Tadarus Ramadhan (16) : MAKNA DAN JENIS NUZUL DALAM ALQURAN


Oleh : Ust. M. Iqbal al-Fadani

Biasanya kita hanya mengenal kata “nuzul” untuk Alquran sehingga sering menyebut “Nuzul Alquran” yang berarti turunnya Alquran yang sering diperingati pada bulan ramadhan sesuai dengan informasi Alquran, “Bulan ramadhan yang diturunkan padanya Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan bagi petunjuk tersebut dan pembeda” (Q.S. Al-Baqarah : 185).

Namun, kalau kita sekidiki, kata «انزل» (menurunkan) dan variannya sering sekali digunakan dalam Alquran untuk berbagai hal. Misalnya untuk turunnya malaikat, untuk turunnya hujan dan juga untuk turunnya besi serta binatang ternak.

Untuk proses turunnya hujan Al-Quran menyatakan :

وانزل من السماء ماء

“Dan diturunkan dari langit air” (Q.S.Al-Baqarah : 22).

Sedangkan untuk turunnya besi Allah SWT berfirman :

وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ

“Dan Kami turunkan besi”. (Q.S. Al-Hadid : 25)

Jadi, untuk hujan dan untuk besi sekalipun Allah SWT menggunakan kata «انزل» atau menurunkan. Yang jadi permasalan dalam hal ini adalah bahwa ada perbedaan mendasar diantara menurunkan Alquran, menurunkan hujan dan menurunkan besi. Dimana proses turunnya hujan dari langit adalah proses materi yang kasat mata di mana hal itu dapat kita saksikan dengan Indra penglihatan kita. Sedangkan turunnya Alquran dan turunnya besi tidaklah kasat mata. Kita tidak dapat menyaksikan denga indera kita turunnya Alquran dan besi tersebut. Lantas apa pengertian “Kami menurunkan besi” dalam ayat di atas?

Secara umum, dalam Alquran ada dua jenis “penurunan”. Pertama, penurunan yang berbentuk materi seperti pada kasus penurunan hujan yang kita dapat saksikan dan rasakan langsung bendanya atau airnya. Kedua, penurunan yang bersifat immateri atau nonmateri seperti pada penurunan Alquran dan termasuk juga penurunan besi pada ayat di atas.

Karena alam immateri memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan alam materi maka penggunaan kata “kami menurunkan” dalam konteks ini merupakan hal yang benar adanya. Yang dalam kajian filsafatnya dikatakan sebagai atas bawah “rutbi”.

Menurut kacamata Alquran segala sesuatu yang bersifat materi, sebelum turun ke alam materi ini, berada di alam immateri yang memiliki sifat yang berbeda dengan alam ini. Proses perpindahan sesuatu dalam alam yang tinggi (immateri) ke alam yang rendah (materi) inilah yang kemudian disebutkan sebagai “penurunan”. Alquran dalam hal ini menyatakan : “Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.” (Q.S.Al-Hijr : 21).

Ayat tersebut menyatakan bahwa perbendaharaan segala sesuatu berada di sisi Allah SWT, yang tentu saja bersifat immateri, dan segala sesuatu bersumber dari alam immateri yang tinggi ini yang kemudian hadir di alam materi melalui proses penurunan sesuai dengan kadar dan kapasitasnya masing-masing.
Oleh karena itu pada dasarnya yang diturunkan itu bukan hanya besi tapi mencakup juga segala bentuk materi yang ada di dunia berasal dari alam immateri. Jadi, hujan itu sendiri sebelum berbentuk materi memiliki wujud immateri yang kemudian pada gilirannya turun ke alam materi barulah kemudian ada istilah hujan turun dari langit. Makanya untuk binatang ternak sekalipun Allah SWT menggunakan kata “menurunkan”, “Dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak.” (Al-Zumar:6).

Ini bukanlah berarti diturunkan binatang-bintang berpasang-pasangan dan langsung tersebar di bumi. Tidak begitu! Tetapi Allah menurunkan dari alam immateri bintang ternak yang kemudian di dunia mengambil wujud bahan-bahan materi dan kemudian berproses di dunia ini menjadi binatang yang hidup di antara kita. Wallahu a’lam. (CR14)

%d blogger menyukai ini: