menjumpai dhamir dan kata kerja yang diperuntukkan kepada perempuan. Hal ini terkadang menimbulkan pertanyaan dibenak kita; apakah Alquran dan pada gilirannya Islam adalah ajaran yang hanya diperuntukkan untuk laki-laki atau setidaknya agama yang menganak emaskan laki-laki dan menganggap anak tiri perempuan?

Anggapan ini pernah terjadi di masa Nabi saw. Dalam Tafsir Nur ats-Tsaqalain juz 4, diriwayatkan dari Muqatil bin Hayyan bahwa suatu hari ketika Asma binti Umais kembali dari Habsyah dengan suaminya Ja’far bin Abi Thalib, dia bertemu dengan para isteri Rasulullah saw dan bertanya, “Adakah di antara kita yang memiliki (sebutan/ingatan) dalam ayat-ayat Alquran?” Mereka menjawab : “Tidak ada”. Lalu Asma pergi menemui Rasulullah saw dan berkata, “Ya Rasulullah saw! Sungguh para perempuan berada dalam kegagalan dan karugian!”. “Mengapa demikian” tanya Rasulullah saw. Maka Asma menjawab, “Karena mereka tidak pernah disebut dan kenang dengan kebaikan sebagaimana para lelaki disebut dan dikenang.” Maka Allah swt pun menurunkan ayat :

“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang yang taat, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. Al-Ahzab : 35).

Dengan turunnya ayat ini maka jelaslah bahwa visi Alquran adalah universal, untuk laki dan perempuan.

Untuk dapat memahami lebih utuh persoalan ini, maka perlu diperhatikan bahwa setiap bahasa memiliki aturan dan tata bahasa tertentu yang tentu saja berbeda dengan bahasa lainnya.
Dalam bahasa Indonesia umpamanya kita tidak membedakan antara subjek laki-laki maupun perempuan, artinya baik untuk laki-laki maupun perempuan kita tetap menggunakan bentuk kata kerja yang sama, begitu juga dengan kata ganti yang digunakan tidak membedakan kedua jenis ini. “Dia, engkau, kamu” dalam Bahasa Indonesia berlaku sama untuk laki-laki dan perempuan.

Permasalahannya akan jauh berbeda ketika kita masuk kedalam kajian struktur bahasa Arab dimana di sana baik kata ganti, subjek dan kata kerjanya akan dibedakan antara laki-laki dan perempuan, bahkan dengan pergantian waktu terjadinya sebuah perbuatan maka kata kerjanya juga akan mengalami perubahan, yang dimana semua ini merupakan hal yang tidak lazim kita temui dalam bahasa Indonesia.

Untuk lebih jelasnya kita akan lihat sebagian dari aturan tersebut. Di dalam bahasa Arab jika pelaku suatu perbuatan semuanya laki-laki, maka kata kerjanya juga kata kerja yang mengindikasikan laki-laki (muzakkar). Jika pelaku atau subjeknya semuanya perempuan maka kata kerjanya juga akan memiliki ciri perempuan (muannats). Dan jika pelaku atau subjeknya gabungan antara laki-laki dan perempuan maka kata kerjanya tetap menggunakan tanda laki-laki (muzakkar). Hal ini juga berlaku untuk dhamir atau kata ganti. Nah, dari sini dapat kita pahami bahwa penggunaan kata kerja maupun dhamir dalam bahasa Arab akan lebih sering menggunakan “muzakkar” ketimbang “muannats”.

Berangkat dari penjelasan ringkas di atas, maka Alquran sebagai literatur agama Islam yang diturunkan dalam bahasa Arab, akan mengikuti aturan tata bahasa yang berlaku dalam bahasa tersebut. Yang pada gilirannya seruan ataupun anjuran yang melingkupi segala jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan harus dituangkan dalam bentuk kata atau kalimat yang memiliki ciri khas laki-laki.

Sebagi contoh, ketika Allah SWT mewajibkan puasa yang tentu saja mencakup laki-laki maupun perempuan, maka kata yang digunakan adalah kata muzakkar.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. ” (Q.S. Al-Baqarah: 183).

Semua kata kerja yang ada dalam ayat ini berbentuk muzakkar (laki-laki) seperti “orang-orang beriman” dan “bertakwa” (آمنوا، تتقون) begitu juga dengan kata ganti “kamu” (کم). Padahal kita ketahui bersama bahwa kewajiban puasa merupakan kewajiban bagi semua, baik laki-laki maupun perempuan.

Karena itu, meskipun ayat di atas hanya menyebut laki-laki tetapi maknanya berlaku juga untuk perempuan. Yang membedakan antara laki-laki dan perempuan dan begitu juga terjadinya perbedaan yang mencolok antara penggunaan baik kata kerja muzakkar maupun kata ganti muzakkar dari kata kerja dan kata ganti muannats di dalam Al-Quran adalah bahasa Arab itu sendiri, bukan Al-Quran dan ajarannya. Bahasa Arab bersifat lokal dan regional sedangkan ajaran Alquran bersifat universal.

Atas dasar ini dalam ajaran Islam tidak ada istilah anak emas untuk laki-laki dan anak tiri untuk perempuan. Semua sama di hadapan Tuhan Yang Maha Penyayang. Jadi jangan ada anggapan Tuhan hanya milik laki-laki. Wallahu a’lam. (CR14)

%d blogger menyukai ini: