BERKAH SEEKOR DOMBA : MENGENANG IMAM HASAN AS


Oleh : Candiki Repantu

 

IMG_20170610_100149_157

Malam, 15 Ramadahan tahun ke-3 H. Suatu sinar suci menerangi Madinatun Nabi berasal dari rumah sederhana milik Sayidah Fatimah as, sang puteri terkasih Nabi saw. Malam itu, lahir seorang bayi mungil penuh aroma wangi malakuti dari rahim ratu bidadari. Itulah putera pertama yang dinanti Sang pengemban wasiat Nabi. Itulah cucu pewaris tahta ilahi. Sebagai rasa syukur, setelah tujuh hari pasca dikumadangkan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri, rumah kenabian mengadakan jamuan akikah dengan menyembelih seekor domba jantan dan bersedekah perak seberat rambut bayi. Berdasarkan wahyu suci, diberilah bayi itu dengan nama Hasan ibn Ali. Nama yang cukup asing ditelinga kaum Quraisy.

Dalam asuhan Nabi saw, Ali as dan Fatimah as, Imam Hasan as tumbuh menjadi teladan abadi. Bukan hanya fisiknya, tapi karakter dan akhlaknya mencerminkan seluruh kepribadian kakeknya.

Diriwayatkan oleh Syaikh Radhi al-Yasin dalam bukunya Shulh al-Hasan bahwa suatu hari wewangian Rasulullah saw, Imam Hasan as keluar melakukan perjalanan ditemani oleh Imam Husain as dan Abdullah bin Ja’far ra. Tanpa disadari, barang-barang bawaan mereka tertinggal sehingga menyulitkan perjalanan mereka. Lapar dan dahaga menimpa mereka dalam perjalanan tanpa bekal tersebut.

Dalam situasi itu mereka melihat kemah dwngan seorang perempuan tua sedang duduk di depan kemah tersebut. Maka Imam Hasan dan dua saudaranya ini menuju kemah dan meminta air kepada wanita tua tersebut untuk menghilangkan dahaga mereka. Wanita tua itu berkata, “perahlah susu domba ini!.” Merekapun memerah susu domba tersebut.

Kemudian, putera-putera Rasulullah saw ini meminta makanan kepada wanita tersebut. Perempuan itu berkata, “Aku tidak memiliki apapun selain domba ini. Sembelihlah ia oleh salah seorang di antara kamu”. Lalu disembelihlah domba wanita itu, dikuliti dan setelah itu wanita tua itu memanggang daging domba tersebut untuk dihidangkan kepada tiga tamu tak dikenalnya. Mereka pun memakan daging domba panggang tersebut dan setelah itu beristirahat sejenak untuk melepas lelah.

Ketika terbangun, mereka pamit sembari berkata kepada wanita tua itu, “Kami dari golongan Quraisy dan ingin melanjutkan perjalanan. Apabila nanti kami kembali, kunjungilah kami karena kami ingin berbuat baik kepadamu”. Kemudian mereka pergi.

Tak berselang lama, suami wanita tua itu pun kembali dan diberitahukan kepadanya bahwa ia telah menjamu tamu dengan dombanya. Suaminya marah dan berkata, “celakalah engkau! Kau telah mengorbankan dombaku untuk orang-orang yang tidak dikenal kecuali hanya sebagai orang Quraisy.”

Hari demi hari berlalu. Kondisi keluarga wanita tua itu semakin memburuk. Lalu ia pun berangkat menyusuri jalanan hingga sampai Madinah sambil tertatih-tatih. Imam Hasan as melihat wanita tua itu dan mengenalinya. Imam Hasan menegurnya dan bertanya, “Apakah engkau mengenalku?”. Wanita tua itu menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Tidak! Aku tidak mengenalmu”. Imam Hasan as pun menjelaskan bahwa dirinya adalah tamunya dulu yang dijamunya denga seekor domba miliknya.

Kemudian Imam Hasan as membawa wanita tua itu ke tempatnya, dan Imam Hasan as memberinya hadiah seribu ekor domba dan uang seribu dinar. Lalu Imam Hasan as mengirim wanita tua itu kepada Imam Husain as dan Imam Husain as pun memberikan seribu ekor domba dan uang seribu dinar. Selanjutnya Imam Husain as mengirimkan wanita itu kepada Abdullah bin Ja’far ra, dan seperti dua saudaranya tersebut, ia pun memberikan seribu ekor domba dan seribu dinar uang. Maka wanita itu pun kembali ke tempatnya dengan membawa tiga ribu ekor domba disertai uang 3000 dinar.

Wanita itu terharu, Inilah balasan bagi seekor domba yang disembelihnya. Dan inilah putera-putera Rasulullah saw yang membalas kebaikan orang lain dengan sebaik-baik pembalasan. Inilah wujud teladan sepanjang zaman.

Kumpulkanlah sejumlah manusia tampan dalam khayalan

Lalu datangkanlah Hasan sebagai bandingan

Semua akan tenggelam dalam pesonanya yang rupawan

Wajahnya bak purnama yang menyinari gelap malam

Aromanya menyebar dan mengalahkan semua wewangian bumi

Karena ia adalah semerbak wewangian surgawi

Yang terpancar dari bawah Arsy Ilahi

Pewaris tahta langit dan bumi dalam berkah dan ridha ilahi

Menyambut pagi ini, Dari kedalaman relung hati

Ku ucapkan “Assalamualaika Yabna Rasulullah, Ya Hasan ibn Ali” 

Selamat atas kelahiran Hasan putra Ali

Medan, 15 Ramadahan dini hari

🌹💝🌹
CR14

%d blogger menyukai ini: