Lahirnya Husain, Ksatria Tanpa Kepala


Oleh  Candiki Repantu

6Di Madinah, dalam sebuah rumah yangsangat sederhana, dengan luas sekitar 15 m (diperkirakan berukuran panjang 4,6m, lebar 3,4 m dan tinggi 3,15 m), yang beratapkan pelepah kurma denganbatangnya pula sebagai tiang penyangga, sedangkan dinding-dindingnya terdiridari susunan batu atau tanah liat yang dikeraskan, mendapatkan berkah dancahaya rahmat dengan lahirnya seorang bayi nan indah tepat tanggal 3 Sya’ban 4H.

Suasana kota Madinah semakin bersinar,rumah kenabian harum semerbak, Nabi dan keluarganya serta masyarakat Madinahmenyambut lahirnya seorang pemimpin pemuda surga, putra pemimpin orang yang takwa,Ali bin Abi Thalib, dari rahim wanita penghulu semesta, Fatimah az-Zahra as.Bayi mungil ini, berdasarkan wahyu yang diterima oleh kakeknya, diberilah nama al-Husain.Secara fisik dikatakan bahwa Imam Hasan menyerupai Nabi dari kepala hinggadada, sedangkan Imam Husain menyerupai Nabi dari dada hingga kaki.

Itulah al-Husain pewaris tahta kepemimpinanumat sejagat. Darinyalah manusia-manusia teladan abadi lahir untuk menjadipenjaga syariat Sang Nabi. Sayidah Fatimah mengisahkan, “Rasulullah saw menemuikuketika aku baru melahirkan al-Husain. Aku serahkan al-Husain kepada beliaudalam sebuah kain yang berwarna kuning. Rasulullah saw melemparkan kain kuningitu dan mengambil sebuah kain yang berwarna putih dan membalut bayi al-Husaindengan kain putih itu. Setelah itu, Rasulullah saw bersabda, “Ambillah bayiini, wahai Fatimah! Sesungguhnya dia adalah seorang imam, putra dari seorangimam, dan ayah sembilan orang imam, dari sulbinya akan lahir imam-imam yang saleh dan yang kesembilan dari mereka adalah al-Mahdi”.

Itulah Husain, yang namanya diwahyukan Tuhan, Imam Sajjad bertutur tentang kelahiran ayahnya, “Tatkala al-Husain lahir, Allah Yang Maha Tinggi mewahyukan kepada Jibril bahwa telah dilahirkan seorang anak bagi Muhammad, maka turunlah dan sampaikan selamat kepadanya, dan katakan,“Sesungguhnya kedudukan Ali di sisimu seperti kedudukan Harun di sisi Musa, oleh karena itu, namailah dia dengan nama putra Harun”. Jibril pun turun menyampaikan salam Tuhan. Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk menamainya dengan nama putra Harun.” Rasulullah bertanya, “Siapa nama putra Harun?” Jibril menjawab, “Syubair”. Rasulullah berkata lagi, “Aku adalah orang Arab”. Jibril menjawab, “Namailah dia al-Husain”.

Itulah al-Husain, bukan orang sembarangan.“Suatu hari”, kenang Bara bin Azib, “Aku melihat Rasulullah menggendong Husain sambil berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku menyayanginya, maka sayangilah dia”, Dalam riwayat lain, disebutkan Rasul bersabda, “Husain dariku dan aku dari Husain, Allah menyintai orang yang menyintai Husain” (Mizan al-Hikmah)

Namun, berbeda dengan miladnya Nabi, Imam Ali, Fatimah, dan Imam Hasan, memperingati miladnya Imam Husain memiliki kekhasan tersendiri, yaitu jika setiap miladnya para manusia mulia lainnya disambut dengan riang gembira, tetapi kelahiran Husain disambut dengan deraian air mata.

Ummul Fadhl binti al-Harits meriwayatkan bahwa suatu hari ia datang menjumpai Rasulullah saw untuk mengabarkan mimpi yang dialaminya. Nabi bertanya, “mimpi apakah itu?” Ummul Fadhl menjawab,“sungguh mengerikan ya Rasul”. Rasul bertanya lagi, “Mimpi apakah itu?” Ummul Fadhl pun menjawab, “Aku bermimpi sepenggal jasad yang terpotong diletakkan dipangkuanku”. Nabi menenangkannya, dan bersabda, “wahai Ummul Fadhl, itu adalah mimpi yang indah, insya Allah, Fatimah akan melahirkan seorang anak dan anak itu akan berada dalam pangkuanmu”.Apa yang diramalkan terbukti, Fatimah melahirkan Husain, dan diletakkan di pangkuan Ummul Fadhl.

“Suatu hari”, lanjut UmmulFadhl, “aku masuk menemui Rasulullah dan menyerahkan al-Husain ke pangkuan beliau, ketika aku menoleh, aku melihat kedua mata Rasulullah mengucurkan airmata. Aku berkata, “Wahai nabi Allah, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan,apa yang terjadi?” Nabi saw bersabda, “Jibril datang menjumpaiku dan mengabarkan bahwa kelak umatku akan membunuh putraku ini.” Aku bertanya, “Putra anda ini”. Nabi saw bersabda, “Ya! Dan Jibril pun membawakan untukku segenggam tanah merah (tempat terbunuhnya) al-Husain.” (lihat al-Hakim, al-Mustadrakjuz III : 176)

Jadi, Nabi berduka dan menangisial-Husain. Inilah sunnah fi’liyah yang dipraktikkan Nabi. Dan hal itu dilakukan Rasulullah setiap ada kesempatan dan di berbagai tempat. Tradisi menangisi al-Husain ini menjadi tradisi kenabian dalam setiap memperingati miladnya sang ksatria tanpa kepala.

Perhatikan laporan dari al-Khawarijmi al-Hanafi berikut ini, “Ketika al-Husain berusia satu tahun, turunlah dua belas malaikat menemui Rasulullah dengan wajah memerah. Mereka membentangkan sayap-sayap sambil berkata,‘Wahai Muhammad, putramu al-Husain akan terbunuh seperti tebunuhnya Habil oleh Kabil,dan ia akan diberi pahala seperti Habil, sedangkan pembunuhnya akan menerima dosa seperti dosanya Kabil’. Para malaikat di langitpun turun semuanya untuk menyampaikan belasungkawa kepada Nabi atas apa yang akan menimpa al-Husain dan mengabarkan pahala yang akan diberikan untuk al-Husain serta menyerahkan tanah al-Husain, dan Nabi saw berdoa, “Ya Allah hinakan orang yang mengabaikan pembelaan terhadap al-Husain dan bunuhlah orang yang membunuhnya, dan jangan beri kesenangan pada nikmat yang diperolehnya”

“Dan ketika al-Husain berusia dua tahun”, lanjut Khawarijmi, “Nabi saw sedang dalam perjalanan, tiba-tiba beliau berhenti dan mengatakan inna lillahi wainna ilaihi rajiun, sambil kedua mata beliau meneteskan air mata. Ketika ditanya, beliau menjawab, ‘Jibril  mengabarkan kepadaku tentang sebuah daerah di sisi sungai Efrat yang dinamai Karbala, yang di sanalah putraku al-Husain putra Fatimah kelak akan dibunuh”

Sebab itu, gelar Imam Husain adalah Sayyid al-Syuhada, pemimpin para syahid. Gelar mulia ini disematkan Nabi, bukanlah sekedar penghias nama, tapi fakta sejarah yang tak mungkin dihilangkan—meskipun sering dilupakan— Pada 10 Muharram 61 H, di Padang Tandus Karbala, Imam Husain beserta keluarga dan sahabatnya di bantai dengan keji oleh segerombol manusia atas perintah Yazid bin Muawiyah. Peristiwa ini dikenal sebagai Asyura.

Sebab itu, jika Sang Nabi menangisi al-Husain 50 tahun sebelum peristiwa itu terjadi, lantas bagaimana dengan kita yang mengetahui peristiwa itu secara nyata? Mengapa kita tidak menangisi al-Husain? Jika tangisan ini dianggap bid’ah, biarkanlah air mata ini kelak menjadi saksi dan hujjah di hadapan Allah dan Rasul-Nya serta Imam Ali dan Bunda Fatimah, bahwa kita bersedih untuk al-Husain karena kecintaan yang tulus kepadanya. Karena, pada hari ini, ketika lahirnya diperingati, kita ingin bergabung bersama kafilah duka suci Sang Nabi untuk menangisi al-Husain putra Ali.

Iklan
%d blogger menyukai ini: