Tadarus Ramadhan (23) : MAKNA AYAT MUSTASYABIHAT DALAM ALQURAN


Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Sesuai dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran, bahwa ayat-ayat kitab agung ini dapat dibagi kepada dua kelompok yaitu ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat. Allah berfirman, “Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat.” (Q.S. Ali Imran : 7).

Ayat-ayat muhkamat adalah ayat induk yang menjadi tolok ukur kebenaran ayat-ayat mutasyabihat. Oleh karena itu ayat-ayat muhkamat memiliki makna yang jelas, gamblang dan tidak multitafsir sehingga dapat dijadikan sebagai tolok ukur dan asas penafsiran. Sebaliknya, ayat-ayat mutasyabihat adalah sekelompok ayat yang disamping memiliki makna yang benar, pada saat yang sama juga dapat diselewengkan dan diarahkan menuju makna yang salah. Atas dasar ini ayat mutasyabihat adalah ayat yang multitafsir yang sering digunakan untuk maksud-maksud yang bertentangan dengan kebenaran.

Ayat mutasyabih bisa dibagi menjadi dua jenis, yaitu :

1). Mutasyabihat zati adalah, mutasyabihat yang bersumber dari ketidak mampuan bahasa Arab dalam menampung kedalaman makna yang ingin disampaikan melalui lafadz-lafadz dan kata-kata. Kebanyakan mutasyabihat zati ini berhubungan dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan ” mabda” (Sumber Keberadaan, Allah SWT) dan “ma’ad” (kebangkitan akhirat).

Hal ini disebabkan Tuhan dan sifat-sifat-Nya yang begitu agung dan tidak terbatas sehingga sulit dijelaskan dengan kata-kata yang terbatas. Begitu juga dengan alam akhirat yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga serta tidak pernah terlintas dalam jiwa, harus dijelaskan dengan menggunakan kata-kata dan lafadz-lafadz yang diciptakan oleh manusia yang selalu berhubungan dengan alam materi yang serba terbatas.

2). Mutasyabihat ‘Aradi adalah mutasyabihat yang bukan bersumber dari dalam Al-Quran itu sendiri tapi justru datang dari luar. Kebanyakan mutasyabihat bentuk kedua ini ditimbulkan oleh perdebatan mazhab-mazhab Kalam yang ada di kalangan kaum muslimin.

Ayat-ayat ini pada dasarnya bukanlah mutasyabihat, yang mana jika dipaparkan kepada orang yang belum memilih Mazhab tertentu, maka ayat ini akan dipahami dengan benar. Seperti ayat-ayat yang dijadikan argumen oleh kelompok-kelompok mujassimah yang menganggap Tuhan memiliki jisim (jasad) seperti makhluk ciptaan-Nya. Misalnya, “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka.” (Q.S. Al-Fath: 10) dijadikan dalil untuk membuktikan adanya tangan Tuhan, dan masih banyak ayat-ayat lainnya. Wallahu a’lam. (CR14)

%d blogger menyukai ini: