IMAM RHIDA AS : SANG MATAHARI KHURASAN


Oleh : Candiki Repantu

imam ridhaSyaikh Shaduq dalam kitabnya ‘Uyun al-Akhbar al-Ridha menyampaikan riwayat ini : “…dari Ali bin Maitsam, dari ayahnya yang mengatakan, “Saya mendengar Najmah, ibunya Imam Ridha, berkata, ‘Ketika aku mengandung putraku Ali, aku tidak merasakan beban apa pun. Aku mendengar tasbih, tahlil, dan puji-pujian dari perutku ketika aku tidur. Aku khawatir mendengar suara-suara tersebut. Namun saat terbangun aku tidak mendengar suara apapun. Ketika lahir, dia meletakkan kedua tangannya di atas tanah, mengangkat kepalanya ke arah langit dan menggerakkan bibirnya mengucapkan sesuatu.’ Ayahnya, Musa bin Ja’far as datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Najmah! Selamat untuk anugerah ilahi ini yang Allah berikan kepadamu.’ Kemudian aku membungkus bayi itu dalam balutan kain putih dan menyerahkannya. Imam Kazhim as mengumandangkan azan di telinga kanannya dan ikamat di telinga kirinya. Kemudian, beliau meminta dibawakan air dari sungat Efrat dan memberi minum sang bayi (Imam Ridha) sebagian darinya. Lalu dia memberikan kembali bayi itu kepadaku dan berkata, ‘Ambillah! Dia adalah baqiyatullah di muka bumi’.”

Imam Ali Ridha bin Musa dilahirkan di Kota Madinah, pada 11 Dzulqaidah 148 H, tepat pada tahun wafatnya Imam Ja’far Shadiq as, kakek kandungnya. Berasal dari keturunan yang suci dan disucikan, yang menaiki tangga kemuliaan dan kesempurnaan. Putra keturunan suci ini merupakan puncak bagi seluruh dimensi karakter manusia, dalam pemikiran dan perasaan serta perbuatan, dia adalah bintang gemintang yang bersinar dalam perjalanan manusia, teladan yang agung dalam sejarah. Dia telah berpasrah diri kepada Allah dan mengikuti jejak Rasulullah saw, serta menjadi padanan kitab Alquran yang mulia. Kesempurnaan dan kesuciannya tidak ada bandingnya di alam semesta, bakan para malaikat sekalipun tak mampu mencapainya.

Ayahnya adalah Imam Musa al-Kazhim bin Ja’far as dan Ibunya adalah ummu walad, yang dipanggil dengan nama-nama yang beragam yaitu Najmah, Arwa, Sakan, Saman, dan Tuktam. Najmah dan Tuktam adalah nama yang masyhur dikenal oleh masyarakat Iran. Ketika melahirkan Imam Ali Ridha, Imam Musa Kazhim as memanggilnya dengan nama Thahirah (perempuan suci).

Kemuliaan Imam Ali Ridha di sisi syiah bisa dilihat dari gelar-gelar yang diberikan kepadanya, seperti ash-Shabir (yang sabar), az-Zaki (suci), al-Wafi (yang mulia), Sirajullah (cahaya Allah), Qurratul Ainil Mukminin (cahaya mata orang mukmin), Makidatul Mulhidin (penakluk orang ateis), ash-Shiddiq (yang jujur terpercaya), dan al-Fadhil (yang utama). Adapun panggilan beliau yang populer adalah Abul Hasan Ali al-Ridha.

Suatu ketika Bizanthi menyampaikan kepada Imam Muhammad al-Jawad, putra Imam Ali Ridha, bahwa sebagian orang mengira, al-Makmun memanggil Imam Ali dengan panggilan al-Ridha karena dia menyukai Imam dan memilihnya sebagai putra mahkota. Imam Jawad as membantahnya, “Demi Allah! Mereka adalah para pendusta. Allah Swt yang menamakannya al-Ridha, karena dia diterima oleh Allah Swt di langit-langit-Nya, dan dia diterima oleh Nabi-Nya dan para imam di bumi-Nya.” Bizanthi mengatakan, “Bukankah ayahmu dan para datukmu diterima oleh Allah, Nabi, dan para Imam?” Imam Jawad as menjawab, “Ya, mereka diterima.” Dia kemudian bertanya, “Lantas mengapa hanya ayahmu yang dipanggil dengan sebuatan al-Ridha sementara mereka tidak?” Maka Imam Jawad as mengatakan, “Itu karena para sahabat dan para pengikutnya serta para musuhnya menerimanya, sedangkan hal ini tidak pernah terjadi terhadap para datukku. Karenanya, dia adalah orang satu-satunya yang dipanggil dengan sebutan al-Ridha.”

Selamat atas Miladnya Imam Ali Ridha as yang kehadirannya di Thus menjadi cahaya mercusuar yang menerangi setiap sudut kota, gunung batu, padang pasir, lembah, sungai, hingga relung-relung hati para pecinta keluarga Nabi. Dialah Sang Matahari Khurasan!

%d blogger menyukai ini: