PERNIKAHAN SUCI SANG PUTRI NABI


Oleh : Candiki Repantu

ali-fathimah2

Madinah al-Munawwarah semakin bercahaya, dengan tumbuh dan mekarnya “bunga surga”, penyejuk mata Nabi mulia, Fatimah Zahra ummu abiha.

Nasab mulia dimilikinya baik dari jalur ayah atau ibunya, cahaya kecantikannya tak perlu diragukan, keagungan akhlaknya patut dibanggakan, sehingga membuat setiap lelaki di zamannya tak peduli dengan usia dan kedudukan mereka, semua saling berlomba untuk merebut hati Sang Nabi dan perhatian Sang Putri.

Abu Bakar yang usianya sepadan dengan Rasulullah saw datang untuk meminang Fatimah. “Wahai Rasulullah, Anda telah mengetahui kesetiaan dan pengabdianku terhadap Islam, aku menginginkan agar Anda menikahkan diriku dengan Fatimah”, minta Abu Bakar.

Nabi Saw tertegun mendengarnya, tanpa sepatah katapun keluar dari lisannya. Abu Bakar memahami Nabi tidak menerimanya. Maka ia pun pergi meninggalkan rumah Nabi yang mulia. Di perjalanan ia bertemu Umar sahabatnya, menyampaikan bahwa Nabi saw mengabaikan lamarannya.

Dengan ditolaknya Abu Bakar, Umar merasa memiliki kesempatan. Tak menunggu waktu, ia langsung bergegas memburu. Seperti Abu Bakar, ia berhajat meminang Fatimah untuk menjadi pendamping hidupnya. Namun, ia bernasib sama seperti Abu Bakar. Nabi tak meresponnya dan hanya berkata Beliau sedang menunggu pesan ilahi menyangkut jodoh sang putri. Dua sahabat senior ini gugur dalam sayembara suci merebut pujaan hati.

Sahabat-sahabat lainnya tak mau rugi, mereka berusaha menampilkan diri, dengan segala yang mereka miliki, untuk dapat mempersunting putri terkasih Nabi.

Dua pengusaha besar saling berebutan, Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan. Keduanya datang ke rumah Nabi secara bersamaan untuk menyampaikan lamaran kepada Fatimah wanita idaman.

Abdurrahamn bin Auf memulai pembicaraan, “Wahai Nabi, nikahkanlah putrimu denganku, maka aku akan memberinya mahar seratus unta hitam bermata biruy berasal dari Mesir di lembah sungai Nil yang semuanya dalam keadaan hamil. Tidak hanya itu, aku juga akan menambahkan sepuluh ribu dinar sebagai hantaran.”

Mendengar itu, Usman bin Affan tak mau ketinggalan, Ia menyambut pembicaraan Abdurrahman, “Wahai Nabi, seperti halnya Abdurrahman, Aku pun siap memberikan mahar yang sama jika Fatimah berkenan. Lagian, aku masuk Islam lebih duluan.” Usman mengemukakan kelebihan, agar nabi condong kepadanya untuk menentukan pilihan.

Rasul tersenyum memandang kedua sahabatnya ini. Untuk menenangkan hati sabdapun disampaikan Nabi, Amraha inda rabbiha”, urusannya ada di sisi Tuhannya. Nabi tak menginginkan harta karena memang keluarganya senang hidup sederhana. Nabi hanya menegaskan bahwa jodoh Fatimah ada dalam ketetapan Tuhannya.

Syuaib bin Saab menggambarkan kisah ini dengan indah,

“Ketika matahari kecantikannya bersinar di langit kerasulan

dan menjadi purnama di cakrawala kenaikan bulan kesempurnaannya,

awal pikiran menjangkau ke arahnya

dan tatapan orang-orang terpilih rindu mengamati kecantikannya;

maka, para pemimpin kaum Muhajirin dan Anshar meminangnya,

namun orang yang dikarunia ridha Allah (Nabi Muhammad Saw) menolak mereka

dan berkata, ‘Aku sedang menanti ketetapan Tuhan atasnya’.”

Apakah sebenarnya yang dinantikan Nabi? Bukankah telah datang kepadanya sahabat-sahabat besar yang mengikat janji? Bukankah telah ditawarkan limpahan harta sebagai mahar tanda kasih sejati? Namun mengapa nabi menolak dan mengembalikannya pada pesan ilahi?

Semua orang merasa bahwa Fatimah bukanlah “wanita biasa”, maka Nabi pun mencari suami yang bukan “lelaki biasa”. Siapa gerangan lelaki itu adanya?

Para sahabat sudah bisa menduga. Lelaki itu sahabat setia sekaligus kerabatnya. Ia orang yang paling dekat dengannya, paling dicintainya. Ia pembela gigih agama, berjuang sepenuh jiwa,d pengabdi yang tak diragukan kesetiaannya, itulah Ali bin Abi Thalib, Haidar Sang Singa. Nabi menantikan kedatangannya.

Namun, sepertinya Ali hilang keberaniannya untuk mengikuti sayembara cinta melamar Fatimah. Ia sadar siapa dirinya. Bayangkan, sejak kecil hingga dewasa ia diasuh di rumah Khadijah, diberi makan, diberi pakaian, dididik dengan sebaik-baik pendidikan. Belum lagi membalas semua itu, kini berani-beranian meminta lagi anak Nabi untuk dijadikan isteri. “Sungguh tidak tahu terima kasih”, begitu kata hati yang menghantui batinnya Ali.

Lagian, apa yang bisa ditawarkan untuk bekal pinangan. Ali adalah pemuda miskin yang tak punya rumah idaman, biaya hidup pas-pasan, pas ada biaya maka bisa membeli makanan, pas tidak ada maka ibadah puasa jadi pegangan, pakaian pun hanya apa yang ada di badan. Sungguh tak layak pikir Ali, untuk melangkahkan kaki melamar putri suci, cahaya mata sang Nabi.

Namun, cerita sudah beredar bahwa semua orang ditolak Nabi dengan sabar, hanya Ali saja yang belum datang melamar. Para sahabat memotivasi Ali agar dirinya tak gentar untuk menyampaikan isi hati yang kian membakar dalam api cinta suci yang terus berkobar.

Namun itulah Ali sang Haidar, pemuda yang tegar di medan pertempuran yang besar, kini tubuhnya bergetar, lidah kelu tak mampu berujar, kepalanya tertunduk seperti ditindih batu besar, saat menghadap Nabi Saw untuk melamar al-Kautsar. Rasulullah saw mengerti gelagat Ali yang menyimpan keinginan di dalam hati. Ia pun bertanya, “Apa gerangan yang membawamu kemari?”.

Jantung Ali berdetak lebih laju, rona wajahnya semakin memerah malu, mulutnya semakin terkunci membisu, tapi pikirannya ingin menyampaikan sesuatu.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Rahman, Ali memulai pembicaraan, menyampaikan keinginan untuk memiliki pasangan, yang mendampinginya mengarungi suka dukanya kehidupan, dan itu adalah Fatimah Zahra, wanita mulia sepanjang zaman.

Wajah Nabi menunjukkan kegembiraan, sebab yang dinantikan kini datang menghadap sopan, inilah akhir janji Tuhan, agar menikahkan Fatimah dengan orang yang sepadan, “Kalau tidak ada Ali, tidak ada yang layak menikahi Fatimah”, begitu kira-kira janji yang telah ditetapkan-Nya.

Namun, Nabi tahu aturan, dibutuhkan persetujuan untuk menikahkan anak perempuan. Nabi pun bersabda, “Wahai Ali, sebelummu, sudah banyak laki-laki datang melamar Fatimah, tapi ia menolak mereka semua. Aku akan sampaikan hajatmu kepadanya, tunggulah sampai jawaban terlontar dari lisannya.”

Nabi bergegas menemui putrinya, sedangkan Ali menanti jawaban az-Zahra dengan hati gundah gulana. “Fatimah!”, panggil Nabi dengan suara lembutnya. “Engkau tahu hubungan Ali dengan kita, engkau juga tahu pengabdian dan kesetiaannya. Aku meminta kepada Allah agar menikahkanmu dengannya, dengan manusia terbaik dari semua makluk-Nya, yang mencintai dan dicintai-Nya. Dan kini Ali datang melamarmu, bagaimana pendapatmu?”

Fatimah tak memberikan jawaban, hanya pancaran wajah dan sorot matanya telah menampakkan isi hatinya. Nabi saw berdiri mengumandangkan takbir, Allahu Akbar, diammu menunjukkan persetujuanmu”

Nabi menyampaikan kabar gembira itu kepada Ali, Ali pun merasa lega di hati, tapi tunggu dulu, ada hal lain yang perlu diketahui, yaitu mahar apa yang dapat diberikannya sebagai suami. “Apa yang bisa kau berikan sebagai mahar pernikahan?” tanya Nabi kepada Ali.

Inilah yang dikhawatirkan Haidar, tak mungkin ia mampu memberikan mahar untuk menyaingi Abu Bakar dan Umar, apalagi Abdurrahman bin Auf dan Usman bin Affan yang dulu datang melamar. Jangankan seratus ekor unta bermata biru, membeli satu untapun dirinya tak mungkin mampu. Tapi lamaran sudah terlanjur disetujui, tak mungkin ditarik kembali. Dengan memberanikan diri, berkatalah Ali, “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Nabi. Tentang kehidupanku engkau sangat mengetahui aku hanya memiliki tiga buah benda : sebilah pedang, seekor unta, dan sebuah baju besi.”

Rasulullah tersenyum, ia tahu betul keadaan sepupunya, tak ada yang tersembunyi darinya, kecuali apa yang diutarakannya. Rasul pun berkata, “Pedang kau gunakan untuk berjuang,u kau pakai untuk mengangkut air kebutuhan harian, karena itu tak mungkin kau menyerahkan sebagai mahar pernikahan. Juallah baju besi dan bawa hasilnya kemari”, Itulah pesan Sang Nabi.

Imam Ali pun melaksanakan titah ilahi untuk menjual baju besi sebagai mahar mengikat tali kasih dalam suatu perjanjian suci. Hasilnya tak seberapa, hanya 500 dirham saja. Inilah maharnya Fatimah. Kelak jumlahnya dijadikan oleh keturunan sucinya yang merupakan para imam yang mulia sebagai batas mahar pernikahan mereka. Tak pernah ada yang berani memberikan mahar melebihi maharnya Fatimah dan Ali. Adakah wanita yang merasa lebih mulia dan solehah dari Fatimah, segungga merasa lebih berhak menerima mahar melebihi Fatimah? Adakah lelaki yang merasa lebih sejati dengan memberi mahar melebihi pemberian Ali?

Perkawinan suci pun dilangsungkand Nabi bertindak sebagai wali pernikahan. Jamuan sederhana dibagikan, doa-doa dipanjatkan, dan wajah kegembiraan menebar di seantero alam.

Namun ketika aroma kegembiraan itu meliputi semua hati, mendadak masalah terjadi karena Fatimah menuntut mahar lebih dari apa yang diberikan Ali.  Fatimah datang menggugat Nabi, “Bukankah setiap wanita berhak menentukan maharnya? Lalu mengapa aku tak diberi kesempatan untuk meminta maharku? Aku tak ingin mahar 500 dirham itu, aku menginginkan sendiri maharku.”

Nabi tertegun memandang Fatimah seolah tak percaya. Apakah ada keputusannya yang salah? Mengapa Fatimah berubah? Tapi memang itu ajaran agama, bahwa wanita juga berhak menentukan maharnya. Nabi pun hanya bisa pasrah mempersilahkan Fatimah meminta maharnya sambil bersabda mengingatkannya, “Wahai Fatimah, ini Ali yang engkau pasti mengenal kehidupannya, lalu mahar apakah yang akan engkau minta darinya?”

Dengan sungguh-sungguh Fatimah berkata, meminta mahar yang tidak terkira, “Aku memohon kepada Allah, dihari pernikahanku, agar Allah menjadikan syafaatku sebagai mahar pernikahanku”.

Semua memandang seolah tak percaya sebab Fatimah meminta mahar termahal di dunia. Siapa yang mampu mengabulkannya kecuali Tuhan pemilik jagat raya. Nabi hanya bisa terpana menanti jawaban dari Tuhan atas mahar yang diminta Fatimah. Tak berselang lama, Tuhan pun menjawab permintaan az-Zahra. Jibril diperintahkan turun dari sisi Tuhan untuk menyampaikan salam persetujuan agar mahar syafaat menjadi syarat pernikahan. Selembar kain yang bertuliskan perjanjian Tuhan dibawa Jibril untuk Fatimah wanita penghulu alam memberi syafaat kepada manusia kelak di alam kebangkitan. “Allah telah setuju menjadikan syafaat Fatimah bagi umat ayahnya sebagai mahar nikahnya”, begitu teks perjanjiannya.

Kelak, ketika menjelang ajalnya Fatimah berwasiat kepada Ali suaminya untuk meletakkan surat perjanjian itu dalam kain kafannya, Letakkan surat ini di kain kafanku, sebab kelak dihari kiamat, dengan memegang suratku,a akan memberikan syafaatku kepada orang-orang yang berdosa dari umat ayahku.”

Hari itu, 1 Dzulhijjah 14 abad yang silam, menjadi saksi penting ikatan kasih sayang dalam perjanjian yang teguh, mitsaqan ghalizhan antara dua insan suci yang dibalut keagungan, Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra. Ikatan kasih mereka abadi hingga bertemu Ilahi Rabbi.

Ketika mengenang Fatimah, Imam Ali pernah bercerita, “Aku menikah dengan Fatimah. Kami tak memiliki alas tidur kecuali selembar kulit domba. Malam harinya kami gunakan untuk alas tidur, dan siang harinya kami jemur. Kami tak memiliki pembantu, pekerjaan rumah dikerjakan Fatimah tanpa mengeluh. Ketika kami pindah, Rasulullah membekali kami dengan sebuah selimut, bantal kulit yang diisi serabut, dua gilingan tepung, satu gelas, dan sekantong susu. Begitu seringnya Fatimah menggiling tepung, sampai berbekas kasar pada tangannya. Begitu seringnya Fatimah memanggul air, sampai berbekas hitam di punggungnya. Begitu seringnya Fatimah membersihkan rumah, sehingga pakaiannya dipenuhi debu. Dan begitu seringnya Fatimah menyalakan tungku api, sampai pakaiannya menghitam dipenuhi arang.”

Ya Fatimah, Ya Ali. Jalinan cinta kalian ternyata menjadi rahmat bagi seluruh bumi, meliputi kami yang hidup saat ini, hingga manusia nanti sampai kiamat terjadi. Ikatan kasih kalian, menebar ke seluruh alam yang terungkap dalam bantuan syafaat yang sangat kami butuhkan ketika berdiri di pengadilan Tuhan.

Ya Fatimah, kami sampaikan doa dengan wasilah, “Ya wajihatan ‘indallah, isfa’i lana ‘indallah”, “Wahai yang mulia di sisi Allah, syafaatilah kami di sisi Allah”.

Kepada semua pecinta Fatimah, kami sampaikan “Selamat Hari Mahabbah”. Semoga Allah mengekalkan cinta kita semua kepada keluarga suci Nabi, yang menebar hingga anak –cucu dan keturunan kita.” Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad! (CR14)

%d blogger menyukai ini: