BERKAH SEEKOR DOMBA

Oleh : Candiki Repantu

 

IMG_20170610_100149_157

Malam, 15 Ramadahan tahun ke-3 H. Suatu sinar suci menerangi Madinatun Nabi berasal dari rumah sederhana milik Sayidah Fatimah as, sang puteri terkasih Nabi saw. Malam itu, lahir seorang bayi mungil penuh aroma wangi malakuti dari rahim ratu bidadari. Itulah putera pertama yang dinanti Sang pengemban wasiat Nabi. Itulah cucu pewaris tahta ilahi. Sebagai rasa syukur, setelah tujuh hari pasca dikumadangkan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri, rumah kenabian mengadakan jamuan akikah dengan menyembelih seekor domba jantan dan bersedekah perak seberat rambut bayi. Berdasarkan wahyu suci, diberilah bayi itu dengan nama Hasan ibn Ali. Nama yang cukup asing ditelinga kaum Quraisy.

Dalam asuhan Nabi saw, Ali as dan Fatimah as, Imam Hasan as tumbuh menjadi teladan abadi. Bukan hanya fisiknya, tapi karakter dan akhlaknya mencerminkan seluruh kepribadian kakeknya.

Diriwayatkan oleh Syaikh Radhi al-Yasin dalam bukunya Shulh al-Hasan bahwa suatu hari wewangian Rasulullah saw, Imam Hasan as keluar melakukan perjalanan ditemani oleh Imam Husain as dan Abdullah bin Ja’far ra. Tanpa disadari, barang-barang bawaan mereka tertinggal sehingga menyulitkan perjalanan mereka. Lapar dan dahaga menimpa mereka dalam perjalanan tanpa bekal tersebut.

Dalam situasi itu mereka melihat kemah dwngan seorang perempuan tua sedang duduk di depan kemah tersebut. Maka Imam Hasan dan dua saudaranya ini menuju kemah dan meminta air kepada wanita tua tersebut untuk menghilangkan dahaga mereka. Wanita tua itu berkata, “perahlah susu domba ini!.” Merekapun memerah susu domba tersebut.

Kemudian, putera-putera Rasulullah saw ini meminta makanan kepada wanita tersebut. Perempuan itu berkata, “Aku tidak memiliki apapun selain domba ini. Sembelihlah ia oleh salah seorang di antara kamu”. Lalu disembelihlah domba wanita itu, dikuliti dan setelah itu wanita tua itu memanggang daging domba tersebut untuk dihidangkan kepada tiga tamu tak dikenalnya. Mereka pun memakan daging domba panggang tersebut dan setelah itu beristirahat sejenak untuk melepas lelah.

Ketika terbangun, mereka pamit sembari berkata kepada wanita tua itu, “Kami dari golongan Quraisy dan ingin melanjutkan perjalanan. Apabila nanti kami kembali, kunjungilah kami karena kami ingin berbuat baik kepadamu”. Kemudian mereka pergi.

Tak berselang lama, suami wanita tua itu pun kembali dan diberitahukan kepadanya bahwa ia telah menjamu tamu dengan dombanya. Suaminya marah dan berkata, “celakalah engkau! Kau telah mengorbankan dombaku untuk orang-orang yang tidak dikenal kecuali hanya sebagai orang Quraisy.”

Hari demi hari berlalu. Kondisi keluarga wanita tua itu semakin memburuk. Lalu ia pun berangkat menyusuri jalanan hingga sampai Madinah sambil tertatih-tatih. Imam Hasan as melihat wanita tua itu dan mengenalinya. Imam Hasan menegurnya dan bertanya, “Apakah engkau mengenalku?”. Wanita tua itu menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Tidak! Aku tidak mengenalmu”. Imam Hasan as pun menjelaskan bahwa dirinya adalah tamunya dulu yang dijamunya denga seekor domba miliknya.

Kemudian Imam Hasan as membawa wanita tua itu ke tempatnya, dan Imam Hasan as memberinya hadiah seribu ekor domba dan uang seribu dinar. Lalu Imam Hasan as mengirim wanita tua itu kepada Imam Husain as dan Imam Husain as pun memberikan seribu ekor domba dan uang seribu dinar. Selanjutnya Imam Husain as mengirimkan wanita itu kepada Abdullah bin Ja’far ra, dan seperti dua saudaranya tersebut, ia pun memberikan seribu ekor domba dan seribu dinar uang. Maka wanita itu pun kembali ke tempatnya dengan membawa tiga ribu ekor domba disertai uang 3000 dinar.

Wanita itu terharu, Inilah balasan bagi seekor domba yang disembelihnya. Dan inilah putera-putera Rasulullah saw yang membalas kebaikan orang lain dengan sebaik-baik pembalasan. Inilah wujud teladan sepanjang zaman.

Kumpulkanlah sejumlah manusia tampan dalam khayalan
Lalu datangkanlah Hasan sebagai bandingan
Semua akan tenggelam dalam pesonanya yang rupawan
Wajahnya bak purnama yang menyinari gelap malam
Aromanya menyebar dan mengalahkan semua wewangian bumi
Karena ia adalah semerbak wewangian surgawi
Yang terpancar dari bawah Arsy Ilahi

Menyambut pagi ini, dari kedalaman relung hati
Ku ucapkan “Assalamualaika Yabna Rasulullah, Ya Hasan ibn Ali”
Selamat atas kelahiran Hasan putra Ali
Pewaris tahta langit dan bumi dalam berkah dan ridha ilahi

15 Ramadahan 1438 H dini hari
Dari budakmu yang hina bernama Candiki

🌹💝🌹
CR14

Iklan

MAKNA RITUAL MENJUNJUNG ALQURAN PADA MALAM LAILATUL QADAR

IMG-20170618-WA0001

Pertanyaan :

Salam kepada redaksi YIAT (Yayasan Islam Abu Thalib.

Boleh minta penjelasan singkat ritual meletakkan Alquran di atas kepala yang dilakukan komunitas syiah seperti yang tersebar di foto-foto yamg ada

Bagi saya, tidak ada masalah dengan ritual tersebut, hanya ingin minta penjelasan singkat saja.

Wassalam

Hasbi Rambe (Mesir)

Jawaban :

Salam Pak Hasbi Rambe dan terima kasih atas pertanyaannya.

Mengangkat Alquran di depan wajah dan di atas kepala adalah salah satu ritual di malam-malam lailatul qadar (malam ke-19, 21, dan 23). Ritual itu disebut tawassul Alquran, di mana kita berbai’at kepada Alquran dengan haknya Alquran dan kepada AB (Ahlul Bait Nabi saw)  serta memohon kepada Allah swt limpahan rahmat, berkah dan ampunan-Nya.

Ketika kita menjunjung Alquran tersebut dianjurkan untuk membaca bacaan berikut ini :

اَللّـهُمَّ بِحَقِّ هذَا الْقُرْآنِ، وَبِحَقِّ مَنْ اَرْسَلْتَهُ بِهِ، وَبِحَقِّ كُلِّ مُؤْمِن مَدَحْتَهُ فيهِ، وَبِحَقِّكَ عَلَيْهِمْ، فَلا اَحَدَ اَعْرَفُ بِحَقِّكَ مِنْكَ

 “Ya Allah, demi hak Alquran ini, demi hak orang yang telah Engkau utus bersamanya, demi hak setiap mukminin yang telah Engkau sanjung didalamnya, dan demi hak mereka semuanya maka tiada seorang pun yang lebih mengetahui hak-Mu selain dari-Mu.”

Setelah itu dilanjutkan dengan membaca masing-masing 10 kali nama Allah, nama Nabi Muhammad saw, nama Sayidah Fatimah as, dan nama-nama 12 Imam maksum dengan lafadz berikut :

a). Bika Ya Allah  10 x

b). Bi Muhammad  10 x

c). Bi Aliy  10 x

d). Bi Fatimah  10 x

e). Bil Hasan  10 x

f). Bil Husain  10 x

g). Bi Aliy ibn al-Husain  10 x

h). Bi Muhammad ibn Ali  10 x

i). Bi Ja’far ibn Muhammad  10 x

j). Bi Musa ibn Ja’far  10 x

k). Bi Ali ibn Musa  10 x

l). Bi Muhammad ibn Ali  10 x

m). Bi Ali ibn Muhammad  10 x

n). Bil Hasan ibn Ali  10 x

o). Bil Hujjah (Imam Mahdi)  10 x

Demikianlah bacaan-bacaan yang dibaca dan diulang-ulang dalam ritual menjunjung atau tawassul Alquran di malam-malam qadar tersebut.

Adapun maknanya kita meletakkan Alquran di depan wajah kita dan menjunjung Alquran di atas kepala tersebut adalah sebagai tanda keseriusan dan penghormatan, sebab wajah dan kepala adalah bagian paling berharga di tubuh kita. Kalau kita serius berbicara dan memohon dengan seseorang maka kita menghadapkan wajah dan kepala kita dengan penuh penghormatan kepadanya. Ini berarti kita menjunjung dan menghormati Alquran setinggi-tingginya.

Selanjutnya Alquran adalah kalam Allah untuk manusia, artinya Allah menyampaikan atau berbicara kepada manusia melalui wahyu. Dengan demikian Alquran diturunkan sesuai bahasa manusia, dan bahasa manusia itu adalah akalnya. Sebab, hakikat manusia adalah akalnya. Jadi bukan sekedar hanya bahasa Arabnya, tetapi yang lebih penting adalah bahasa akalnya. Karena itu Alquran dan AB selalu berbicara sesuai kemampuan akal manusia. Sebuah riwayat mengatakan, “Tukallimunnas ala qadri uqulihim” (Bicaralah kepada manusia sesuai kemampuan akal mereka). Menjunjung Alquran di atas kepala sebagai bagian dari pengakuan bahwa akal dan wahyu adalah dua hujjah Allah swt untuk membimbing manusia kepada kesempurnaanya. Artinya juga ajaran Islam dan Alquran itu sesuai dengan akal dan rasional serta tidak ada ajaran Alquran dan AB yang tidak masuk akal.

Kemudian, dalam ritual itu kita bertawassul dan berbai’at kepada Alquran yang tertulis dan AB yang hidup. Ini menunjukkan bahwa Alquran itu ada dua jenis yaitu Alquran yang diam dan Alquran yang berbicara. Alquran yang diam adalah Alquran yang tertulis dan dibukukan, sedangkan Alquran yang bicara adalah para manusia maksum yakni Nabi Muhammad saw dan para imam as. Mereka yang hidupnya adalah aktualisasi Alquran. Alquran dan AB diturunkan oleh Allah swt sebagai petunjuk, penjelas, dan pembeda kebenaran dengan kebatilan. Jadi dengan berpegang teguh kepada keduanya kita akan mendapat petunjuk meniti jalan kebenaran, sesuai dengan sabda Nabi Saw dalam hadis tsaqalain, bahwa Nabi saw meninggalkan dua pusaka kepada umat agar tidak tersesat selama-lamanya yaitu Alquran dan Ahlul Bait as.

Begitu pula, kepala adalah simbol kepemimpinan. Maka dengan menghadapkan wajah dan kepala kita kepada Alquran dan AB, kita ingin mengatakan bahwa kita siap dipimpin oleh Alquran dan AB dalam meniti kehidupan di dunia dan di akhirat. Dengan pimpinan Alquran dan AB hidup kita ke depannya akan penuh dengan kabaikan. Kalau kepala sebagai pemimpin diri kita tunduk dan patuh kepada Alquran dan AB maka seluruh diri kita pun siap dipimpin oleh mereka. Pikiran, perkataan, sikap, dan perilaku kita akan dipimpin oleh Alquran dan AB menuju Tuhan semesta alam utk menggapai kesempurnaan insan. Inilah sekilas di antara makna penting ritual menjunjung Alquran di malam-malam lailatul qadar.

Wasaalam
YIAT

Tadarus Ramadhan (24) : TUHAN MILIK LAKI-LAKI?

Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Di dalam Aquran kita selalu menemukan dhamir (kata ganti) maupun kata kerja yang digunakan untuk laki-laki, dan pada saat yang sama kita lebih sedikit menjumpai dhamir dan kata kerja yang diperuntukkan kepada perempuan. Hal ini terkadang menimbulkan pertanyaan dibenak kita; apakah Alquran dan pada gilirannya Islam adalah ajaran yang hanya diperuntukkan untuk laki-laki atau setidaknya agama yang menganak emaskan laki-laki dan menganggap anak tiri perempuan?

Anggapan ini pernah terjadi di masa Nabi saw. Dalam Tafsir Nur ats-Tsaqalain juz 4, diriwayatkan dari Muqatil bin Hayyan bahwa suatu hari ketika Asma binti Umais kembali dari Habsyah dengan suaminya Ja’far bin Abi Thalib, dia bertemu dengan para isteri Rasulullah saw dan bertanya, “Adakah di antara kita yang memiliki (sebutan/ingatan) dalam ayat-ayat Alquran?” Mereka menjawab : “Tidak ada”. Lalu Asma pergi menemui Rasulullah saw dan berkata, “Ya Rasulullah saw! Sungguh para perempuan berada dalam kegagalan dan karugian!”. “Mengapa demikian” tanya Rasulullah saw. Maka Asma menjawab, “Karena mereka tidak pernah disebut dan kenang dengan kebaikan sebagaimana para lelaki disebut dan dikenang.” Maka Allah swt pun menurunkan ayat :

“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang yang taat, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. Al-Ahzab : 35).

Dengan turunnya ayat ini maka jelaslah bahwa visi Alquran adalah universal, untuk laki dan perempuan.

Untuk dapat memahami lebih utuh persoalan ini, maka perlu diperhatikan bahwa setiap bahasa memiliki aturan dan tata bahasa tertentu yang tentu saja berbeda dengan bahasa lainnya.
Dalam bahasa Indonesia umpamanya kita tidak membedakan antara subjek laki-laki maupun perempuan, artinya baik untuk laki-laki maupun perempuan kita tetap menggunakan bentuk kata kerja yang sama, begitu juga dengan kata ganti yang digunakan tidak membedakan kedua jenis ini. “Dia, engkau, kamu” dalam Bahasa Indonesia berlaku sama untuk laki-laki dan perempuan.

Permasalahannya akan jauh berbeda ketika kita masuk kedalam kajian struktur bahasa Arab dimana di sana baik kata ganti, subjek dan kata kerjanya akan dibedakan antara laki-laki dan perempuan, bahkan dengan pergantian waktu terjadinya sebuah perbuatan maka kata kerjanya juga akan mengalami perubahan, yang dimana semua ini merupakan hal yang tidak lazim kita temui dalam bahasa Indonesia.

Untuk lebih jelasnya kita akan lihat sebagian dari aturan tersebut. Di dalam bahasa Arab jika pelaku suatu perbuatan semuanya laki-laki, maka kata kerjanya juga kata kerja yang mengindikasikan laki-laki (muzakkar). Jika pelaku atau subjeknya semuanya perempuan maka kata kerjanya juga akan memiliki ciri perempuan (muannats). Dan jika pelaku atau subjeknya gabungan antara laki-laki dan perempuan maka kata kerjanya tetap menggunakan tanda laki-laki (muzakkar). Hal ini juga berlaku untuk dhamir atau kata ganti. Nah, dari sini dapat kita pahami bahwa penggunaan kata kerja maupun dhamir dalam bahasa Arab akan lebih sering menggunakan “muzakkar” ketimbang “muannats”.

Berangkat dari penjelasan ringkas di atas, maka Alquran sebagai literatur agama Islam yang diturunkan dalam bahasa Arab, akan mengikuti aturan tata bahasa yang berlaku dalam bahasa tersebut. Yang pada gilirannya seruan ataupun anjuran yang melingkupi segala jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan harus dituangkan dalam bentuk kata atau kalimat yang memiliki ciri khas laki-laki.

Sebagi contoh, ketika Allah SWT mewajibkan puasa yang tentu saja mencakup laki-laki maupun perempuan, maka kata yang digunakan adalah kata muzakkar.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. ” (Q.S. Al-Baqarah: 183).

Semua kata kerja yang ada dalam ayat ini berbentuk muzakkar (laki-laki) seperti “orang-orang beriman” dan “bertakwa” (آمنوا، تتقون) begitu juga dengan kata ganti “kamu” (کم). Padahal kita ketahui bersama bahwa kewajiban puasa merupakan kewajiban bagi semua, baik laki-laki maupun perempuan.

Karena itu, meskipun ayat di atas hanya menyebut laki-laki tetapi maknanya berlaku juga untuk perempuan. Yang membedakan antara laki-laki dan perempuan dan begitu juga terjadinya perbedaan yang mencolok antara penggunaan baik kata kerja muzakkar maupun kata ganti muzakkar dari kata kerja dan kata ganti muannats di dalam Al-Quran adalah bahasa Arab itu sendiri, bukan Al-Quran dan ajarannya. Bahasa Arab bersifat lokal dan regional sedangkan ajaran Alquran bersifat universal.

Atas dasar ini dalam ajaran Islam tidak ada istilah anak emas untuk laki-laki dan anak tiri untuk perempuan. Semua sama di hadapan Tuhan Yang Maha Penyayang. Jadi jangan ada anggapan Tuhan hanya milik laki-laki. Wallahu a’lam. (CR14)

Tadarus Ramadhan (23) : MAKNA AYAT MUSTASYABIHAT DALAM ALQURAN

Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Sesuai dengan apa yang termaktub dalam Al-Quran, bahwa ayat-ayat kitab agung ini dapat dibagi kepada dua kelompok yaitu ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat. Allah berfirman, “Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat.” (Q.S. Ali Imran : 7).

Ayat-ayat muhkamat adalah ayat induk yang menjadi tolok ukur kebenaran ayat-ayat mutasyabihat. Oleh karena itu ayat-ayat muhkamat memiliki makna yang jelas, gamblang dan tidak multitafsir sehingga dapat dijadikan sebagai tolok ukur dan asas penafsiran. Sebaliknya, ayat-ayat mutasyabihat adalah sekelompok ayat yang disamping memiliki makna yang benar, pada saat yang sama juga dapat diselewengkan dan diarahkan menuju makna yang salah. Atas dasar ini ayat mutasyabihat adalah ayat yang multitafsir yang sering digunakan untuk maksud-maksud yang bertentangan dengan kebenaran.

Ayat mutasyabih bisa dibagi menjadi dua jenis, yaitu :

1). Mutasyabihat zati adalah, mutasyabihat yang bersumber dari ketidak mampuan bahasa Arab dalam menampung kedalaman makna yang ingin disampaikan melalui lafadz-lafadz dan kata-kata. Kebanyakan mutasyabihat zati ini berhubungan dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan ” mabda” (Sumber Keberadaan, Allah SWT) dan “ma’ad” (kebangkitan akhirat).

Hal ini disebabkan Tuhan dan sifat-sifat-Nya yang begitu agung dan tidak terbatas sehingga sulit dijelaskan dengan kata-kata yang terbatas. Begitu juga dengan alam akhirat yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga serta tidak pernah terlintas dalam jiwa, harus dijelaskan dengan menggunakan kata-kata dan lafadz-lafadz yang diciptakan oleh manusia yang selalu berhubungan dengan alam materi yang serba terbatas.

2). Mutasyabihat ‘Aradi adalah mutasyabihat yang bukan bersumber dari dalam Al-Quran itu sendiri tapi justru datang dari luar. Kebanyakan mutasyabihat bentuk kedua ini ditimbulkan oleh perdebatan mazhab-mazhab Kalam yang ada di kalangan kaum muslimin.

Ayat-ayat ini pada dasarnya bukanlah mutasyabihat, yang mana jika dipaparkan kepada orang yang belum memilih Mazhab tertentu, maka ayat ini akan dipahami dengan benar. Seperti ayat-ayat yang dijadikan argumen oleh kelompok-kelompok mujassimah yang menganggap Tuhan memiliki jisim (jasad) seperti makhluk ciptaan-Nya. Misalnya, “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka.” (Q.S. Al-Fath: 10) dijadikan dalil untuk membuktikan adanya tangan Tuhan, dan masih banyak ayat-ayat lainnya. Wallahu a’lam. (CR14)

Tadarus Ramadhan (22) : MANUSIA DAN FITRAH

Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Allah SWT menciptakan manusia dalam keadaan mentauhidkan penciptanya; baik mukmin maupun kafir pada awalnya memiliki fitrah yang suci, yaitu fitrah yang membimbingnya pada penyembahan Tuhan yang esa. Allah SWT berfirman: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”(Q.S. Al-Rum:30). Seiring berjalannya waktu ada yang berusaha tetap menjaga fitrah ini dan pada saat yang sama melakukan usaha dalam rangka meningkatkan kualitas fitarah tadi.

Di sisi lainnya ada juga yang menutupi fitrah yang sudah dititipkan Allah SWT di dalam dirinya. Allah SWT berfirman: “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah : 257).

Ayat ini dengan jelas memaparkan kepada kita bahwa orang-orang yang keluar dari jalur tauhid dan memilih thagut atau syaitan sebagai pelindung maka mereka akan digiring keluar dari cahaya( fitrah) menuju kegelapan baik itu berupa kesyirikan maupun penyimpangan-penyimpangan lainnya. Sementara orang-orang yang beriman dan tetap memperjuangkan kesucian fitrahnya maka akan digiring dari kegelapan menuju cahaya.

Yang menjadi pembahasan menarik dalam ayat ini adalah orang-orang yang beriman dalam ayat ini seolah-olah pada awalnya berada pada sebuah titik kegelapan, kemudian diarahkan menuju alam yang penuh dengan cahaya, berbeda dengan orang kafir yang pada titik awalnya berada pada posisi yang terang lalu kemudian dibawa menuju kegelapan. Padahal sebagai mana disebutkan sebelumnya baik mukmin maupun kafir pada awalnya sama-sama berada pada titik yang yang tidak berbeda, yaitu fitrah yang suci sebagai amanat dari Allah SWT.

Untuk kasus orang Kafir tentunya kandungan ayat ini sudah sangat tepat, sebab mereka sedang digiring dari cahaya( fitrah) menuju kegelapan.
Untuk kaum beriman juga pada dasarnya tidak ada yang perlu diperdebatkan, mengingat bahwa cahaya memiliki tingkatan yang berbeda-beda, mulai dari tingkat yang paling rendah sampai tingkat yang paling tinggi. Tingkat yang lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkatan yang lebih tinggi masih dianggap kegelapan, sehingga di dalam ayat disebutkan seolah-olah orang-orang yang beriman berada pada kegelapan, padahal sebenarnya hanyalah kegelapan nisbi; artinya dalam kegelapan jika dibandingkan dengan tingkatan sesudahnya.

Dari sini dapat kita pahami bahwa start awal setiap manusia baik mukmin maupun yang kafir adalah fitrah yang suci ataupun cahaya sesuai dengan teks ayat di atas. Wallahu a’lam. (CR14).

Tadarus Ramadhan (21) : HUBUNGAN ANTARA AMAL DUNIA DAN BALASAN DI AKHIRAT

Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Alam dunia adalah ladang, sedangkan akhirat merupakan tempat memetik hasil yang dituai selama berada di dunia ini. Dalam hal ini ada yang berhasil memanfaatkan moment yang diberikan dan tak sedikit juga yang gagal dalam mengelola fasilitas yang telah diamanahkan padanya.

Golongan pertama yaitu orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan mendapat ganjaran pahala yang berupa surga, “Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah:82). Dan sebaliknya orang-orang yang gagal atau kelompok ke dua akan digiring menuju neraka, “(Bukan demikian), yang benar, ‘barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah:81).

Kedua hal ini adalah permasalahan yang sudah jelas bagi kita semua, maksudnya orang beriman dan beramal saleh masuk surga dan orang kafir masuk neraka. Hanya saja kali ini kita akan melihat dimensi yang berbeda yaitu tentang hubungan antara amal dan balasan amal itu sendiri.

Dalam hal ini, ada tiga jenis hubungan yang dapat kita asumsikan untuk amal dan balasan yang didapat di akhirat kelak :

1). Hubungan “I’tibari” atau kesepakatan dan ketetapan. Yaitu amal atau hukum yang ditetapkan terhadap perbuatan baik ataupun perbuatan buruk yang dilakukan oleh seseorang di alam dunia ini berdasarkan pada kesepakatan yang pada dasarnya tidak ada hubungan yang kongkrit antara amal dan balasannya secara keberadaan. Misalnya, mencuri dihukumi dengan penjara sepuluh tahun, rajin melaksanakan tugas diganjar dengan kenaikan pangkat dan lain-lain sebagainya.

Pada kedua contoh diatas tidak ada hubungan kongkrit atau keberadaan antara mencuri dan penjara sepuluh tahun ataupun rajin bertugas dengan naik pangkat selain ketetapan yang dibuat dan disepakati. Mungkin keyakinan yang seperti inilah yang dimiliki oleh Mazhab Asy’ari yang mengatakan bahwa boleh-boleh saja Tuhan memasukkan seorang kafir ke dalam surga dan sebaliknya menggiring seorang mukmin yang taat ke dalam neraka, sebab pada asumsi pertama ini tidak ada hubungan yang jelas antara amal dan hasil yang diperoleh selain kesepakatan atau ketetapan belaka.

2). Hubungan sebab akibat. Dalam hal ini antara amal dan balasan amal ada hubungan yang jelas dimana balasan merupakan akibat (ma’lul) dari amal yang merupakan sebab (illat). Artinya, secara wujud atau keberadaan, terdapat kaitan yang tidak terpisahkan antara amal dan balasannya.

Dalam asumsi kedua ini tentu saja pemahaman Asy’ari tertolak dengan sendirinya sebab secara illat dan ma’lul atau sebab dan akibat pekerjaan baik tidak berhubungan dengan neraka dan sebaliknya pekerjaan buruk tidak ada kaitannya dengan surga.
Asumsi ini sesuai dengan pahaman kebanyakan kaum muslimin dimana sebagian dari ayat Al-Quran juga mengindikasikan seperti itu, “Dan tempat mereka jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Taubah : 95).

Dalam ayat ini ada huruf ba (بما کانوا یکسبون) yang secara tatabahasa disebut huruf “ba sababiah”, atau ba yang memiliki arti sebab atau dengan sebab.

3). Hubungan kesatuan atau ‘ainiyah”. Asumsi ketiga ini melihat bahwa tidak ada keterpisahan antara amal dan balasan bahkan keduanya merupakan kesatuan, hanya saja ada perbedaan alam diantara keduanya. Dalam pandangan ini amal yang kita lakukan memiliki dua sisi; satu sisi lahiriah dan satu sisi batin dimana batin amal adalah lahiriah amal itu sendiri dan begitu sebaliknya. Pada tahap ini, hanya memiliki satu kesatuan bukan dua sesuatu seperti pada asumsi kedua atau sebab-akibat.

Untuk membuktikan kebenaran asumsi ke tiga ini ada baiknya kita melihat ayat suci Al-Quran yang menyatakan: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Q.S. Al-Zalzalah : 7-8). Pada ayat ini disebutkan bahwa yang dilihat nantinya di akhirat adalah amal itu sendiri bukan balasannya, sebab dalam ayat tersebut tidak ada kata “Jazaa” yang berarti balasan, walaupun dalam terjemahan-terjemahan yang ada kata balasan disebutkan di dalam kurung seperti terjemahan yang dikutip di atas.

Dan di ayat lainnya disebutkan: “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)”. (Q. S. Al-Nisa:10). Ayat ini lebih tegas lagi menyatakan bahwa orang yang memakan harta anak yatim secara zalim sebenarnya sedang memakan api. yang tentu saja ini ada pada alam batin amal, bukan pada lahiriyahnya sebab tidak dapat disaksikan dengan mata kepala kita. Wallahu a’lam. (CR14)

Tadarus Ramadhan (20) : TUJUAN PENCIPTAAN MANUSIA

Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Seorang bijak atau “hakim”, tentu saja memiliki tujuan logis dalam setiap perbuatan yang dilakukannya, jika tidak maka penyematan bijaksana dianggap tidak tepat dan salah sasaran. Allah SWT, bahkan memiliki nama “Ahkamul Hakimin” yang paling bijaksana, karena memang Dia memiliki tujuan dan alasan yang terbaik untuk semua perbuatannya.

Penciptaan manusia yang merupakan salah satu perbuatan Allah SWT, juga sudah dapat dipastikan memiliki tujuan yang sangat jelas sebab penciptaNya adalah yang paling bijaksana. Allah berfirman, “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Q.S. Al-Mukminun: 115).

Dari ayat ini dipahami bahwa penciptaan manusia bukanlah kesia-siaan, tapi sebaliknya memiliki tujuan yang sangat jelas. Dalam Al-Quran, setidaknya ada dua hal yang disebutkan sebagai tujuan dari penciptaan manusia.

1). Tujuan ‘Ilmi yaitu yang bersifat pengetahuan dan wawasan; pencipta langit dan bumi dan tentu saja di dalamnya manusia bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan serta wawasan keilmuan manusia tentang Allah SWT. Dalam Al-Quran disebutkan: “Allah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Q.S. Al-Thalaq: 12)

2). Tujuan ‘Amali; yaitu tujuan dari penciptaan manusia adalah agar manusia menyembah Allah SWT. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. Al-zariyat : 56). Berbeda dengan yang pertama, yang menjadi tujuan penciptaan pada ayat ini adalah tindakan manusia dihadapan Tuhannya. Dimana jika tujuan ini tercapai maka manusia akan menjadi hamba hakiki ilahi, sebagi mana nabi Muhammad selalu kita sebutkan di dalam tasyahhud sebagai “abdun” atau hamba Allah SWT.

Dari kedua tujuan ini, tidak satupun yang hasilnya kembali kepada Allah SWT, sebab Dia adalah zat yang Maha Sempurna sehingga tidak ada sesuatu apapun yang masih perlu dipenuhi. Hal ini sangat berbeda dengan makhluk ciptaannya; dimana tujuan yang ingin dicapai dari setiap perbuatan yang dilakukan justru dalam rangka menyempurnakan durinya. Wallahu a’lam (CR14).