MAWAR DASA WARSA


22Januari  2006

Kala pelangi menghias ufuk langit barat Sumatera

Kala tanah basah terguyur rinai hujan awal tahun

Kala kaki-kaki bergegas menyambut fajar hari

Kala mawar kuncup mulai rekahkan merahnya

 

Alhamdulillahwashalawatu ‘alarasulillah,

Bayi mungil lahir di tengah derai rindu sang pecinta

Kerinduan tumpah ruah di dada para hamba
Berserulah seorang penyeru dari rumah itu

Wahai….. dia telah lahir……dia telah lahir…..
Wahai……dia telah hadir…. Dia telah hadir…..

Orang-orang berteriak lantang mengalahkan hallilintar senja:
“Apa itu?” tanya penanya yang hanya sekedar nanya
“Apa?” tanya pencela yang hanya pandai mencela

sedang jiwa-jiwa pendamba mampu menangkap kabar suka:
“inilah wadah mahabbah ahlul bait tercurah,
disinilah astrolabe munculnya bintang timur yang menutup malam panjang penantian
disinilah sungai saukan Pipit Sang Pemadam Api Namrudz.

 

‘Ala An-Nabi Wa Alihi Shalawat !

Mari aku timang tubuh mungilmu yang lucu

Mari aku susui lidahmu dengan Nahjul Balaghah

Mari aku buatkan ayunan berhias kuntum-kuntum mawar

Mari bergantian memeluk dan mencium aroma wangi surga

 

Inilah bayi mungil Abu Thalib

Pelepas dahaga dari haus wewangian Al-Musthafa

Pelipurlara pencari Ilmu Al-Murtadha

Pelindung dingin pencari cinta Al-Husain

Penghapus keringat lelah penanti Al-Qaim

***
22 Januari 2016

Satu Dasawarsa telah dijalani
Kala puluhan asa telah terpenuhi
Ratusan ancaman yang singgah meski tak lampaui pagar telah dialami

Ribuan gelombang pecah pekakkan gendang telinga telah dilalui

Jutaan cibiran lalu lalang di mata setiap saat dengan santai disikapi

Namun mercusuar Ahlul Bait tetap kokoh berdiri

Di Sini…….

 

Inilah Abu Thalib
cahayacintadaripecinta

Rumah pengikut ajaran suci Nabi Mulia

Rumah kerinduan cinta bunda Fatimah Az-Zahra

Rumah ziarah Imam-Imam suci Ahlul Bait

Rumah cintaku terpupuk rindu cahaya maksumin

 

Dasawarsa telah dilewati

Melintasi 10 kali putaran musim dunia

Menggoreskan tinta di kertas kering sejarah

Menuju satu keinnginan di masa mendatang

Cinta kami menjulang ke menara surgawi

 

 

Wahai tuanku Al-Murtadha yang mulia

Inilah kami yang lemah di antara syiahmu yang kuat

Inilah kami yang pandir di antara syiahmu yang cerdas

Catatkan keringat kami di dahan cintamu

Seperti Ibrahim mencatat si fakir pipit dalam lembar para pecintanya.

 

Aku dan Abu Thalib tak mau berhenti

Sebab sekarang bukan waktunya berhenti

Jalanan masih panjang melintasi seramnya rimba

Meski pincang kakiku, camping pakaianku, ringkih tubuhku

Tetap kakiku kuayunkan

Melangkah raih cinta Al-Husain

Siaga menanti panggilanShahibuzzaman.

 

Hari ini kukepalkan tangan titah suci Karbala

Untuk lewati samudera duri perobek citra hati

Untuk lalui gurun pengering rasa rindu;
meraih

Cinta Al-Musthafa

Keluasan Al-Murthada

kegigihan Fatimah Az-Zahra

kesabaran Al-Mujtaba

kemuliaan Sayyidus Syuhada

kesyahduan buliran sujud As-Sajad,

kedalaman Al-Baqir,

kebenaran As-Shadiq

keramahan Al-Khadzim,

pelukan Ar-Ridho,

kemurahan Taqi Al-Jawad,

tunjuk ajar Ali Al-Hadi

kasihsayang An-Naqi Al-Askari

Pembelaan Al-Qaimul Mahdi Al-Muntazar.

 

Inilah kami wahai Tuan Abu Thalib pelindung Nabi
Terimalah salam ta’dzim kami

Demi keteguhan hati mutiara-mutiara Bani Hasyim

Perkenankan kami menyandang namamu yang mulia,

Kami bertekad mengubah sejarah,

Tak sudi larutdalamsejarah.

– Puisi ini, setelah sedikit dipermak oleh Syekh Bahlool Al-Majnuny didedikasikan sebagai Kado Ulang Tahun dari Nezar Silabuhan si Tukang Kebon Yayasan untuk Yayasan Islam Abu Thalib, yang katanya, “ini yayasanku”.

%d blogger menyukai ini: