TADARUS RAMADHAN (2) : KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

TADARUS RAMADHAN (2) : KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN

“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepada kalian bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu bulan ramadhan. Allah telah mewajibkan kamu berpuasa pada siang harinya dan menetapkan pahala mengerjakan salat sunnah pada malam harinya sama seperti mengerjakan tujuh puluh salat sunnah pada bulan lainnya…Orang yang mengerjakan salat wajib, seperti mengerjakan tujuh puluh salat wajib pada bulan lainnya.

“Dia adalah bulan kesabaran, dan balasannya adalah surga. Dia adalah bulan pertolongan. Bulan di mana Allah menambah rezeki bagi orang mukmin. Siapa yang memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka dia memperoleh pahala memerdekakan budak dan diampuni Allah dosanya. Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah! Tidak semua kami memiliki kemampuan untuk memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa.” Rasulullah saw menjawab, “Sesungguhnya Allah Maha Dermawan, Dia tetap memberi pahala ini kepada orang yang tidak mampu, kecuali dengan memberi seteguk susu, seteguk air atau sepotong kecil kurma. Siapa yang meringankan beban budaknya di bulan ini niscaya Allah swt akan meringankan beban hisabnya…”

Demikanlah sepotong khutbah Rasulullah saw ketika menyambut bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya terdapat lailatul qadar, malam kemuliaan, yang nilai satu malamnya sama dengan nilai seribu bulan. Keutamaan  dan keistimewaan itu disebabkan turunnya Alquran pada malam tersebut. Dan sebagai ekspresi kesyukuran atas turunnya Alquran, kita pun melaksanakan puasa.  Jadi, Allah menurunkan Alquran untuk kita, maka kita pun berpuasa untuk Allah, seperti disebutkan hadis qudsi, “Puasa itu untuk-Ku, maka Aku yang akan membalasnya”.

Namun, bulan ramadhan bukan saja berisi hubungan Tuhan dan hamba melalui puasa, tetapi yang penting pula, membangun hubungan sesama manusia. Hal ini dilukiskan Rasulullah dengan menyebut bulan ramadhan sebagai bulan kesabaran, pertolongan, kemudahan rezeki, anjuran bersedekah dan meringankan beban pekerja.

Sebagai bulan kesabaran, kita dituntut bersabar dari makan dan minum sampai waktu tertentu. Karena ketaatan, kita bersabar dari yang dihalalkan Allah, maka sewajarnya pula kita bersabar dari yang diharamkan-Nya. Imam Ali mengingatkan, “Sabar itu ada tiga: sabar dalam musibah, sabar dalam melaksanakan ketaatan, dan sabar  dalam menahan diri dari kemaksiatan.” (Muntakhab Mizan Al-Hikmah, no. 3457).

Dalam salah satu hikmahnya di Nahjul Balaghah, Imam Ali as berkata, “Sabar itu ada dua jenis: sabar dari yang tidak engkau sukai, dan sabar dari yang engkau sukai.” Kita menyukai makanan dan minuman, maka bersabarlah ketika puasa. Kita tidak menyukai hinaan, ejekan, karenanya bersabarlah juga. Jadi, kita bersabar dari kesenangan biologis dan bersabar dari kondisi psikologis. Karena itu jika kita dipancing untuk marah, dihina atau bahkan ditantang berdebat, katakanlah, “Ana shaim”, aku sedang berpuasa.

Begitu pula, di bulan puasa ini kita semua, baik kaya atau papa, dituntut untuk bersedekah dengan makanan dan minuman berbuka puasa. Rasul memerintahkan bersedekah meskipun dengan seteguk air atau secuil makanan. Sebab, bagi orang yang haus dan lapar, seteguk air dan secuil makanan sangatlah berharga. Seperti berharganya uang recehan yang kita lontarkan untuk pengemis jalanan.

Sedekah adalah saling tolong dan menambah rezeki. Terlebih di bulan ramadhan, biasanya aktivitas perekonomian bergerak seiring pesatnya konsumsi masyarakat. Pusat-pusat perbelanjaan ramai bahkan banyak para pedagang musiman, mengais rezeki ketika ramadhan. Di sini kita diajarkan untuk saling berbagi tanpa memperhatikan pendapatan. Nilai bersedekah di bulan ini sama dengan pahala puasa itu sendiri, membebaskan budak, dan diampuni dosa-dosanya. Nilai seteguk air sebanding samudera luas yang tak bertepi.

Selain itu, di bulan ini, ringankanlah beban para pekerja, agar Allah meringankan hisab kita di yaumil qiyamah. Rasulullah bersabda, “Siapa yang memperbaiki akhlaknya di bulan ini, maka ia akan melewati titian shirat pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan para pembantunya di bulan ini, maka Allah akan ringankan pemeriksaan-Nya pada hari kiamat.” Karenanya bagi para pemilik perusahaan, para majikan, dan pemangku jabatan, ringankan beban para pekerja dan bawahan anda yang sedang berpuasa. Mereka telah berkerja berat sebelas bulan, maka beri satu bulan kelonggaran. Dengan meringankan beban pekerja di dunia, Allah meringankan beban anda di akhirat. Tapi ingat, kurangi kerjanya, jangan lupa tambah bonusnya. (CR14)

(disadur dari http://www.liputanislam.com)

Iklan

TADARUS RAMADHAN (1) : ADAB TERHADAP ALQURAN

TADARUS RAMADHAN (1) : ADAB TERHADAP ALQURAN

IMG-20170112-WA0005

Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah kamu mempelajari Alquran dan memperbanyak membacanya” (Kanz al-Ummal, no. 2368). Karena itu Nabi, keluarga dan sahabatnya selalu menganjurkan membaca, menghapal, belajar dan mengajarkan Alquran.

Memang, salah satu fenomena menarik yang nyata terjadi pada bulan ramadhan adalah semaraknya di masjid-masjid orang-orang berkumpul saling membaca dan menyimak Alquran (tadarus). Suara mikropon mesjid menggema ke sekitar lingkungannya hingga tengah malam dengan lantunan firman-firman Tuhan. Beragam suara dan model bacaan terdengar. Ada yang dengan suara merdu, dan ada yang sendu, ada yang nyaring dan ada yang kering, ada yang lancar bacaannya, dan ada yang terbata-bata. Semua bergabung dalam harmoni cinta terhadap Alquran yang mulia.

Bukan hanya di mesjid, di rumah-rumah kaum muslimin juga muncul kegairahan para keluarga beriman untuk membaca Alquran. Kitab suci yang mungkin selama ini tersusun rapi atau tersuruk sepi di sudut-sudut lemari, nyaris tak tersentuh jemari, kini digenggam oleh tangan, dicium, dan dijunjung tinggi. Maka wajarlah kalau dikatakan bulan ramadahan adalah musim seminya Alquran.

Tentu saja hal ini menggembirakan kita, sebab ternyata umat masih punya perhatian besar terhadap Alquran. Namun, tentu saja tadarus Alquran tidak sekedar membacanya, tetapi juga mempelajari maknanya, merenungkan maksudnya, mengamalkan perintahnya, dan menjauhi larangannya.

Karena itu, sebaiknya sebelum membacanya kita mempersiapkan diri secara jasmani dan ruhani untuk menangkap pesan-pesan Alquran, sehingga setiap ungkapannya akan meresap pada jiwa. Untuk itu bagi yang tadarus Alquranperlu memperhatikan beberapa adab penting sebagai berikut :

1). Bersuci dari hadas dan najis. Allah berfirman “Tidak ada yang menyentuhnya (Alquran) kecuali orang-orang yang suci” (Q.S. al-Waqiah : 79)

2). Membersihkan mulut dengan menggosok gigi, sebagaimana disabdakan Rasulullah saw, “Besihkanlah jalan Alquran. Ditanyakan, ‘Apa jalan Alquran itu, wahai Rasulullah?’ Beliau Menjawab, ‘Mulut-mulut kalian’. Mereka bertanya lagi, ‘Dengan apa?’ Beliau menjawab, ‘Dengan menggosok gigimu”.

3). Membaca ta’awwudz, sebagaimana difirmankan Allah, “Apabila engkau membaca Alquran, maka berlindunglah kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk” (Q.S. an-Nahl : 98)

4). Membaca dengan tartil, sebagaimana firman Allah, “..dan bacalah Alquran dengan tartil” (Q.S. al-Muzammil: 4). Tartil adalah membaca Alquran dengan perlahan-lahan, jelas, dan tidak memotong-motongnya ayat secara sembarangan.

5). Membaca dengan suara indah. Nabi saw bersabda, “Setiapsesuatu ada hiasannya, dan hiasan Alquran adalah suara yang indah” (Kanz al-Ummal, no. 2768)

6). Tadabbur, yaitu merenungi makna-makna ayatnya dan mengambil pelajaran darinya. Allah berfirman, “Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah, agar mereka mentadabburi (merenungi) ayat-ayatnya dan agar ulul albab mengambil pelajaran darinya” (Q.S. Shad: 29). “Apakah mereka tidak memikirkan Alquran itu, atau hati mereka tertutup” (Q.S. Muhammad: 24). Imam Ali ra berkata, “Bukanlah kebaikan membaca Alquran tanpa perenungan…” (Bihar al-Anwar juz 92, hal. 211, no. 4)

7). Mengimani seluruh isinya. Allah berfirman, “Ali lam mim, inilah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa” (Q.S. al-Baqarah : 1-2). “Apakah kamu percaya dengan sebagian al-Kitab (Alquran) dan ingkar dengan sebagian yang lain? Maka tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian, kecuali kehinaan pada kehidupan dunia dan pada hari kiamat, mereka akan dilemparkan ke dalam azab yang pedih. Dan Allah tidak pernah lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. al-Baqarah : 85)

8). Khusyuk. Rasulullah saw ditanya tentang orang yang paling indah membaca Alquran, maka beliau menjawab, “Orang yang jika engkau dengar suaranya, engkau akan melihatnya sebagai orang yang takut kepada Allah” (Kanz al-Ummal, no. 4143)

Dengan adab-adab di atas, insya Allah setiap kita ber-tadarus Alquran maka akan menghasilkan energi dan semangat baru serta jiwa yang kokoh. Karena kita bukan hanya sekedar membacanya, tetapi juga menyelami kandungan maknanya, sehingga membuat kita mejadi takut saat membaca ayat siksa dan dipenuhi harapan saat menemukan ayat-ayat rahmat. selamat menikmati musim semi Alquran. (CR14)

Disadur dari http://www.liputanislam.com