Tadarus Ramadhan (9) : HAKIKAT TAWAKKAL

Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Terkadang ada yang mengira bahwa tawakal berarti meninggalkan usaha dan menyerahkan segalanya kepada yang maha kuasa. Pemahaman yang seperti ini akan melahirkan sifat malas di tengah-tengah masyarakat serta memberikan stigma negatif terhadap ajaran Islam.

Padahal kalau kita mengkaji ajaran Islam lebih seksama dan berusaha menyandingkan ajaran dan teks-teks agama satu dengan yang lainnya, maka kita akan memahaminya lebih baik.

Untuk memahami hakikat tawakal juga, diperlukan adanya komparasi antara dalil-dalil yang ada. Ayat yang mengatakan wajibnya tawakal di satu sisi dan ayat yang menganjurkan manusia untuk berusaha sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, di sisi lainnya.

Al-Quran menyatakan : “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (Q.S. Al-Mulk:15)

Di ayat lainnya Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, ruku´lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (Q.S.Al-Haj:77).

Kedua ayat ini menyampaikan pesan bahwa manusia harus berusaha baik untuk kehidupan dunianya; seperti yang termaktub pada ayat pertama, maupun untuk hari akhiratnya; seperti yang tertuang pada ayat ke dua. Dari sini dapat dipahami bahwa tawakal bukan berkaitan langsung dengan perbuatan manusia; sehingga mengiringnya kepada kemalasan, namun tawakal pada hakikatnya berkaitan dengan hasil dari usaha itu sendiri.
Maksudnya, ketika seorang hamba sudah melakukan sebuah usaha secara maksimal, baik yang berhubungan dengan urusan duniawi maupun ukhrawi, barulah setelah itu dia bertawakal kepada Allah SWT agar diberikan hasil yang paling baik untuknya. Jadi sekali lagi posisi tawakal berada setelah amal (hasil) bukan sebelumnya. (CR14)

Iklan

Tadarus Ramadhan (8) : HAKIKAT NASKH WAL MANSUKH DALAM ALQURAN

Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Pernahkah anda mendengar suatu hukum diberlakukan dalam waktu tertentu kemudian hukum itu tidak berlaku lagi pada masa berikutnya?

Misalnya saja, umat Islam pernah salat menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina kemudian diubah menghadap ke Ka’bah di Mekah. Ini berarti hukum salat menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina tidak berlaku lagi. Dalam Islam ini disebut naskh yaitu penghapusan atau revisi atas hukum.

Apa sebenarnya hakikat naskh ini? Bagaimana keberlakuan naskh dalam Alquran? Apakah hukumnya saja yang dihapus atau juga teksnya? Secara teologia apakah Allah lupa dan berkekurangan dalam membuat hukum?

Tidak mungkin menjawab semua pertanyaan tersebut dalan tulisan singkat ini yang hanya sekedar mengenalkan hakikat dari naskh dalam Alquran dan fungsinya.

Di awal kemunculan islam, berdasarkan berbagai maslahat yang ada, sebagian dari hukum Islam disyariatkan untuk sementara waktu. Kemudian hukum ini akan mengalami revisi (naskh) melalui ayat lainnya setelah diaplikasikan oleh ummat Islam dalam kurun waktu tertentu. Ayat yang direvisi dinamakan “mansukh” sedangkan ayat yang merevisi dinamakan “nasikh”.

Perlu disadari bahwa pada proses “naskh” bukanlah berarti Allah SWT mensyariatkan suatu hukum untuk ummat manusia kemudian setelah hukum tersebut berlaku dalam beberapa waktu, lalu Allah melihat adanya kekurangan atau kesalahan dalam hukum yang telah diberlakukan tersebut sehingga perlu diganti dengan hukum yang baru. Hal demikian ini tidak mungkin dinisbahkan kepada Allah swt. Sebab kalau itu berlaku pada wujud Tuhan, maka sama saja dengan mengatakan Tuhan itu jahil. Suatu hal yang tidak mungkin pada Zat Allah swt. Proses revisi seperti itu hanya berlaku pada hukum buatan manusia, dimana sering ditemukan dalam pembuatan aturan atau undang-undang yang diciptakan manusia sering ditemukan adanya celah dan kekurangan sehingga harus di revisi.

Sedangkan pada hukum buatan Allah swt tidaklah demikian. Dalam teori “nasikh wal mansukh”, yang sebenarnya terjadi adalah, bahwa Allah swt dari awal pensyariatan hukum tersebut sudah mengetahui bahwa hukum tersebut hanya bersifat sementara dan temporal, sesuai dengan kondisi yang di hadapi ummat Islam pada saat itu, baru setelah itu hukum akhir pun ditetapkan oleh Allah swt.

Memang pada awalnya masyarakat tidak memahami batas waktu hukum tersebut atau bahkan mereka tidak mengetahui kalau hukum tersebut memiliki batas waktu tertentu, sehingga mungkin pada awalnya dipahami bahwa hukum tadi bersifat universal dan tanpa batas waktu.

Sebagi contoh di dalam surah Mujadalah ayat 12 Allah SWT mensyariatkan sebuah hukum dimana kaum muslimin diperintahkan untuk memberikan sedekah sebelum melakukan pembicaraan empat mata dengan nabi Muhammad Saww. Allah berfirman :

” Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al-Mujadalah : 12).

Dengan turunnya ayat ini, maka saat itu kaum muslimin enggan dan merasa berat untuk melakukan pembicaraan empat mata dengan nabi Muhammad saw, kecuali Imam Ali as yang justru memanfaatkan momen ini untuk tetap melakukan pertemuan khusus dengan nabi Muhammad Saw. Sampai pada akhirnya turun lah Ayat ke 13 dari surah yang sama (Mujadalah) yang menasakh perintah untuk memberikan sedekah :

“Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadalah : 13)

Sekalipun telah dinasakh dan hukumnya sudah tidak berlaku lagi, tapi Suray Mujadalah ayat 12 tetap saja memiliki manfaat lain sehingga harus tetap ada di dalam Al-Quran dan tidak dihilangkan. Artinya nasakh hanya berlaku pada hukumnya bukan pada teks ayatnya. Teks ayatnya masih ada sampai sekarang di dalam Alquran dan kita baca, tetapi hukumnya sudah tidak berlaku lagi.

Diantara manfaat atau pesan yang bisa diambil dari keberadaan ayat tersebut adalah sisi historis pensyariatan hukum; sehingga proses atau sejarah hukum Islam dari waktu ke waktu dapat diketahui. Disamping itu dari ayat tersebut juga bisa kita pahami keutamaan Imam Ali as dan begitu juga ayat tersebut tetap memiliki I’jaz (mukjizat) dari sisi fashahat dan balaghahnya. Jadi keberadaan ayat yang sudah dimansukh dalam Alquran tidaklah menjadi sia-sia dan tanpa guna. Wallahu a’lam. (CR14)

Tadarus Ramadhan (7) : PERTANYAAN DI AKHIRAT

Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Pada ayat 39 surah Al-rahman disebutkan bahwa tidak seorangpun baik dari kalangan jin maupun manusia akan ditanya pada hari kiamat, namun ayat ayat yg lain seperti ayat 24 surah Al-shaffat menyatakan bahwa orang orang yg berbuat zalim akan ditanya pada hari kiamat.

Sepintas kita melihat ada pertentangan pada ayat ini. Padahal kita mengetahui bersama bahwa tidak ada pertentangan antara ayat Al-quran.

Penjelasan :

Perlu dipahami bahwa ada dua bentuk pertanyaan. Pertama, pertanyaan yg tujuannya untuk mencari informasi. Kedua, pertanyaan untuk mengintrogasi.

Pertanyaan pertama ditujukan untuk memperjelas permasalahan yg belum diketahui, sehingga menjadi jelas dan nyata bagi si penanya. Pertanyaan seperti ini tidak akan ditemui pada hari kiamat. Dalam Alquran Allah berfirman :
فيومئذ لا يسئل عن ذنبه انس ولا جان

Artinya : “Maka pada hari itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya”. (Q.S.Al-Rahman : 39)

Hal ini mengingat bahwa pada hari kiamat segala sesuatu termasuk batin manusia menjadi nyata dan tidak ada yg tersembunyi, sehingga masih perlu untuk diminta penjelasan. Atas dasar inilah pada ayat 41 surah Al-rahman kembali dijelaskan alasan tidak adanya pertanyaan model pertama pada hari kiamat, sebab pada hari itu semuanya dapat diketahui melalui wajah wajah para pendosa. Allh berfirman :

يعرف المجرمون بسيماهم

Artinya : “Orang-orang yang berdosa itu diketahui dengan tanda-tanda mereka”. (Q. S. Al-Rahman : 41).

Adapun pertanyaan bentuk ke dua bukan dalam rangka mengetahui sesuatu yg tidak jelas tapi, justru satu bentuk penolakan Allah SWT terhadap perbuatan para pendosa. Hal ini juga masuk dalam kategori azab hari kiamat.

و قفوهم انهم مسؤولون

Artinya : “Hentikan mereka, karena mereka akan ditanya”. (Q.S. Asshaffat: 24)

Tadarus Ramadhan (6) : MUKJIZAT ALQURAN

Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani

Mukjizat adalah milik khas para Nabi yang dianugerahkan Tuhan sebagai bukti kenabian dan untuk melemahkan musuh-musuh mereka. Karena itu mukjizat tidak dapat tertandingi. Umumnya kita mengenal mukjizat sebagai kekuatan yang luar biasa seperti mengubah tongkat menjadi ular, membelah lautan, tidak terbakar api, dan lainnya.

Semua mukjizat para Nabi bersifat sementara yaitu hanya berlaku dan bisa disaksikan pada masa hidup para Nabi itu saja. Satu-satunya mukjizat yang abadi sepanjang zaman yang tidak lekang dengan masa adalah Alquran. Itulah kenapa Alquran disebut mukjizat terbesar Nabi Muhammad saw. Lantas apa yang dimaksud dengan mukjizat Alquran?

Para ilmuan dan mufassirin meyakini bahwa Al-Quran memiliki mu’jizat dari sudut pandang bahasa dan kandungannya, dari sisi fashahat dan balaghah, yang menyebabkan tidak satu manusiapun yang sanggup menciptakan perkataan yang sama atau yang dapat menandingi Alquran, sejak kemunculannya sampai hari ini.

Hanya saja, tentu menjadi sebuah persoalan meninjau mukjizat Alquran dari sisi fashahat dan balaghah ini. Sebab, pada dasarnya fungsi mukjizat itu untuk dibuktikan bagi semua manusia, bukan hanya segelintir orang saja. Sedangkan kemukjizatan Alquran dari sudut pandang fashahah dan balaghah ini hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang mengerti bahasa Arab.

Karena itu, jika untuk mengungkap kemukjizatan Alquran dari sisi fashahah dan balaghah dibutuhkan keahlian di bidang adabiat/bahasa Arab, lalu apa maknanya mukjizat ini bagi mereka yang tidak memahami bahasa Arab secara mendalam? Bagaimana orang-orang yang tidak mendalami bahasa Arab membuktikan bahwa Alquran memang memiliki fashahah dan balaghah yang tak tertandingj?

Pada dasarnya, untuk membuktikan kemukjizatan Alquran yang memiliki kandungan fashahah dan balaghah yang tinggi tak tertandingi tidaklah mesti dengan mendalami bahasa Arab. Artinya masih ada cara lain untuk membuktikannya yang tidak melalui kajian ke tatabahasaan. Misalnya dengan melakukan analisa historis dan sosiologis.

Berikut ini, dengan memperhatikan analisa historis dan sosiologis kita dapat membuktikan bahwa Alquran memang memiliki fashahah dan balaghah.

1). Disaat Nabi Muhammad saw diangkat menjadi nabi dan rasul, jazirah Arab saat ini dikenal dengan kemajuan adabiat atau bahasa Arabnya.

2). Ketika Nabi Muhammad saw mendapat kitab Alquran dari Allah SWT, semua orang Arab mengetahui bahwa Nabi Muhammad saww tidak pernah belajar tulis-baca (ummi).

3). Nabi Muhammad Saw sejak awal dakwahnya memiliki musuh yang selalu berusaha merongrong dakwah beliau.

4). Alquran juga sejak awal turunnya selalu menantang musuh-musuhnya untuk mendatangkan kitab yang sama dengan Alquran dengan tujuan membuktikan kemukjizatannya. Sebagi contoh Alquran mengatakan :

“Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Alquran itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.(Q.S. Hud : 13)

Dalam ayat lainnya Allah berfirman :

“Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya”. Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar”.(Q.S. Yunus :38)

5). Di masa hidup nabi tidak ada satu orang pun yang sanggup menjawab tantangan tersebut. Mengingat banyaknya musuh Nabi Muhammad Saw dan banyaknya literatur sejarah yang memuat sejarah hidup beliau, maka dapat dipastikan jika ada orang yang sanggup menjawab tantangan ini sudah barang tentu musuh-musuh Islam mengekspos hal tersebut. Dan pada akhirnya sejarah tersebut akan sampai ke tangan kita.

Lima poin di atas merupakan proposisi-proposisi yang yg dapat mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa Alquran memiliki kandungan mukjizat dari sisi fashahat dan balaghah tanpa harus melakukan kajian tata bahasa yang rumit dan memakan waktu yang cukup lama. Wallahu al’lam. (CR14)

Tadarus Ramadhan (5) : MAKNA KEPEMILIKAN TUHAN

Oleh : Ust. M. Iqbal Al-Fadani.

Semua kita meyakini bahwa Allah swt pemiliki segala sesuatu. Allah pemilik langit dan bumi. Salah satu sifat Allah swt adalah “Maalik” (Pemilik). Tetapi manusia juga sering dikatakan sebagai pemilik sesuatu. Misalnya, kita berkata, saya pemiliki rumah ini atau saya pemilik mobil ini. Lantas apakah ada perbedaan antara kepemilikan Allah swt dengan kepemilikan manusia? Jika berbeda, apa yang dimaksud dengan kepemilikan Tuhan? Begitu pula dalam Alquran disebutkan bahwa “Allah pemilik hari kiamat atau hari pembalasan” (Q.S. Al-Fatihah : 3).

Berikut penjelasannya :

Kepemilikan ada dua jenis yaitu kepemilikan relatif (i’tibari) dan kepemilikan riil (hakiki).

Kepemilikan i’tibari atau yg bukan hakiki adalah kepemilikan yang berdasarkan pada kesepakatan bersama seperti kepemilikan rumah, mobil dan lain sebagainya.

Pada contoh ini manusia merupakan wujud yg mandiri sebagai mana halnya mobil, rumah dan lain sebagainya. Masing-masing merupakan wujud yg mandiri yakni tidak ada saling ketergantungan keberadaan antara manusia, mobil dan rumah. Akan tetapi karena adanya kesepakatan bersama antara sesama manusia, maka manusia disepakati sebagai pemiliki mobil dan rumah. Sebagai pemilik, ia mempunyai hak untuk mengelola dan mengambil manfaat dari miliknya tersebut.

Kepemilikan relatif seperti ini dapat berpindah dari satu orang ke orang lainnya. Keberpindahan kepemilikan ini dapat terjadi dengan cara menjual atau memberikannya kepada orang lain. Inilah kepemilikan relatif (i’tibari).

Sedangkan dalam kepemilikan hakiki, hanya ada satu wujud yg mandiri yang lainnya merupalan wujud yang bergantung kepada wujud yang mandiri tersebut. Oleh karena itu satu di antara dua wujud tersebut tidak akan pernah ada tanpa keberadaan yg lainnya. Misalnya, kepemilikan manusia terhadap penglihatannya, di mana keberadaannya bergantung pada keberadaan manusia. Oleh karena itu ketika manusia tidak ada maka penglihatannya pun tidak akan ada.

Allah SWT adalah pemilik segala sesuatu, dan kepemilikan-Nya adalah kepemilikan hakiki, bahkan kehakikian kepemilikan-Nya melebihi kepemilikan manusia terhadap penglihatan dan pendengarannya.

Pengertian kepemilikan Allah SWT adalah, segala sesuatu butuh kepada-Nya dan mereka tidak memiliki kemandirian dalam wujudnya sama sekali, dan wujud selain Allah SWT adalah ketergantungan dan kefakiran itu sendiri.

له ما فى السموات وما فى الأرض وما بين هما وما تحت الثرى.

Artinya : “Milik-Nyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah.” (Q. S. Thaha : 6)

Sekalipun Allah SWT senantiasa menjadi pemilik segalanya, namun di alam dunia ini sering sekali manusia disebabkan kelalaian dan kebodohannya mengira bahwa segala sesuatu di alam ini memiliki kemandirian. Di akhirat kelak segala bentuk kelalaian dan kejahilan ini akan sirna. Saat itu manusia dengan jelas akan melihat bahwa segala sesuatu hanya berupa ketergantungan di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu lah surah Al-Fatihah : 3 menyebutkan Allah SWT sebagai pemilik hari kiamat, “Maaliki yaum ad-diin”.

Dengan memahami kedua jenis kepemilikan di atas maka kita harus menyadari bahwa kepemilikan manusia atas segala sesuatu di bandingkan dengan Allah swt adalah kepemilikan relatif. Kepemilikan manusia atas harta bendanya, atas keluarga, istri dan anaknya, bahkan atas dirinya sendiri adalah kepemilikan yang tidak hakiki. Hanya Allah pemilik hakiki atas semua keberadaan.

Karena Allah swt pemilik hakiki diri kita dan kita hanya pemilik relatif, maka tidak layaklah kita menggunakan apa-apa yang kita miliki baik harta benda seperti uang, mobil, rumah, dan sebagainya, atau bahkan semua anggota tubuh kita seperti penglihatan, pendengaran, lidah, tangan, kaki, pendengaran, dan lainnya ke jalan yang tidak di ridhai oleh Allah swt. Menggunakan apa-apa yang kita miliki pada jalan maksiat dan kedurhakaan sama dengan mengkhianati amanat kepemilikan yang dititipkan kepada kita dari pemilik hakikinya.

Untuk itu jadikanlah momentum puasa ramadhan sebagai peningkatan kesadaran kita atas kepemilikan diri dan harta kita. Puasakanlah seluruhnya dengan mengikuti perintah si Pemilik Hakikinya. Puasakanlah penglihatan, perkataan, penciuman, pendengaran, pikiran, hati, kaki, tangan, dan seluruh tubuh kita dengan mengarahkannya pada taat dan menjauhi ma’siat. Dalam doa Imam Mahdi afs disebutkan “Ya Allah, karuniakan kepadaku untuk taat dan menjauhi maksiat”. Selamat berpuasa lahir dan batin.
🙏

Tadarus Ramadhan (4) : ZAKAT BADAN

Rasulullah saw bersabda, “Likulli syai’in zakatun wa zakat al-abdan as-shiyam”, Segala sesuatu ada zakatnya, dan zakat badan adalah puasa”. (Muntakhab Mizan al-Hikmah, no. 3716)

Setelah setahun badan kita menikmati berbagai makanan, minuman, dan bersenang-senang, maka kini gilirannya untuk disucikan dengan menyisihkan satu bulan untuk menghentikan aktivitas kesenangan badaniah melalui puasa. Inilah zakat badan. Pengekangan kesenangan-kesenangan badaniyah ini dalam tradisi tasawuf disebut dengan tazkiyah an-nafs, penyucian diri.

Tazkiyah an-nafs dilakukan bagi orang yang ingin mencapai kesempurnaan spiritual dan kedekatan kepada Tuhan. Tazkiyah dilakukan secara lahir dan batin. Secara lahir, dilakukan dengan meninggalkan perbuatan yang diharamkan Tuhan, seperti zina, minuman keras, dan makanan haram. Sedangkan secara batin dilakukan dengan menjauhi dosa-dosa batin yang bersifat akhlaki, seperti iri, dengki, riya, dan mencintai hal-hal duniawi. Puasa yang bertujuan untuk menggapai ketakwaan, tentu sangat penting memperhatikan kedua bentuk tazkiyah tersebut. Sebab takwa adalah pemeliharaan diri dari dosa yang umumnya berasal dari nafsu-syahwat.

Puasa akan mengendalikan nafsu-syahwat sehingga mampu mengekang kesenangan terhadap duniawi dan bersabar dalam penderitaan serta ketaatan pada perintah Allah swt. Karenanya kalimat “Wahai orang-orang yang beriman” yang ada pada ayat puasa, merupakan kalimat sapaan yang mengarahkan dan mendorong kesiapan kita untuk menerima perintah yang akan dibebankan Allah, sekalipun perintah itu bertentangan dengan keinginan dan kebiasaan kita. Saat menafsirkan ayat, “Sesungguhnya Kami akan mengujimu dengan suatu cobaan, yaitu ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (Q.S. al-Baqarah : 155), Al-Qusyairi dalam Risalah-nya berkata bahwa yang dimaksud adalah berilah kabar gembira dengan pahala yang besar karena mereka bersabar menahan sakitnya lapar. Karena itu melaparkan diri, salah satu cara menarik limpahan rahmat dan jalan menuju kedekatan pada ilahi.

Jadi, setiap  orang yang ingin menuju kesempurnaan dan kedekatan dengan Tuhan, yang petama sekali harus dilakukannya adalah  mengekang diri dari memuaskan keinginan-keinginan syahwat dan nafsu badaniahnya, meskipun hal itu keinginan terhadap hal-hal yang dihalalkan. Selain itu, hatinya juga disucikan dari kecintaan terhadap duniawi. Jika kita  mampu menjaga diri dari kesenangan kepada yang halal, maka tentu kita akan lebih mampu memelihara diri dari segala yang diharamkan. Melaparkan diri dan mengendalikan keinginan, akan memancarkan kebijaksanaan, keyakinan, serta ma’rifah dan ketakwaan. Sahal bin Abdullah berkata, “Ketika Allah menciptakan dunia, Dia menjadikan kenyang untuk kemaksiatan dan kebodohan, dan menjadikan lapar untuk ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Oleh karena itu, Yahya bin Muadz berpendapat, lapar bagi orang yang hendak menuju Allah adalah latihan, bagi orang yang tobat adalah ujian, bagi orang yang zuhud  adalah pengaturan, dan bagi orang yang ma’rifat adalah kemuliaan.”

Karena itu, perhatikanlah makanan dan keinginan-keinginan kita. Jadikan puasa sebagai sarana untuk mengendalikan keinginan-keinginan tersebut. Tentu saja, pengendalian itu bukan hanya saat berpuasa, tetapi yang terpenting juga ketika berbuka puasa. Kita sudah berusaha mengendalikan nafsu selama hari siang, jangan biarkan ia lepas  kendali ketika malam menjelang. Abu Ahmad ash-Shaghir berkata, “Aku diperintah oleh Abdullah bin Kaff agar menghidangkan sepuluh biji anggur untuk buka puasanya setiap malam. Di suatu malam aku merasa khawatir, maka aku menambahkan untuknya lima biji. Abdullah bin Kaff pun menegurku, ‘siapa yang memerintahkanmu berbuat seperti ini?’ dan dia tetap hanya makan sepuluh biji dan meninggalkan sisanya.” Beginilah semestinya kita mengendalikan diri ketika berbuka, berbukalah dengan sewajarnya, jauh dari kesan berlebihan.

Begitu pula, ketika Sahal bin Abdullah ditanya tentang penilaiannya terhadap berapa kali seseorang makan dalam satu hari. Sahal menjawab, “Jika makan satu kali sehari, maka itu cara makannya orang-orang baik (abrar). Jika makannya dua kali sehari, maka itu makannya orang-orang mukmin. Dan jika makannya tiga kali sehari, maka itu orang yang menjadi kandang binatang.” Sekarang jawablah masing-masing, berapa kali kita makan dalam sehari? 🤔(CR14)

Tadarus Ramadhan (3) : PUASA DAN “NASAB” AGAMA-AGAMA

Tadarus Ramadhan (3) :

PUASA DAN “NASAB” AGAMA-AGAMA

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (Q.S. al-Baqarah : 183)

Menurut para ahli tafsir, kalimat “orang-orang sebelum kamu” merujuk kepada umat sebelum Islam yang mencakup pengikut nabi-nabi terdahulu, terlepas dari persamaan atau perbedaan praktek, waktu, dan aturannya. Hanya saja tentu terdapat prinsip-prinsip yang sama dalam puasanya umat berbagai agama dan budaya. Dalam Alquran sendiri terdapat kisah-kisah yang mengindikasikan tentang puasa tertentu yang dilakukan oleh umat terdahulu atau pribadi-pribadi tertentu, seperti puasanya Nabi Zakariya atau Maryam ibunda Nabi Isa. Begitu pula dalam budaya bangsa pra Islam seperti di Mesir, Yunani, Roma Kuno, dan lainnya juga menunjukkan bahwa mereka memiliki tradisi puasa.

Jadi, jika kita cermati, Q.S. al-Baqarah : 183 di atas tidak hanya mengandung dimensi fikih yang menegaskan hukum wajibnya puasa kepada umat Islam dan pra-Islam. Tetapi juga, dimensi lainnya, yakni dimensi historisitas. Dimensi historisitas ini menjelaskan fakta bahwa secata sosio-antropologis puasa adalah aktivitas yang dilakukan oleh seluruh agama dan budaya yang ada dalam sejarah umat manusia. Puasa telah melekat dalam sejarah umat manusia pra-Islam.

Pentingnya dimensi ini adalah menunjukkan kesinambungan agama-agama yang ada di dunia, dan mengenalkan bahwa ajaran Islam bukanlah ajaran baru, tetapi ajaran yang telah dikenal oleh kaum-kaum sebelum Islam lahir. Dari sini kita bisa memahami bahwa agama-agama memiliki “nasab samawi” yang sama. Yaitu, dengan diperintahkannya puasa kepada umat-umat sebelum Islam, menunjukkan bahwa agama dari umat-umat itu adalah agama yang berasal dari satu Tuhan juga. Ini berarti, penganut agama pra-Islam adalah saudara “senasab” dengan Islam.

Begitu pula, budaya dan peradaban manusia diberbagai belahan dunia memiliki ragam puasa yang menunjukkan budaya bangsa itu mengandung sentuhan agama. Bahkan para manusia keramat seperti dukun, pendeta, orang suci, brahma, wali, atau apapun sebutannya yang merupakan tokoh-tokoh spiritualis dalam budaya manusia adalah orang-orang yang mendapatkan kekeramatannya dengan jalan puasa. Dengan kesadaran historis ini, puasa mengajak kita mengimplementasikan persaudaraan sejagad apapun agama dan budayanya karena nasab satunya nasab agama-agama di dunia. (CR14)