Tadarus Ramadhan (12) : UPAH BUAT NABI SAW


Oleh : Ust. M. Iqbal al-Fadani

Para Nabi adalah utusan Allah swt untuk menerima, menyampaikan, dan melaksanakan perintah Tuhan. Sebagai “pesuruh Tuhan” tentu para Nabi mengharapkan imbalan atas kerjanya dari tuannya, yakni Allah swt. Karena itu kita dapati para Nabi selalu mengatakan bahwa mereka tidak meminta upah kepada manusia, sebab upah mereka hanyalah dari Allah swt.

Misalnya Nabi Nuh as berkata, “Dan aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku hanyalah dari Tuhan semesta alam” (Q.S. as-Syua’ra : 109). Nabi Hud as juga berkata yang sama, ” Dan aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku hanyalah dari Tuhan semesta alam” (Q.S. as-Syua’ra : 127). Begitu juga dengan nabi-nabi lainnya seperti Nabi Shalih as, Nabi Luth as, dan Nabi Syuaib as.

Namun, berbeda dengan para Nabi umumnya, Nabi Muhammad saw ternyata meminta upah kepada manusia. Alquran mengabadikan hal ini, “Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan (keluargaku).” (Q.S. As-Syura : 23)

Lantas mengapa nabi Muhammad saww di dalam surah Syura meminta upah pada ummatnya, sedangkan para Nabi yang lain tidak melakukannya?

Perlu diperhatikan terlebih dahulu, bahwa Nabi Muhammad Saw juga menyampaikan hal yang sama seperti para Nabi lainnya, bahwa beliau tidak meminta upah atas penyampaian risalahnya. Hal ini disebutkan dalam Alquran, “Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Alquran).” Alquran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” (Q.S. Al-An’am : 90).

Dengan demikian, dari berbagai ayat-ayat tersebut, semua para Nabi, termasuk Nabi Muhammad saw pada dasarnya tidak meminta upah kepada umatnya. Upah yang mereka harapkan hanyalah dari Allah swt.

Namun, Nabi Muhammad saw memdapat keisitimewaan dengan meminta upah kepada umatnya juga. Upah tersebut adalah umat harus mencintai keluarganya. Apa yang membuatnya istimewa?

Pertama : Permintaan upah kepada umat untuk mencintai keluarga Nabi saw merupakan perintah Allah SWT dan tidak ada kaitannya dengan keinginan nabi Muhammad Saww. Hal ini dapat dilihat dari kalimat “قل” yg ada pada ayat tersebut yang berarti “katakanlah (Muhammad)”.

Kedua : Permintaan upah dari Nabi saw kepada umat pada dasarnya bukan untuk Nabi saw, tetapi untuk umat itu sendiri. Hal itu dikarenakan manfaat upah yang disebutkan, pada akhirnya akan kembali kepada umat itu sendiri. Alquran menegaskan hal ini dalam ayat-ayatnya, seperti : ” Katakanlah: “Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu.” (Q.S. Saba : 47). Dalam ayat lain disebutkan, “Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya.” (Q.S. Al-Durqan : 57).

Diantara manfaat yang kembali kepada kita atas pembayaran upah kecintaan terhadap keluarga Nabi Muhammad Saw akan mengantarkan umat manusia menuju kesempurnaan. Karena besarnya manfaat kecintaan pada keluarga nabi, maka di dalam ayat ini dinyatakan sebagai upah risalah. Demikianlah, semoga kita dianugerahi kecintaan suci kepada keluarga Nabi. 🌹💝(CR14)

%d blogger menyukai ini: