Tadarus Ramadhan (5) : MAKNA KEPEMILIKAN TUHAN


Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani.

Semua kita meyakini bahwa Allah swt pemiliki segala sesuatu. Allah pemilik langit dan bumi. Salah satu sifat Allah swt adalah “Maalik” (Pemilik). Tetapi manusia juga sering dikatakan sebagai pemilik sesuatu. Misalnya, kita berkata, saya pemiliki rumah ini atau saya pemilik mobil ini. Lantas apakah ada perbedaan antara kepemilikan Allah swt dengan kepemilikan manusia? Jika berbeda, apa yang dimaksud dengan kepemilikan Tuhan? Begitu pula dalam Alquran disebutkan bahwa “Allah pemilik hari kiamat atau hari pembalasan” (Q.S. Al-Fatihah : 3).

Berikut penjelasannya :

Kepemilikan ada dua jenis yaitu kepemilikan relatif (i’tibari) dan kepemilikan riil (hakiki).

Kepemilikan i’tibari atau yg bukan hakiki adalah kepemilikan yang berdasarkan pada kesepakatan bersama seperti kepemilikan rumah, mobil dan lain sebagainya.

Pada contoh ini manusia merupakan wujud yg mandiri sebagai mana halnya mobil, rumah dan lain sebagainya. Masing-masing merupakan wujud yg mandiri yakni tidak ada saling ketergantungan keberadaan antara manusia, mobil dan rumah. Akan tetapi karena adanya kesepakatan bersama antara sesama manusia, maka manusia disepakati sebagai pemiliki mobil dan rumah. Sebagai pemilik, ia mempunyai hak untuk mengelola dan mengambil manfaat dari miliknya tersebut.

Kepemilikan relatif seperti ini dapat berpindah dari satu orang ke orang lainnya. Keberpindahan kepemilikan ini dapat terjadi dengan cara menjual atau memberikannya kepada orang lain. Inilah kepemilikan relatif (i’tibari).

Sedangkan dalam kepemilikan hakiki, hanya ada satu wujud yg mandiri yang lainnya merupalan wujud yang bergantung kepada wujud yang mandiri tersebut. Oleh karena itu satu di antara dua wujud tersebut tidak akan pernah ada tanpa keberadaan yg lainnya. Misalnya, kepemilikan manusia terhadap penglihatannya, di mana keberadaannya bergantung pada keberadaan manusia. Oleh karena itu ketika manusia tidak ada maka penglihatannya pun tidak akan ada.

Allah SWT adalah pemilik segala sesuatu, dan kepemilikan-Nya adalah kepemilikan hakiki, bahkan kehakikian kepemilikan-Nya melebihi kepemilikan manusia terhadap penglihatan dan pendengarannya.

Pengertian kepemilikan Allah SWT adalah, segala sesuatu butuh kepada-Nya dan mereka tidak memiliki kemandirian dalam wujudnya sama sekali, dan wujud selain Allah SWT adalah ketergantungan dan kefakiran itu sendiri.

له ما فى السموات وما فى الأرض وما بين هما وما تحت الثرى.

Artinya : “Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah.” (Q. S. Thaha : 6)

Sekalipun Allah SWT senantiasa menjadi pemilik segalanya, namun di alam dunia ini sering sekali manusia disebabkan kelalaian dan kebodohannya mengira bahwa segala sesuatu di alam ini memiliki kemandirian. Di akhirat kelak segala bentuk kelalaian dan kejahilan ini akan sirna. Saat itu manusia dengan jelas akan melihat bahwa segala sesuatu hanya berupa ketergantungan di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu lah surah Al-Fatihah : 3 menyebutkan Allah SWT sebagai pemilik hari kiamat, “Maaliki yaum ad-diin”.

Dengan memahami kedua jenis kepemilikan di atas maka kita harus menyadari bahwa kepemilikan manusia atas segala sesuatu di bandingkan dengan Allah swt adalah kepemilikan relatif. Kepemilikan manusia atas harta bendanya, atas keluarga, istri dan anaknya, bahkan atas dirinya sendiri adalah kepemilikan yang tidak hakiki. Hanya Allah pemilik hakiki atas semua keberadaan.

Karena Allah swt pemilik hakiki diri kita dan kita hanya pemilik relatif, maka tidak layaklah kita menggunakan apa-apa yang kita miliki baik harta benda seperti uang, mobil, rumah, dan sebagainya, atau bahkan semua anggota tubuh kita seperti penglihatan, pendengaran, lidah, tangan, kaki, pendengaran, dan lainnya ke jalan yang tidak di ridhai oleh Allah swt. Menggunakan apa-apa yang kita miliki pada jalan maksiat dan kedurhakaan sama dengan mengkhianati amanat kepemilikan yang dititipkan kepada kita dari pemilik hakikinya.

Untuk itu jadikanlah momentum puasa ramadhan sebagai peningkatan kesadaran kita atas kepemilikan diri dan harta kita. Puasakanlah seluruhnya dengan mengikuti perintah si Pemilik Hakikinya. Puasakanlah penglihatan, perkataan, penciuman, pendengaran, pikiran, hati, kaki, tangan, dan seluruh tubuh kita dengan mengarahkannya pada taat dan menjauhi ma’siat. Dalam doa Imam Mahdi afs disebutkan “Ya Allah, karuniakan kepadaku untuk taat dan menjauhi maksiat”. Selamat berpuasa lahir dan batin.
🙏

Iklan
%d blogger menyukai ini: