PERSEMBAHAN UNTUK JASAD TANPA KEPALA


PERSEMBAHAN UNTUK JASAD TANPA KEPALA
Oleh : Candiki Repantu

Konrad Theodor Preusz berpendapat bahwa pusat dari sistem religi adalah ritus (ritual), dan ritus terpenting adalah ritus kematian. Kemudian, ritus kematian tidak hanya terbatas sampai penguburannya saja, tetapi juga pasca penguburannya, yang mana orang orang yang masih hidup senantiasa menyambungkan diri mereka dengan orang yang sudah meninggal melalui tradisi berkunjung secara periodik ke kuburannya. Inilah yang disebut ziarah kubur.

Berziarah dalam hal ini berarti menyucikan diri melalui hubungan baik dengan dunia gaib. Karena itu, ziarah ke makam suci haruslah dilakukan dalam rentang waktu tertentu (hari-hari suci tertentu). Ziarah menjadi ritual keagamaan (ritus), menjadi sesuatu yang suci/sakral (kudus), dan menampilkan komunitas pemujaan (kultus). Yang mana, kepercayaan pada yang kudus menuntutnya untuk diperlakukan secara khusus, baik tempat maupun waktunya.

Pada tempat dan waktu tertentu itulah, dilakukanlah aneka ritual untuk membangun hubungan antara alam dunia dengan alam gaib, antara yang profan dengan yang sakral. Sehingga ziarah kubur menjadi ritual yang diorganisir dalam waktu dan tempat khusus melalui sistem kepercayaan masyarakat. Pada kondisi ini, ziarah menemukan momentum pentingnya sebagai ritus suci dan kuburan menjadi tempat suci karena dihuni oleh manusia suci.

Henri Chambert Loir menghubungkan antara kultus orang suci dengan makam dan ritualnya. Menurutnya, kultus orang suci bagi kaum Muslimin merupakan kultus pada kuburan suci. Orang suci adalah individu yang karena kelahiran, bakat, atau melalui latihan rohani diberkati dengan kekuatan supernatural. Kekuatan supernatural ini dikonsentrasikan keberadaannya dan sekarang terletak di kuburannya. Itulah sebabnya, kultus orang suci dilaksanakan di kuburannya. Orang tidak berdoa bagi orang suci di rumah atau tempat lain, tetapi harus mengadakan perjalanan ke kuburan, demi sungguh hadirnya orang suci tersebut.

Kesadaran inilah yang ada di benak orang-orang yang berjalan jauh untuk berziarah ke kuburan Imam Husain as di Karbala pada yaumul arbain (hari ke empat puluh pasca wafatnya). Imam Husain adalah salah satu dari manusia suci dalam Islam khususnya mazhab syiah.

Mazhab syiah, dibandingkan dengan mazhab lainnya di dalam Islam, sangat terkenal mengkultuskan orang suci sebagai pemimpinnya. Imam-imam suci ini bagi masyarakat syiah bukan hanya pemimpin di dunia ini, tetapi juga di alam gaib. Mereka adalah perantara manusia untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Tidak ada beda antara hidup dan matinya. Sekalipun sudah meninggal, mereka tetap berkomunikasi dengan alam dunia dan menyaksikan perbuatan- perbuatan manusia. Karena itu tempat orang suci dikuburkan menjadi tempat yang diberkati. Oleh sebab itu, berziarah ke kuburan orang suci adalah tujuan penting. Dan salah satu pusat ziarah terpenting orang suci syiah adalah Karbala, Irak. Di sini dikuburkan Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib pasca mengalami pembantaian sadis oleh penguasa di zamannya.

Dengan kesadaran pentingnya ziarah, maka pembangunan fisik dan spiritualitas kompleks pekuburan orang suci menjadi urgen agar bisa menjadikan makam sebagai pusat kebudayaan yang tidak hanya memberikan nuansa mistis tetapi juga suasana ilmiah, politik, ekonomi, pendidikan dan tentu saja aroma cinta, sehingga akan terlihat hubungan antara manusia yang hidup dengan yang mati, di mana yang hidup dan yang sudah mati masih dapat “berdampingan” secara alami dan harmoni.

Satu hal yang menarik, dalam ziarah Arbain, ketika jutaan orang bergerak ke satu arah secara bersamaan dengan berjalan kaki sepanjang sekitar 80 km, banyak pula orang-orang yang melayani para peziarah dengan menyediakan makanan dan minuman. Orang yang ingin melayani peziarah terdiri dari berbagai kalangan tanpa memperhatikan lagi status sosial dan usianya. Mereka mempersiapkan minuman sepanjang jalan yang dilalui oleh para peziarah dan meminta setiap peziarah singgah untuk sekedar mencicipi air segar. Mereka yakin cicipan air para peziarah membawa berkah bagi kehidupan mereka. Mengapa air menjadi salah satu benda ritual penting dalam ziarah Arbain?

Ini bukan hanya soal bahwa peziarah yang berjalan kaki cukup jauh itu kehausan dan butuh minuman, tetapi air punya nilai historis dan teologis dalam ritual ziarah Arbain. Sebab, dulu Imam Husain as dan rombongannya membutuhkan air tetapi tidak ada yang menyediakannya. Kisah tragis pembantaian Abul Fadhl Abbas juga terjadi ketika ia berjuang mengambil air untuk keluarga Nabi saw. Begitu pula ketika Sayidah Zainab dan putri-putri Imam Husain melakukan ziarah Arbain pertama, dalam keadaan di tawan dan kekurangan air. Karena itu hari ini semua orang ingin menyediakan air untuk para peziarah Imam Husain as.

Jadi, air itu mengenangkan para peziarah pada duka Imam Husain yang kehausan di padang Karbala. Bahkan dalam salah satu pesan penting Imam Husain kepada semua pecinta sejatinya, yaitu “setiap kamu minum, ingatlah musibahku”.

Dikisahkan, sore hari pada 10 Muharram 61 H, Padang Karbala telah memerah karena tumpahan darah para syuhada Nainawa. Jasad Ali Akbar membujur kaku tersungkur dengan dada terbelah. Kedua tangan Abul Fadl Abbas tergeletak menjauh dari jenazahnya yang di sisinya ada gerabah air yang tertumpah. Tak ada lagi suara tangisan Ali Asghar yang kehausan karena sebatang anak panah telah menancap di tenggorokannya. al-Husain, Sang pemuda surga tersungkur karena tusukan tombak, panah dan pedang. Kepala sucinya sudah terpisah dari jasadnya dan ditancapkan di atas tombak manusia durjana. Beginilah nasib al Husain, putra Nabi yang mulia dan pusaka pengawal Alquran, dihinakan dan dibantai dengan kejam.

Ketika jasad-jasad mereka bergelimpangan tak dipedulikan, ruh mereka terbang menuju alam barzakh untuk bertemu Rasulullah saw, Imam Ali, dan Sayidah Zahra untuk melepas rindu sekaligus mengadu pilu. Hanya suara tangisan Zainab, Ruqayah, Atikah, Umum Kultsum, Fatimah, dan wanita-wanita para janda yang terdengar gemanya di antara hembusan angin sahara. Mereka keluar dari kemah untuk melihat apa yang terjadi pada jasad Al Husain cucu kesayangan Nabi saw. Sorot mata Zainab menatap tajam jasad-jasad syuhada Karbala, dan terpaku kaku ketika menyaksikan jasad Al Husain yang tanpa kepala tercabik-cabik dengan luka ada di sekujur tubuhnya. Zainab tertegun sesaat. Lalu ia menatap ke langit dan berkata dengan lirih :

Ya Allah, terimalah persembahan kurban kami semua.
Ya Muhammad, inilah Husain yang tersungkur di Karbala
Tubuhnya berlumur darah dan tercabik-cabik diinjak kuda.
Sementara para putri-putrinya tertawan dengan hina”

Bak kesurupan setan, pasukan Umar bin Saad, para durjana pecinta dunia ini menjarah harta keluarga nabi tanpa belas kasih. Mereka menarik dan merampas hijab para wanita suci Ahlulbait Nabi. Anting Fatimah dan Ummu Kulsum ditarik dengan kasarnya hingga robek telinganya. Perih yang tiada terkira. Tangisan sahut menyahut membuat semuanya larut dalam irama duka nestapa yang tak terkatakan pedihnya. Putri-putri Rasulullah saw dipaksa keluar tenda sambil menjerit histeris penuh ketakutan. Lalu tenda tempat berlindung mereka di bakar oleh tentara Umar. Para wanita ditawan dan digiring untuk dipersembahkan kepada penguasa durhaka di zamannya.

Sebelum arak-arakan tawanan ini berjalan, mendadak Sukainah berlari menuju jasad ayahnya. Ia peluk jasad Al Husain sambil menangis sedih menyayat hati. Dalam kesedihan yang mendalam , Sukainah pingsan tak sadarkan diri. Mendadak di telinganya terdengar suara ayahnya berbisik mengirimkan pesan kepada para pecintanya :

Syia’ti main syaribtum azbin fadzkuruni
aw sami’tum bigharabin aw syahidin fandubuni

“Wahai syiahku, saat kalian minum, ingatlah aku!
Atau jika kalian mendengar keterasingan atau kesyahidanku, ratapilah aku”

Sukainah selanjutnya juga mendengar rintihan-rintihan Imam Husain as sebagai berikut :

Aku adalah cucu Nabi
yang dibunuh tanpa ada dosaku
Dengan kuda mereka menginjak-injak diriku
Sekiranya kamu hadir dihari asyura dan melihatku
Bagaimana aku meminta air untuk putra kecilku
Tapi mereka tidak mengasihaniku
Bahkan, melontarkan anak panah menembus leher putraku
Sebagai ganti air segar untuk minumanku

Tragedi ini begitu memilukan
Sehingga berguncanglah kaki gunung Mekah yang berkilauan
Kecelakaan bagi mereka yang melukai hati rasul dan kemanusiaan
Wahai syiahku, laknatlah mereka pada setiap kesempatan.

Begitulah Imam Husain berpesan kepada kita orang orang mengaku sebagai syiah dan pecintanya melalui telinga Sukainah, Sang dewi Nainawa. Karena itu, ketika meneguk minuman yang segar, ingatlah bibir pecah Imam Husain yang menahan dahaga. Imam Ja’far Shadiq berkata, “Aku tidak pernah meminum air dingin kecuali aku mengingat Husain bin Ali”. Dalam riwayat lainnya Imam berkata, “Tidaklah seorang hamba ketika meminum air kemudian mengingat Imam Husain as lalu melaknat pembunuhnya kecuali dituliskan baginya seribu kebaikan dan dihapuskan darinya seribu keburukan”.

Mari minumlah air kita masing masing, mau air mineral, kopi, susu atau teh, tapi jangan lupa sambil mengenang derita al Husain dan ucapkan :

Allahummal’an qatalata al-Husain.
Fa la’anallahu man qatalak, wala’anallahu man dzalamak, wala’anallahu ummatan syami’at bidzalika faradhiyat bihi”

“Ya Allah laknatlah pembunuh al-Husain.
Semoga Allah melaknat pembunuh-pembunuhmu. Semoga Allah melaknat orang-orang yang menzalimimu. Semoga Allah melaknat orang yang mendengar (tragedi Karbala) lalu diam dan meridhainya”

Assalamu alal Husain
Wa ala Ali ibnil Husain
Wa ala auladil Husain
Wa ala ashabil Husain

☕☕
😭😭🌹🌹
Arbain 20/11/2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: