Tadarus Ramadhan (3) : PUASA DAN “NASAB” AGAMA-AGAMA


Tadarus Ramadhan (3) :

PUASA DAN “NASAB” AGAMA-AGAMA

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (Q.S. al-Baqarah : 183)

Menurut para ahli tafsir, kalimat “orang-orang sebelum kamu” merujuk kepada umat sebelum Islam yang mencakup pengikut nabi-nabi terdahulu, terlepas dari persamaan atau perbedaan praktek, waktu, dan aturannya. Hanya saja tentu terdapat prinsip-prinsip yang sama dalam puasanya umat berbagai agama dan budaya. Dalam Alquran sendiri terdapat kisah-kisah yang mengindikasikan tentang puasa tertentu yang dilakukan oleh umat terdahulu atau pribadi-pribadi tertentu, seperti puasanya Nabi Zakariya atau Maryam ibunda Nabi Isa. Begitu pula dalam budaya bangsa pra Islam seperti di Mesir, Yunani, Roma Kuno, dan lainnya juga menunjukkan bahwa mereka memiliki tradisi puasa.

Jadi, jika kita cermati, Q.S. al-Baqarah : 183 di atas tidak hanya mengandung dimensi fikih yang menegaskan hukum wajibnya puasa kepada umat Islam dan pra-Islam. Tetapi juga, dimensi lainnya, yakni dimensi historisitas. Dimensi historisitas ini menjelaskan fakta bahwa secata sosio-antropologis puasa adalah aktivitas yang dilakukan oleh seluruh agama dan budaya yang ada dalam sejarah umat manusia. Puasa telah melekat dalam sejarah umat manusia pra-Islam.

Pentingnya dimensi ini adalah menunjukkan kesinambungan agama-agama yang ada di dunia, dan mengenalkan bahwa ajaran Islam bukanlah ajaran baru, tetapi ajaran yang telah dikenal oleh kaum-kaum sebelum Islam lahir. Dari sini kita bisa memahami bahwa agama-agama memiliki “nasab samawi” yang sama. Yaitu, dengan diperintahkannya puasa kepada umat-umat sebelum Islam, menunjukkan bahwa agama dari umat-umat itu adalah agama yang berasal dari satu Tuhan juga. Ini berarti, penganut agama pra-Islam adalah saudara “senasab” dengan Islam.

Begitu pula, budaya dan peradaban manusia diberbagai belahan dunia memiliki ragam puasa yang menunjukkan budaya bangsa itu mengandung sentuhan agama. Bahkan para manusia keramat seperti dukun, pendeta, orang suci, brahma, wali, atau apapun sebutannya yang merupakan tokoh-tokoh spiritualis dalam budaya manusia adalah orang-orang yang mendapatkan kekeramatannya dengan jalan puasa. Dengan kesadaran historis ini, puasa mengajak kita mengimplementasikan persaudaraan sejagad apapun agama dan budayanya karena nasab satunya nasab agama-agama di dunia. (CR14)

%d blogger menyukai ini: