Tadarus Ramadhan (11) : BAHASA MANUSIA DALAM ALQURAN


Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Kalau kita membaca Alquran, maka kita juga mendapati adanya kisah-kisah dalam Alquran. Bahkan ayat-ayat tentang kisah-kisah masa lalu sangat banyak jumlahnya. Dalam kisah-kisah ini, seringkali Alquran mengutip ucapan-ucapan para pelaku sejarah. Misalnya perkataan para Nabi, perkataan para raja seperti Firaun, Namrud, perkataan masyarakat, para wanita, bahkan para binatang.

Tentu perkataan-perkataan ini memgandung makna sehingga diabadikan dalam Alquran. Masalahnya apakah ketika Al-quran menyampaikan atau menukil perkataan seseorang, apakah itu berarti Al-quran menganggap benar hal tersebut? Belum tentu.

Al-quran merupakan kitab yang paling sempurna dan paling utama dalam hal pemberian hidayah terhadap ummat manusia. Kitab ini diturunkan untuk mengarahkan ummat manusia menuju kesempurnaannya. Oleh karena itu setiap kata dan kalimat yg tertera didalamnya memiliki muatan keteladanan, hal ini meniscayakan adanya pernyataan sikap yang jelas terhadapa semua isinya. Jika benar harus mendapat label kebenarannya begitu juga sebaliknya jika ada kesalahan maka harus dinyatakan oleh Al-quran itu sendiri.

Atas dasar ini jika Al-quran menyampikan perkataan seseorang dan ternyata muatannya tidak benar, Al-quran melalui ayat-ayat nya akan menolakya dan menyatakan ketidak benarkan ucapan tersebut. Dan jika suatu perkataan disampaikan, namun tidak ditemukan bantahan terhadap hal tersebut maka dapat dipastikan bahwa perkataan itu benar, sebab kitab suci ini tidak akan mendiamkan kesalahan sekalipun hal tersebut sangat kecil.

Sebagai contoh ketikan Al-quran memuat perkataan Firaun kepada kaumnya di dalam surah Al-Nazi’at ayat 24: “( seraya) berkata: akulah tuhan kalian yg paling tinggi” ayat berikutnya langsung memberikan bantahan dengan mengatakan ” maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.

Pada kesempatanyang lain, tepatnya pada surah Yusuf ayat 28, ketika Al-Quran memaparkan perkataan suami Zulaikha, di sana kita tidak menemukan bantahan atas ucapan tersebut, hal ini menunjukkan kebenaran ucapan di atas, sebab jika ditemukan kesalahan di sana maka Al-Quran tidak akan melewatkannya begitu saja.

“Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di belakang berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar”.” (CR14)

%d blogger menyukai ini: