Tadarus Ramadhan (8) : HAKIKAT NASKH WAL MANSUKH DALAM ALQURAN


Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Pernahkah anda mendengar suatu hukum diberlakukan dalam waktu tertentu kemudian hukum itu tidak berlaku lagi pada masa berikutnya?

Misalnya saja, umat Islam pernah salat menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina kemudian diubah menghadap ke Ka’bah di Mekah. Ini berarti hukum salat menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina tidak berlaku lagi. Dalam Islam ini disebut naskh yaitu penghapusan atau revisi atas hukum.

Apa sebenarnya hakikat naskh ini? Bagaimana keberlakuan naskh dalam Alquran? Apakah hukumnya saja yang dihapus atau juga teksnya? Secara teologia apakah Allah lupa dan berkekurangan dalam membuat hukum?

Tidak mungkin menjawab semua pertanyaan tersebut dalan tulisan singkat ini yang hanya sekedar mengenalkan hakikat dari naskh dalam Alquran dan fungsinya.

Di awal kemunculan islam, berdasarkan berbagai maslahat yang ada, sebagian dari hukum Islam disyariatkan untuk sementara waktu. Kemudian hukum ini akan mengalami revisi (naskh) melalui ayat lainnya setelah diaplikasikan oleh ummat Islam dalam kurun waktu tertentu. Ayat yang direvisi dinamakan “mansukh” sedangkan ayat yang merevisi dinamakan “nasikh”.

Perlu disadari bahwa pada proses “naskh” bukanlah berarti Allah SWT mensyariatkan suatu hukum untuk ummat manusia kemudian setelah hukum tersebut berlaku dalam beberapa waktu, lalu Allah melihat adanya kekurangan atau kesalahan dalam hukum yang telah diberlakukan tersebut sehingga perlu diganti dengan hukum yang baru. Hal demikian ini tidak mungkin dinisbahkan kepada Allah swt. Sebab kalau itu berlaku pada wujud Tuhan, maka sama saja dengan mengatakan Tuhan itu jahil. Suatu hal yang tidak mungkin pada Zat Allah swt. Proses revisi seperti itu hanya berlaku pada hukum buatan manusia, dimana sering ditemukan dalam pembuatan aturan atau undang-undang yang diciptakan manusia sering ditemukan adanya celah dan kekurangan sehingga harus di revisi.

Sedangkan pada hukum buatan Allah swt tidaklah demikian. Dalam teori “nasikh wal mansukh”, yang sebenarnya terjadi adalah, bahwa Allah swt dari awal pensyariatan hukum tersebut sudah mengetahui bahwa hukum tersebut hanya bersifat sementara dan temporal, sesuai dengan kondisi yang di hadapi ummat Islam pada saat itu, baru setelah itu hukum akhir pun ditetapkan oleh Allah swt.

Memang pada awalnya masyarakat tidak memahami batas waktu hukum tersebut atau bahkan mereka tidak mengetahui kalau hukum tersebut memiliki batas waktu tertentu, sehingga mungkin pada awalnya dipahami bahwa hukum tadi bersifat universal dan tanpa batas waktu.

Sebagi contoh di dalam surah Mujadalah ayat 12 Allah SWT mensyariatkan sebuah hukum dimana kaum muslimin diperintahkan untuk memberikan sedekah sebelum melakukan pembicaraan empat mata dengan nabi Muhammad Saww. Allah berfirman :

” Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al-Mujadalah : 12).

Dengan turunnya ayat ini, maka saat itu kaum muslimin enggan dan merasa berat untuk melakukan pembicaraan empat mata dengan nabi Muhammad saw, kecuali Imam Ali as yang justru memanfaatkan momen ini untuk tetap melakukan pertemuan khusus dengan nabi Muhammad Saw. Sampai pada akhirnya turun lah Ayat ke 13 dari surah yang sama (Mujadalah) yang menasakh perintah untuk memberikan sedekah :

“Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadalah : 13)

Sekalipun telah dinasakh dan hukumnya sudah tidak berlaku lagi, tapi Suray Mujadalah ayat 12 tetap saja memiliki manfaat lain sehingga harus tetap ada di dalam Al-Quran dan tidak dihilangkan. Artinya nasakh hanya berlaku pada hukumnya bukan pada teks ayatnya. Teks ayatnya masih ada sampai sekarang di dalam Alquran dan kita baca, tetapi hukumnya sudah tidak berlaku lagi.

Diantara manfaat atau pesan yang bisa diambil dari keberadaan ayat tersebut adalah sisi historis pensyariatan hukum; sehingga proses atau sejarah hukum Islam dari waktu ke waktu dapat diketahui. Disamping itu dari ayat tersebut juga bisa kita pahami keutamaan Imam Ali as dan begitu juga ayat tersebut tetap memiliki I’jaz (mukjizat) dari sisi fashahat dan balaghahnya. Jadi keberadaan ayat yang sudah dimansukh dalam Alquran tidaklah menjadi sia-sia dan tanpa guna. Wallahu a’lam. (CR14)

%d blogger menyukai ini: