Tadarus Ramadhan (9) : HAKIKAT TAWAKKAL


Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Terkadang ada yang mengira bahwa tawakal berarti meninggalkan usaha dan menyerahkan segalanya kepada yang maha kuasa. Pemahaman yang seperti ini akan melahirkan sifat malas di tengah-tengah masyarakat serta memberikan stigma negatif terhadap ajaran Islam.

Padahal kalau kita mengkaji ajaran Islam lebih seksama dan berusaha menyandingkan ajaran dan teks-teks agama satu dengan yang lainnya, maka kita akan memahaminya lebih baik.

Untuk memahami hakikat tawakal juga, diperlukan adanya komparasi antara dalil-dalil yang ada. Ayat yang mengatakan wajibnya tawakal di satu sisi dan ayat yang menganjurkan manusia untuk berusaha sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, di sisi lainnya.

Al-Quran menyatakan : “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Q.S. Al-Mulk:15)

Di ayat lainnya Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, ruku´lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Q.S.Al-Haj:77).

Kedua ayat ini menyampaikan pesan bahwa manusia harus berusaha baik untuk kehidupan dunianya; seperti yang termaktub pada ayat pertama, maupun untuk hari akhiratnya; seperti yang tertuang pada ayat ke dua. Dari sini dapat dipahami bahwa tawakal bukan berkaitan langsung dengan perbuatan manusia; sehingga mengiringnya kepada kemalasan, namun tawakal pada hakikatnya berkaitan dengan hasil dari usaha itu sendiri.
Maksudnya, ketika seorang hamba sudah melakukan sebuah usaha secara maksimal, baik yang berhubungan dengan urusan duniawi maupun ukhrawi, barulah setelah itu dia bertawakal kepada Allah SWT agar diberikan hasil yang paling baik untuknya. Jadi sekali lagi posisi tawakal berada setelah amal (hasil) bukan sebelumnya. (CR14)

%d blogger menyukai ini: