Tadarus Ramadhan (20) : TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA


Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Seorang bijak atau “hakim”, tentu saja memiliki tujuan logis dalam setiap perbuatan yang dilakukannya, jika tidak maka penyematan bijaksana dianggap tidak tepat dan salah sasaran. Allah SWT, bahkan memiliki nama “Ahkamul Hakimin” yang paling bijaksana, karena memang Dia memiliki tujuan dan alasan yang terbaik untuk semua perbuatannya.

Penciptaan manusia yang merupakan salah satu perbuatan Allah SWT, juga sudah dapat dipastikan memiliki tujuan yang sangat jelas sebab penciptaNya adalah yang paling bijaksana. Allah berfirman, “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Q.S. Al-Mukminun: 115).

Dari ayat ini dipahami bahwa penciptaan manusia bukanlah kesia-siaan, tapi sebaliknya memiliki tujuan yang sangat jelas. Dalam Al-Quran, setidaknya ada dua hal yang disebutkan sebagai tujuan dari penciptaan manusia.

1). Tujuan ‘Ilmi yaitu yang bersifat pengetahuan dan wawasan; pencipta langit dan bumi dan tentu saja di dalamnya manusia bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan serta wawasan keilmuan manusia tentang Allah SWT. Dalam Al-Quran disebutkan: “Allah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Q.S. Al-Thalaq: 12)

2). Tujuan ‘Amali; yaitu tujuan dari penciptaan manusia adalah agar manusia menyembah Allah SWT. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. Al-zariyat : 56). Berbeda dengan yang pertama, yang menjadi tujuan penciptaan pada ayat ini adalah tindakan manusia dihadapan Tuhannya. Dimana jika tujuan ini tercapai maka manusia akan menjadi hamba hakiki ilahi, sebagi mana nabi Muhammad selalu kita sebutkan di dalam tasyahhud sebagai “abdun” atau hamba Allah SWT.

Dari kedua tujuan ini, tidak satupun yang hasilnya kembali kepada Allah SWT, sebab Dia adalah zat yang Maha Sempurna sehingga tidak ada sesuatu apapun yang masih perlu dipenuhi. Hal ini sangat berbeda dengan makhluk ciptaannya; dimana tujuan yang ingin dicapai dari setiap perbuatan yang dilakukan justru dalam rangka menyempurnakan durinya. Wallahu a’lam (CR14).

%d blogger menyukai ini: