Tadarus Ramadhan (22) : MANUSIA DAN FITRAH


Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Allah SWT menciptakan manusia dalam keadaan mentauhidkan penciptanya; baik mukmin maupun kafir pada awalnya memiliki fitrah yang suci, yaitu fitrah yang membimbingnya pada penyembahan Tuhan yang esa. Allah SWT berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”(Q.S. Al-Rum:30). Seiring berjalannya waktu ada yang berusaha tetap menjaga fitrah ini dan pada saat yang sama melakukan usaha dalam rangka meningkatkan kualitas fitarah tadi.

Di sisi lainnya ada juga yang menutupi fitrah yang sudah dititipkan Allah SWT di dalam dirinya. Allah SWT berfirman: “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah : 257).

Ayat ini dengan jelas memaparkan kepada kita bahwa orang-orang yang keluar dari jalur tauhid dan memilih thagut atau syaitan sebagai pelindung maka mereka akan digiring keluar dari cahaya( fitrah) menuju kegelapan baik itu berupa kesyirikan maupun penyimpangan-penyimpangan lainnya. Sementara orang-orang yang beriman dan tetap memperjuangkan kesucian fitrahnya maka akan digiring dari kegelapan menuju cahaya.

Yang menjadi pembahasan menarik dalam ayat ini adalah orang-orang yang beriman dalam ayat ini seolah-olah pada awalnya berada pada sebuah titik kegelapan, kemudian diarahkan menuju alam yang penuh dengan cahaya, berbeda dengan orang kafir yang pada titik awalnya berada pada posisi yang terang lalu kemudian dibawa menuju kegelapan. Padahal sebagai mana disebutkan sebelumnya baik mukmin maupun kafir pada awalnya sama-sama berada pada titik yang yang tidak berbeda, yaitu fitrah yang suci sebagai amanat dari Allah SWT.

Untuk kasus orang Kafir tentunya kandungan ayat ini sudah sangat tepat, sebab mereka sedang digiring dari cahaya( fitrah) menuju kegelapan.
Untuk kaum beriman juga pada dasarnya tidak ada yang perlu diperdebatkan, mengingat bahwa cahaya memiliki tingkatan yang berbeda-beda, mulai dari tingkat yang paling rendah sampai tingkat yang paling tinggi. Tingkat yang lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkatan yang lebih tinggi masih dianggap kegelapan, sehingga di dalam ayat disebutkan seolah-olah orang-orang yang beriman berada pada kegelapan, padahal sebenarnya hanyalah kegelapan nisbi; artinya dalam kegelapan jika dibandingkan dengan tingkatan sesudahnya.

Dari sini dapat kita pahami bahwa start awal setiap manusia baik mukmin maupun yang kafir adalah fitrah yang suci ataupun cahaya sesuai dengan teks ayat di atas. Wallahu a’lam. (CR14).

%d blogger menyukai ini: