SABAR YA!


SABAR YA!

Seorang penjual daging datang kepada Imam Ali as. Dengan semangat dia menawarkan daging dengan kualitas super. Imam menjawabnya, “Aku tidak memiliki uang”. Si penjual berkata, “Aku akan bersabar menantinya.” Dia memberi kesempatan kepada imam untuk berhutang dan boleh membayar kapan saja. Namun Imam Ali berkata, “Aku pun akan bersabar untuk tidak memakan daging.”

Kisah singkat ini memberikan pelajaran betapa keluarga Rasulullah selalu mengalahkan keinginannya dengan kesabaran. Tidak pernah memaksa diri untuk memenuhi keinginan saat tidak mampu membelinya. Padahal beliau mampu untuk berhutang. Jadi Imam Ali as menasehati dirinya sendiri dengan menegaskan “Sabar ya wahai diri dari nikmatnya daging itu!”

Berapa banyak manusia yang dikejar-kejar karena tak mampu membayar hutang? Berapa banyak keluarga yang hancur karena pasangan yang selalu memaksa diri untuk mendapatkan sesuatu yang tak mampu dibeli? Apalagi dengan maraknya barang-barang yang serba kredit. Hanya dengan uang kecil mampu membeli barang yang mahal. Kemudian dia akan kebingungan di setiap bulannya.

Kita harus mendidik keluarga untuk belajar bersabar. Belajar untuk tidak memaksa diri memenuhi semua keinginan. Belajar untuk tidak iri kepada orang lain. Belajar untuk hidup sesuai dengan kemampuannya. Karena tanpa kesabaran, masalah akan semakin bertumpuk tanpa ada solusi. Karena itu kalau lagi jalan-jalan terutama di pusat perbelanjaan sering-seringlah mengucap dalam hati “Sabar ya, barang itu belum kita butuhkan!”.

Suatu hari ada seorang ibu yang menangis karena putranya meninggal. Imam membiarkan dia menangis karena wajar seorang ibu menangis saat ditinggal orang yang dia cintai. Namun tangisan itu semakin menjadi-jadi disertai umpatan yang buruk. Seakan dia tidak terima dengan ketentuan Allah ini.

Akhirnya imam menasehatinya dengan berkata, “Jika kamu bersabar maka anakmu tetap akan meninggal dan engkau mendapatkan pahala. Namun jika kamu gelisah dengan berbagai umpatanmu itu, anakmu tetaplah tidak bisa hidup dan kamu akan berdosa.” Jadi mana yang lebih baik sabar dan berpahala atau mengumpat dan berdosa yang hasilnya sama : anaknya tetap meninggal dunia.

Artinya, saat kita mendapat musibah lalu berteriak menyalahkan sana sini, bukan berarti musibah itu akan berubah. Teriakan dan umpatan itu tidak akan merubah apapun. Namun jika kita bersabar, itu sudah membuka pintu jalan keluar. Setelah hati mulai tenang, barulah kita mulai mencari jalan keluar karena Allah selalu bersama orang yang sabar. “Tetapi jika kamu bersabar, itu lebih baik bagimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (An-Nisa’ 25). Karena itu jangan bosan menasehati orang-orang dengan kalimat singkat yang sakti itu: “Sabar ya!” karena Tuhan mencintai orang orang yang sabar. (CR14, liputanislam.com)

%d blogger menyukai ini: