Tadarus Ramadhan (21) : HUBUNGAN ANTARA AMAL DUNIA DAN BALASAN DI AKHIRAT


Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Alam dunia adalah ladang, sedangkan akhirat merupakan tempat memetik hasil yang dituai selama berada di dunia ini. Dalam hal ini ada yang berhasil memanfaatkan moment yang diberikan dan tak sedikit juga yang gagal dalam mengelola fasilitas yang telah diamanahkan padanya.

Golongan pertama yaitu orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan mendapat ganjaran pahala yang berupa surga, “Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah:82). Dan sebaliknya orang-orang yang gagal atau kelompok ke dua akan digiring menuju neraka, “(Bukan demikian), yang benar, ‘barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah:81).

Kedua hal ini adalah permasalahan yang sudah jelas bagi kita semua, maksudnya orang beriman dan beramal saleh masuk surga dan orang kafir masuk neraka. Hanya saja kali ini kita akan melihat dimensi yang berbeda yaitu tentang hubungan antara amal dan balasan amal itu sendiri.

Dalam hal ini, ada tiga jenis hubungan yang dapat kita asumsikan untuk amal dan balasan yang didapat di akhirat kelak :

1). Hubungan “I’tibari” atau kesepakatan dan ketetapan. Yaitu amal atau hukum yang ditetapkan terhadap perbuatan baik ataupun perbuatan buruk yang dilakukan oleh seseorang di alam dunia ini berdasarkan pada kesepakatan yang pada dasarnya tidak ada hubungan yang kongkrit antara amal dan balasannya secara keberadaan. Misalnya, mencuri dihukumi dengan penjara sepuluh tahun, rajin melaksanakan tugas diganjar dengan kenaikan pangkat dan lain-lain sebagainya.

Pada kedua contoh diatas tidak ada hubungan kongkrit atau keberadaan antara mencuri dan penjara sepuluh tahun ataupun rajin bertugas dengan naik pangkat selain ketetapan yang dibuat dan disepakati. Mungkin keyakinan yang seperti inilah yang dimiliki oleh Mazhab Asy’ari yang mengatakan bahwa boleh-boleh saja Tuhan memasukkan seorang kafir ke dalam surga dan sebaliknya menggiring seorang mukmin yang taat ke dalam neraka, sebab pada asumsi pertama ini tidak ada hubungan yang jelas antara amal dan hasil yang diperoleh selain kesepakatan atau ketetapan belaka.

2). Hubungan sebab akibat. Dalam hal ini antara amal dan balasan amal ada hubungan yang jelas dimana balasan merupakan akibat (ma’lul) dari amal yang merupakan sebab (illat). Artinya, secara wujud atau keberadaan, terdapat kaitan yang tidak terpisahkan antara amal dan balasannya.

Dalam asumsi kedua ini tentu saja pemahaman Asy’ari tertolak dengan sendirinya sebab secara illat dan ma’lul atau sebab dan akibat pekerjaan baik tidak berhubungan dengan neraka dan sebaliknya pekerjaan buruk tidak ada kaitannya dengan surga.
Asumsi ini sesuai dengan pahaman kebanyakan kaum muslimin dimana sebagian dari ayat Al-Quran juga mengindikasikan seperti itu, “Dan tempat mereka jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Taubah : 95).

Dalam ayat ini ada huruf ba (بما کانوا یکسبون) yang secara tatabahasa disebut huruf “ba sababiah”, atau ba yang memiliki arti sebab atau dengan sebab.

3). Hubungan kesatuan atau ‘ainiyah”. Asumsi ketiga ini melihat bahwa tidak ada keterpisahan antara amal dan balasan bahkan keduanya merupakan kesatuan, hanya saja ada perbedaan alam diantara keduanya. Dalam pandangan ini amal yang kita lakukan memiliki dua sisi; satu sisi lahiriah dan satu sisi batin dimana batin amal adalah lahiriah amal itu sendiri dan begitu sebaliknya. Pada tahap ini, hanya memiliki satu kesatuan bukan dua sesuatu seperti pada asumsi kedua atau sebab-akibat.

Untuk membuktikan kebenaran asumsi ke tiga ini ada baiknya kita melihat ayat suci Al-Quran yang menyatakan: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Q.S. Al-Zalzalah : 7-8). Pada ayat ini disebutkan bahwa yang dilihat nantinya di akhirat adalah amal itu sendiri bukan balasannya, sebab dalam ayat tersebut tidak ada kata “Jazaa” yang berarti balasan, walaupun dalam terjemahan-terjemahan yang ada kata balasan disebutkan di dalam kurung seperti terjemahan yang dikutip di atas.

Dan di ayat lainnya disebutkan: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”. (Q. S. Al-Nisa:10). Ayat ini lebih tegas lagi menyatakan bahwa orang yang memakan harta anak yatim secara zalim sebenarnya sedang memakan api. yang tentu saja ini ada pada alam batin amal, bukan pada lahiriyahnya sebab tidak dapat disaksikan dengan mata kepala kita. Wallahu a’lam. (CR14)

%d blogger menyukai ini: