MALAM QADAR KE-2


13438793_10205590560958293_4612853045963230972_n

Wajah suci semakin pucat luka kepala masih menganga darah terus menetes menembus celah perban penutup luka menganga, Deraan racun pedang sang durjana menjalar hingga ujung  kaki membuat tubuh Al-Murtadha berubaah pucat membiru, luka hatii tak mampu menahan  airmata sang pemuda syurga tanpa sadar jatuh mengenai wajah panglima pemberani hingga memaksa sang Singa Allah membuka mata dan berkata lirih

 “wahai Anakku Hasan… apakah engkau menangis aku merasakan air hangat menerpa wajahku”  senyum yang tak pernah lepas dari hati meski bibirnya  tak mampu lagi menampug sungging,

dengan terisak sang pemuda syurga menjawab “iya wahai Ayahku .. aku menangis…” jawab Imam Hasan menjawab dengan deru gemuruh yang mampu mengeringkan sungai efrat.

“bersabarlah wahai anakku…” hanya itu kata yang  mewakili ketegaraan yang Washi kemudian sebelumnya larut dalam pingsaannya untuk seberapa saat.

Sementara tangan-tangan dekil fakir miskin Kufah berdatangan kerumah sang pemimpin dengan wajah sayu membawa wadah-wadah  usang berisi susu hasil mengumpulkan dari beberapa tetes, ditemani wajah-wajah polos pilu sang anak  yatim mereka menyampaikan susu untuk menawarkan racun pedang sang durjaana “Ibnu  Muljam”, dalam sayatan pilu hati mustadafin kufah ”Wahai Imam kami jangan tinggalkan Kami” masih terbayang oleh mereka pemimpin yang senantiasa memberi makan mereka saat mereka di hujami Rasa lapar  yang sangat…..

Detik waktu terasa cepat wajah suci semain pucat kain pembalut semakin berwarna pekat hingga tak memiliki arti, luka itu terlalu dalam kata Sang Tabib cemas, sayatan itu terlalu menghujam hingga akhir menjelang syahid tak ada yang bisa membedakan antara wajah dan pembalut luka semua berwarna sama, warna kuning pucat darah terserang racun, aduhai pilu semesta tak terkira saat mata imam berpamitan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya untuk segera bertemu dengan Al-Musthafa

“aduhai Singa Allah perkasa kini ragamu lelah, menopang  jasadmu yang  telah rebah derai tangis pilu seisi semesta pecah, air mata fakir miskin, anak  yatim dan janda tua tumpah, Almusthafa telah menyambutmu bersama Penghulu perempuan semesta Fatimah, nafas tenang iringi syahadah, imamku telah usai tunaikan Hujjah”

imageuis

—####—–

Petikan singkat kisah tragis yang menimpa Imam Ali Bin Abi Thalib di malam ke 21 Ramadhan 1400 tahun silam setelah bertahan dari deraan racun pedang Ibnu Muljam setelah 2 Hari berjibaku dengan luka dan racun, Akhirnya sang Putera Ka’bah tersebut harus mengehembuskan nafas terakhir sebagai tanda bahwa sang Imam telah selesai menunaikan tugasnya sebagai Washi, Khalifah Pengganti Nabi.

Masih dalam rangkaian majelis malam qadar di  Yayasan Islam Abu Thalib Sumatera Utara (YIATSU) pada malam 21 Ramadhan 1437 H tepatnya tanggal 25 Juni 2016 kali ini di isi dengan Tausiah yang mengangkat tema “bekal sambut lailatul Qadar” juga rangkain pembacaan doa-doa terutama doa Jausan Kabir yang di  Pimpin oleh Ust. Zefri Ansari S.Hi M.Hi,  Ust. Abdul Azis Baeha SE dan Ust. Muhammad Rusdi S.Hi.

13552677_1144832218908064_716089178_n

Dalam tausiah di malam ke 21 ini Ust. Candiki Repantu menyampaikan pesan bahwa saling memaafkan di antara manusia adalah bekal Utama dalam menyambut malam Qadar dan malam qadar menjadi tidak berarti jika kita menyambutnya dengan  menyimpan dendam dan kebencian terhadap saudara meski sebesar biji zarah sekalipun, ketidak sempurnaan itu di karenakan rahmat tidak akan turun pada orang yang masih memiliki dendam terhadap saudara muslimnya oleh sebab itu sebaiknya dalam menyaambut malam Qadar sebaiknya kita saling meminta dan memberi maaf agar kita semua memperoleh rahmatnya Allah  SWT dan mencerap madu laylatul Qadar. (N. Silabuhan)

13553157_1144833215574631_1786769572_n.jpg

%d blogger menyukai ini: